DINTA'S STORY PART 15

130 1 0
                                        

"Yeay! Finished!" Teriakku kegirangan, karena bubur buatanku sudah jadi. 

Aku buat bubur ini, sungguh dengan kasih sayang. Aku benar-benar niat membuat bubur ini, walaupun pusing nya makin jadi-jadi. 

Aku berjalan dengan sangat hati-hati menuju kamar Bisma dengan tangan membawa semangkuk bubur hangat. 

Saat ditengah perjalanan, betapa malangnya aku bertemu dengan Shinta. Tuhan.. Mau apa lagi sih dia?! 

"Sini buburnya!" Shinta menarik dengan kasar bubur buatanku dari tanganku. 

"Eh!! Jan! Ini buat Bisma." Aku kembali merebut bubur nya.

"Udah sih, gue aja yang ngasih. Lagipula, gara-gara lo juga kan Bisma sakit kegini. Lo itu GAPANTES buat Bisma!" Bentak Shinta dan membuatku geram.

"Jangan dong pliss. Gue buat ini susah payah tauu!!!" Aku berusaha kembali merebut buburnya dari tangan Shinta.

"Mau susah payah kek, mau jungkir balik kek, mau masuk got kek, gue gapeduli. ¬_¬"

"Ayodong plis balikiinn!!!" Pintaku yang hampir menangis. Sungguh, aku buat itu susah payah. 

Aku terus berusaha merebut buburnya dari tangan Shinta.

"Udahlan, Din, Shinta aja yang ngasih makanannya buat Bisma. Lagipula kamu kan yang buat Bisma sakit." Saut nenek tiba-tiba. 

"Tapi, nek---" 

"Gaada tapi-tapian! Sudah sanah Shinta kasih makanannya ke Bisma. Suapin sekalian, pasti dia masih lemas." Kata nenek.

Sakit! Tuhan... Berilah hambamu kesabaran menghadapi semua rintangan didunia ini... Saya tau, ini pasti salah satu ujian dari Engkau buat hubungan aku dan Bisma, kan? Batinku dalam hati.

Tetap saja sakit!

Bayangkan saja, kamu lagi sakit, pusing merajalela, keringat dingin terus mengucur dari pelipismu, tapi kamu harus masak buat seseorang yang sangat kamu cintai, kamu juga merasa bersalah karena sudah membuatnya menjadi sakit, kamu dengan sekuat tenaga yang tersisa memasak makanan untukknya. Hingga akhirnya, masakan mu jadi. Kamu buat itu dengan kasih sayang yang tulus dari hatimu yang paling dalam. Kamu dengan lemas membawa makanan itu ke org yang kamu cinta, saat ditengah perjalanan, makanan itu dengan seenaknya diambil oleh orang yang tak punya belas kasihan. Dan, tambah mirisnya nenek kamu sendiri malah mendukung org yang tidak punya hati itu! Bayangkan! Betapa sakitnya aku! 

Shinta tersenyum penuh kemenangan. Aku masih mematung ditempatku. Menahan sakit dan pedih.

"Woy! Jan sedih dong, Din! Gue tau kok itu sakit. Gue juga tau, lo buat bubur itu susah payah, kan? Lo juga buat bubur itu dengan kasih sayang, kan? Gue tau, Ta.." Ujar Intan yang datang tiba-tiba dan memegang kedua pundakku. 

Sebutir air mata jatuh ke pipi ku. Tapi, segera aku hapus. Aku pikir, buat apa aku menangis? Menangis tidak ada gunanya! Hanya bisa membuat fisikku tambah parah.

"Lo yang sabar ya, Ta, sama Ratu Iblis itu. Gue yakin, pasti dia bakal dapet balesannya.." Kata Intan lagi sambil merangkulku.

"Iya, makasih ya, Tan. Lo emang sahabat gue yang paling baik.." 

Aku tersenyum ke Intan (˘⌣˘∫ƪ) 

"Gitu dong, senyum.. Udah yah, gue keluar dulu yaa.. Bye..." Pamit Intan sambil keluar rumah.

Intan's POV

Yaampuunn!!! Aku tak habih pikir bisa-bisanya Nenek sangat tega ke Dinta?! Bagaimana bisa dia malah belain Iblis Belibis itu?! Apa Nenek sedang sakit?? 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 08, 2013 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DINTA'S STORY PART 15Where stories live. Discover now