Part Satu

89 12 3
                                        

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Korea, Aku kira Mama hanya bercanda kalau kami akan pindah ke Korea, ternyata tidak.

Pagi pagi begini, harusnya Aku masih di kasur tertidur pulas, malah harus menyiapkan barang yang akan di bawa. Huft... Harusnya sih sudah siap dari kemarin lusa, tapi karena malas, jadinya belum disiapkan.

"Gimana? Udah beres?" Tanya Mama yang melangkah masuk ke kamarku.

"Belum sedikit lagi" kataku sambil memasukkan pakaian yang akan dibawa.

"Kalau sudah, kamu turun ya, kita sarapan" ucap Mama melangkah pergi meninggalkanku. Aku meng iya kan perkataannya, dan masih mengemasi pakaian.

"Akhirnya selesai juga. Ada yang kurang ga ya" Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku, untuk memastikan barang yang tidak terbawa. Dan pandanganku terhenti pada sebuah benda yang berada di bawah kasur.

Aku mengambil benda itu. Benda berbentuk kotak yang sudah berdebu. Aku meniup debu yang ada pada tutup kotak itu dan membukanya. Aku mengambil barang yang ada didalamnya, terdapat lembaran foto yang sudah usang.

Aku mengambil foto itu satu persatu dan melihatnya. Foto pertama yang kulihat, ada seorang gadis kecil yang duduk di ayunan yang memakai bunga di daun telinganya. Foto kedua seorang gadis kecil yang sedang memakan es krim dengan pipi yang belepotan es krim. Aku membuka lembaran lembaran berikutnya, dan sampai yang terakhir, foto seorang gadis kecil dan teman lelakinya dibawah sebuah pelangi. Aku menjadi ingat semua itu, dan berharap kembali ke masa lalu.

Aku membalikkan foto itu, terdapat tulisan tangan 'Jangan cintai aku seperti pelangi. Karena dia indah tapi hanya sementara. Cintai aku seperti hujan, yang datang menyeramkan, tetapi menghadirkan pelangi' Nathanio Felix. Tak ku sadari, butiran bening keluar dari kedua sudut mataku, Aku menangis. Aku pun mengusap air mata yang keluar itu, mengembalikan lembaran foto kedalam kotak dan memasukkannya ke dalam koper. Aku cepat cepat membawa koperku ke menuruni tangga dan menuju meja makan, karena Mama dan Papa pasti menunggu.

"Kamu lama banget turunnya. Mama sama Papa udah keburu selesai makannya" ucap Mama merapikan piring kotor yang tadi di pakai. "Ayo makan dulu"

"Nanti aja Ma, Azura ga laper"

"Serius? Ya udah bawa koper kamu, kita ke depan, mobilnya udah jemput" Aku mengangguk dan mengikuti perintah Mama.

"Udah siap?" Tanya Papa.

"Umm.. ya sudah"

"Kalo gitu ayo naik ke mobil" ucap Papa sambil mengambil koper yang ku pegang dan memasukkannya ke bagasi mobil. Mama pun masuk ke dalam mobil dan duduk disampingku. Aku memandang sekeliling rumahku dari kaca mobil untuk terakhir kalinya. Mobil pun berjalan untuk menuju ke Bandara.

...

Sudah dua hari aku tinggal sini di Seoul, benar benar membosankan. Di sini juga sangat dingin, hari ini cuacanya tiga derajat celcius, dan Mama menyuruhku pergi jalan keluar, sungguh kejam. Dan.. Mama juga memberikan kamus Bahasa Korea yang tebal untuk di pelajari. Ya ampun, sekarang udah ada teknologi yang canggih, ada terjemahan Bahasa apa saja, ga perlu menghafal seluruh isi kamus.

Tapi mau ga mau harus ku pelajariisi di kamus itu, kalau ga Aku ga boleh pulang ke rumah. Kalo begini bisa mati beku.

Aku mengambil mantel tebal dari lemari, tak lupa membawa kamus dan memasukannya ke dalam tas. Lalu pergi ke meja makan untuk sarapan terlebih dahulu.
Ada Mama disana, ia sedang memakan makanannya. Kalau Papa, ia sudah berangkat ke Kantor sejak subuh tadi.

"Azura, ayo makan dulu"

"Iya Ma" Aku mengambil roti yang sudah diberi selai dan memakannya.

"Kalau makan itu harus duduk, makan berdiri udah kayak kuda aja"

"Ih Mama ngatain Aku kuda" Aku pun menarik kursi dan duduk. "Mama tega banget nih, Aku disuruh pelajarin kamus tebal begitu"

"Mama emang nyuruh kamu buat pelajarin kamus itu, tapi gak langsung setidaknya kamu hafal beberapa kata aja. Kalau hari ini kamu hafalin 50 kosa kata dengan arti nya"

"Yah Mama, ga kebanyakan"

"Enggak, mau di tambah?" Aku menggeleng cepat. "ya udah sana entar keburu siang"

Aku pun melahap semua roti yang ku pegang dan meneguk segelas susu lalu memakai mantel. Aku pun berpamitan pada Mama.

...

Sepanjang perjalanan Aku bergumam sendiri, termasuk dimana tempat yang pas untuk belajar.

Setelah sepuluh menit berjalan, Aku menemukan tempat yang bagus. Sebuah bangku panjang dan satu pohon di kanan dan kirinya. Di depannya terdapat danau berwarna hijau tosca. Aku pun duduk menghadap ke arah danau.

"Huft.. Huft" aku menghembuskan nafas ke tanganku dan menggosok-gosokkan kedua tanganku. "dingin banget, beda sama di Jakarta yang super panas"

Aku mengambil kamus dari dalam tas, dengan malas aku membuka satu per satu halamannya dengan pelan, lama kelamaan aku membukanya dengan cepat hingga akhir.

"Oke selesai. Sudah ku buka dan ku baca hingga akhir" Aku menutup kamus dengan kasar dan menaruhnya diatas tas disampingku. "hawanya dingin, mengingatkanku pada hujan. Oh ya, di Korea ada hujan ga ya? Aku ingin melihat pelangi"

Aku memasangkan earphone ke telinga ku dan memutar musik, musik favoritku yang berbahasa Jepang.

Daremo ga kidzukanu uchi ni
Nanika wo ushinatte iru

Futo kidzukeba anata wa inai
Omoide dake wo nokoshite

Sewashii toki no naka
Kotoba wo ushinatta ningyou tachi no you ni

Machikado ni afureta nora neko no you ni
Koe ni nara nai sakebi ga kikoete kuru
Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
Tatta hitokoto tsutae tai
Arigato arigatou

Toki ni wa kizutsuke atte mo
Anata wo kanjite itai

Omoide wa semete mono nagusame
Itsumademo anata wa koko ni iru

Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
Tatta hitokoto tsutae tai
Arigato arigatou

Moshimo mou ichido anata ni aeru
nara
Tatta hitokoto tsutae tai
Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
Tatta hitokoto tsutae tai
Arigato arigatou

Toki ni wa kizutsuke atte mo
Anata wo kanjite itai

Alunan lagu itu mengingatkanku pada kenangan masa lalu. Andai saja Dia ada, mungkin hidupku tidak se-bosan dan ini. Aku menyandarkan kepalaku pada pohon di sebelah kananku. Mataku perlahan mulai menutup, menutup dan akhirnya aku tertidur.

RainBowWhere stories live. Discover now