Diam Ku

41 2 0
                                        

Aku melihatmu dalam kegelapan. Wajahmu memancarkan cahaya, sungguh menawan. Hingga menatapmu pun aku tak mampu. Aku tetap di sini. Menatap punggungmu yang gagah. Berharap bisa memeluk mu dari kejauhan. Dan membisikanmu sebuah kata yang tak mungkin kau mengerti.

Andai kau tau. Aku di belakangmu. Aku wanita yang melihatmu terluka. Aku wanita yang melihatmu jatuh. Aku ingin merengkuhmu. Tapi, apa dayaku. Memanggil namamu pun, mati lidahku.

Kau berdiri di seberang jalan. Dengan wanita yang kau sebut kekasih. Aku sungguh iri, melihatmu bersamanya. Kau terlihat semakin bercahaya. Aku bertanya pada diriku. Jika aku bersamamu kelak, apakah kau juga akan semakin bercahaya? Atau malah meredup? Ah itu pertanyaan yang tak perlu ada jawabannya.

Ku berbalik. Aku tak ingin hatiku semakin terluka. Melihat kau bermesraan. Aku berhenti. Ada yang menghadangku. Dia memelukku. Dan membisikan sesuatu.

"Cinta bukan bagaimana caranya kita memiliki, tapi bagaimana kita mengiklaskan. Kau mengerti?"

Dia melepaskan pelukannya. Tersenyum.

Dia sahabatku. Pria tampan, baik hati. Mikka Abdulah. Dia satu-satunya orang yang mengerti aku. Dia yang tau bagaimana menghiburku.

Aku tersenyum padanya. Dia mengajakku pergi.

"Sudahlah, hampir 4 tahun kau melakukan ini. Apa kau tidak lelah?"

Aku diam, hanya menggelengkan kepala.

"Come on Kia, hidup harus tetap berjalan. Kau tak boleh seperti ini terus. Apa perlu aku bicara dengan Haikal soal ini?"

"JANGAN!!"

Dia menutup kupingnya.

"Udah biarin aja. Ini bukan soal dia. Ini soal hati ku!!"

Aku bentak dia. Dia terkejut. Lalu pergi meninggalkanku.
Senja berganti gelap. Aku masih di sini. Di sisi gelap yang lain. Aku melihatmu tersenyum, tertawa. Di sebuah warung kopi dengan teman-temanmu. Wanita yang kau panggil kekasih itu datang dengan teman kencannya. Kau tau itu. Tapi kau diam dan memilih pergi. Aku ada di sana tepat di sampingmu. Kau tak mau melihatku. Sekadar melirik pun tidak. Sungguh sakit.

Aku juga pergi. Aku melirik ponselku. Ada yang aneh. Biasanya dia menghubungiku. Tapi kali ini tidak. Apa aku kemarin terlalu keras padanya?. Aku pergi ke rumahnya. Aku melihat siluet cungkring di sana. Aku kirimi pesan.

"Mikka aku di luar, aku mau bicara."

Beberapa saat kemudian dia keluar dari rumahnya.

"Ada apa?"
"Aku mau minta maaf soal kemarin."
"Kemarin apa?"
"Aku sudah terlalu keras padamu. Maaf, Mikka, bukan maksudku membentakmu."
"Iya nggak apa-apa, aku mengerti. Sudah malam, ayo ku antar pulang."

Aku sedikit lega. Tapi hatiku belum. Aku masih memikirkan Haikal. Pria yang hingga saat ini tak pernah menyebut namaku. Pria yang hingga saat ini tak pernah menyapaku. Aku benar-benar bodoh. Aku melupakan sahabatku. Dia yang selalu ada. Dia yang membagi senyumnya denganku.

Aku melihatmu lagi. Kali ini dengan keadaan berbeda. Tidak tersenyum atau pun tertawa. Kau duduk di pojok toko. Dengan sebotol minuman keras. Tanpa pikir panjang, tanpa rasa takut, tanpa ragu. Aku menghampirimu. Merebut botol haram itu. Kau menegurku, dan baru kali ini kau memanggil namaku.

"Hey Rezkia, mau apa lu kesini!! pergi sana. Ini bukan tempat lu."

Kau mengusirku dengan setengah mabuk. Aku berusaha menyadarkannya. Ku ciprat-cipratkan air mineral yang ku bawa.

"Hey apa-apaan sih lu. Pulang sana."

Kau mendorong ku hingga hampir jatuh. Ku pejamkan mata. Tubuh ku melayang. Apa aku mimpi?. Ku buka setengah mata ku, Mikka menangkap tubuhku. Aku tidak mimpi.

"Ayo pulang, tak seharusnya kau di sini Kia!"

Nadanya sedikit keras. Air mata ku luluh seketika.

"Hapus air matamu. Dia tak pantas menerima ini darimu".

Aku mengusapnya.

"Kau lihat!! seburuk apa dia. Apa kau masih mau dengannya?"

Aku tetap saja diam. Aku pulang. Aku tutup rapat-rapat pintu kamarku. Duduk termenung di sudut kamar. Sedikit sesegukan, air membasahi pipiku. Berpikir lagi tentang perkataan Mikka. Apa aku harus melepaskan dia. Pria yang senyumnya menghiasi mimpi-mimpiku. Pria yang sedikit memberiku harapan. Pria yang selama 4 tahun memberiku semangat untuk terus maju. Pria yang lebih banyak mengacuhkanku.

Ya, aku sudah tau jawabannya. Aku mengambil sebuah kertas. Ku tulis dengan hati.

"Assalamualaikum, Haikal. Maaf sebelumnya. Aku menyalahkanmu atas smua luka-luka yang kuterima. Aku tau, aku hanya orang asing bagimu. Aku hanya ingin kau tau saja. Aku menyukaimu. Dalam diamku ini, aku menyimpan semuanya. Sedihku, gundahku, senyumku, tawaku, sayangku dan cintaku. Semua tersimpan rapi di sini. Dan kini saatnya aku melepaskan semuanya. Aku sudah siap. Aku pergi. Jangan hiraukan aku. Maaf dan terima kasih. Wassalamualaikum. Rezkia."

Aku bergegas ke rumah Mikka. Aku melihat siluet cungkring itu. Dia ada di rumah. Ku kirimi dia pesan.

"Mikka aku di depan. Keluar sob."

Beberapa detik kemudian dia keluar dari rumahnya.

"Ada apa sob."

Ku serahkan secarik amplop berwarna biru.

"Apa ini?"

"Tolong kasih ini ke Haikal ya."

"Sudah siap beneran?"

"Ya, sudah. Ooh ya besok aku pindah ke Yogya. Aku mau pergi."

Gurat wajahnya berubah sedih.

"Kamu benar-benar mau pergi? karna Haikal?"

"Ya bukan cuma itu Mikk, kakekku di sana sendirian. Aku juga mau nimba ilmu di sana". "jika itu mau mu, yah apa boleh buat". "jangan marah Mikka, aku akan sering-sering telfon kamu kok. Jangan lupa surat nya. Aku pulang dulu. Bye".

Sedikit lega. Dan itu lah keputusan ku. Aku pergi. Dengan diam ku. Mungkin kau akan merindukan nya. Selamat tinggal Haikal. Selamat tinggal Mikka.

-Selesai-

Diam KuStories to obsess over. Discover now