Prolog

120 9 2
                                        

5 YEARS AGO

'Tok... tok... tok...'

Tidak, tidak, tidak, tidak.

"Aku tau kau di dalam, anakku,"

Oh tidak.

'BRUK'

Ayahku menemukanku.

"Bersiaplah menemui tuhan, sayang."

Aku sangat ketakutan. Aku memeluk erat boneka kesayangan ku.

Aku menangis, melihat ayahku membawa sebilah pisau, dan di tangan kiri nya...

...Kepala ibuku.

"Aku hanya membutuhkan kepala mu untuk melengkapi koleksiku." Katanya sambil menyeringai. Aku benar benar putus asa. Aku tidak mempunyai siapa siapa lagi. Aku tidak mempunyai tujuan hidup. Aku ingin mati.

"Ambil lah..." kataku.

Ayahku mengangkat pisau nya.

"Tapi, arwahku akan tetap di rumah ini, aku tidak akan pernah memaafkan mu hingga kapanpun. Aku... tidak rel--"

"Banyak omong!"

Ayahku menghunuskan pisau tajamnya. Inilah akhir hidupku... jangan pikir aku akan tenang.

I'll be back soon.

To Be Continued

___

Haii!
Makasi banget yang udah lirik cerita ini yaa- walaupun dilirik doang yaa gapapa :'3
Btw, gue masi pemula, maklumin yaa kalo cerita ini absurd/ gaje xD btw gue ga bikin ini cerita sendirii, gue bikin cerita ini berdua bareng temen. Kritik dan saran kalian bener bener gue butuhin, tapi kritiknya jangan yang nusuk nusuk amat yaa entar gue nya baper :'v modusin gue juga boleh kok! //plak K, see ya!

The PencilUnde poveștirile trăiesc. Descoperă acum