Perpustakaan terbesar di kota kami.
Hujan deras mengguyur kota. Seharusnya aku bisa mendengar suaranya. Tapi di dalam sini aku tak mendengar apapun. Hanya ada suara bunyi udara yang keluar dari AC di sepanjang atap. Aku menatap rintik-rintik air jatuh. Susul menyusul. Mengalahkan aliran air di kaca-kaca tebal pengganti dinding. Berdiri di sini selalu mendinginkan hatiku. Memandang kolam ikan koi di bawah sana. Atau memandang tugu sebagai pintu masuk ke makam presiden pertama RI. Berdiri di sini, di lantai dua perpustakaan terbesar di kota kami, di tempat favoritku, selalu bisa menenangkan hatiku yang kelabu. Dan hari ini semua cerita harus selesai. Usai. Semua cerita antara aku dan Dia. Seseorang yang ku kenal sebentar, tapi tingal begitu lama di hatiku.
***
Aku sudah terbiasa mengunjungi tempat ini sejak pertama kali dibuka. Diresmikan oleh presiden wanita pertama Indonesia. Megawati Soekarno Putri. Sejak dibuka proses peminjaman buku, aku pun mendaftar sebagai anggota. Seminggu sekali aku berkunjung. Mengembalikan buku dan meminjam lagi. Begitu terus sepanjang tahun. Aku hanya berhenti meminjam buku jika waktu lebaran tiba. Disaat segala proses peminjaman dihentikan. Dan aku akan mulai meminjam lagi saat liburan lebaran usai. Waktu itu aku baru menginjak kelas 1 SMP.
Aku mengenal banyak pustakawan disini. Sebenarnya bukan mengenal dalam arti sebenarnya. Aku sering mengobrol hangat dengan mereka. Meski aku tidak tahu siapa nama-nama mereka. Dengan penjaga yang bertugas menunggu tempat penitipan tas, atau dengan juru parkirnya. Aku tahu aku orang yang menyenangkan. Aku juga punya senyum yang menawan. Pendek kata aku orangnya ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Dan aku memang bukan orang yang memilih-milih dalam berteman.
Bagiku tempat ini adalah tempat yang paling menyenangkan diseluruh penjuru kota. Meski sekarang ada banyak taman kota, kafe, tempat hiburan, mall, atau tempat-tempat nongkrong yang cozy, bagiku tak akan ada tempat yang kenyamanannya menggantikan tempat ini. Tempat dimana aku bersembunyi dari hiruk pikuk masalah yang mulai mendatangiku sejak aku beranjak remaja hingga dewasa seperti sekarang. Tempat ini sama berharganya dengan rumahku.
Dan cerita ini bermula dua tahun lalu. Atau tepatnya delapan tahun sejak aku mengenal seluk beluk tempat ini.
***
Dua tahun lalu. Dihari ulang tahunku.
Gerimis turun perlahan. Meski matahari masih bersinar di atas sana. Aku berlari-lari kecil dari tempat parkir menuju pintu masuk. Hari ini hari ulang tahunku. Entah mengapa Adi, teman sekelasku ngotot meminta tolong untuk meminjamkan buku. Entah untuk tugas apa. Aku tak peduli. Aku hanya peduli bahwa dia telah memaksaku di hari ulang tahunku sendiri. Dia bukan anggota pemustaka karena itu dia tak bisa meminjam buku sendiri. Membuatku repot harus meminjamkannya. Padahal kita tidak bisa meminjam buku jika bukan si pemiliknya sendiri yang meminjam.
Hape di saku kemejaku bergetar. Ada pesan masuk dari Adi bahwa dia belum datang dan memintaku menunggu di lobi. Menyebalkan. Memangnya siapa yang minta tolong dan siapa yang disuruh menunggu? Tetapi memasuki ruang perpus sudah mendinginkan kepalaku. Ku ambil Jakarta Post yang masih ada di gantungan. Sendirian. Padahal teman-temannya sudah betebaran di atas meja. Dari satu tangan ke tangan lain.
Mungkin masih sepuluh menit aku membaca. Seseorang datang dan berdiri di seberang meja. Dia membolak-balik Jawa Pos yang baru ditinggalkan pembaca. Ku selesaikan membaca tentang The Raid: Redemption yang go internasional. Kemajuan per-film-an Indonesia.
ESTÁS LEYENDO
Jika Bukan Untuk Kita
Romance"Kau tahu, hati wanita itu seperti kaca. Dia bisa saja memaafkan, tapi dia tak kan bisa melupakan. Ketika hati itu jatuh dan pecah berderai, apa yang bisa kau lakukan untuk menyatukannya lagi?" Suaraku mulai serak. Aku berdeham dan menengadah. Menah...
