Prolog

623 6 2
                                        

Kuhirup aroma oreo yang mengepul di cangkir panasku. oreo chocolate, gue suka sejak tragedi kecelakaan, kecelakaan yang ngrenggut memory bahagia gue sewaktu kecil. Baru beberapa tegukan, ketenanganku terganggu akibat cengiran seseorang. Gilak batinku.

Dia duduk di depanku, tanpa permisi, sudah biasa tentu baginya. " minggir, itu buat gue", dia nyengir , menunjuk cangir dengan dagunya, gue males ngladenin, gue bangkit, meletakkan uang di meja, malangkah ke mobilku.

" gilak, capek gue" emosi, gue kemudikan kecepatan mobil diatas rata- rata. Bodo , gue teriak begitu berhasil menerobos lampu merah.

Sementara yang di cafe, masih memandangi minuman yang ditinggalkan pemiliknya dalam bisu.

"Kapan kamu sembuh" batinnya dalam hati.

*****
Paginya

Faith

"Sayang, ayok sarapan" aku memasukkan buku dan melesat kemeja makan, kalo aku telat turun sekeluarga juga bakalan telat.

"Sini mah, aku bantuin" aku mengambil alih roti dan selai coklat, mama menyiapkan susu.

"Tumben bangun pagi, sempet bantuin mama lagi" adek gue turun dari tangga, disusul papa yang juga mau berangkat.

"Tinggal duduk aja bawel ah", semua roti sudah dioles, semua anggota keluarga juga sudah duduk manis di tempatnya.

"Mah, Pah, Jono, aku duluanya, ada perlu penting" mencium satu persatu, kecuali Joni, mengambil roti dan melesat keluar.

Mama cuma tersenyum, papa bilang "ati ati" dan Joni " kakak gitu ah" ga trima namanya gue ganti.

Langsung melesat kekampus tanpa adanya macet pagi pagi gini. Mulus luss

Sampai di kampus pun masi aman aman aja keheningan gue , tapi begitu masuk koridor kampus,

" nyun, pagi bener, bawa sarapan kagak?" si biang kerok dateng lagi, gue diemin males nanggepin, nambain dosa kalo ditanggepin.

Satu orang yang mau gue tuju, Fachri, yee dia sobat gue, pagi ini janjian mau ngomongin yang penting katanya, jadi deg degan.

Masi bingung, kenapa di cafe dan di kampuspun orang itu ga gue tanggepin? Jadi gini

Flashback

Author

"Apaan sih.. Bawa sini gatu flash dish! Cepetan ah!" cewek mungil me lompat lompat , ga sampe mau ngambil flashdisk dari cowok tinggi bertubuh atletis.

"Nggak, ga mau, kalo lo mau ni flashdisk, turutin kemauan gue dulu" jawab cowok yang makin geli ngliatin ekspresi fay.

" apa?? Maulo apa?" finaly, nyerah juga fay.

" turutin kemauan gue sebulan, abis itu gue balikin ni fd. Kan masih ada 5 bulan sebelum lo sidang kan" Danny nyengir.

"Nggak, seminggu" fey nyolot.

"Ya uda dua minggu, gue balikin." danny mengelus pucuk kepala fay dan pergi.

"Gilak lo" teriak fay yang mangkel. Keduanya berjalan kearah yang berbeda. Danny berhenti dan menengok kebelakang,

Seperti yang biasa lo lakuin saat jalan berbeda arah sama orang yang lo suka, lo nunggu, nunggu buat liat orang itu berbalik, atau sekedar ngelakuin hal yang sama kaya lo lakuin.

Danny, dia nunggu bertahun tahun, tanpa buka hatinya buat orang lain, nunggu fay.

Karena sayang sendirian itu sakit, tapi perkataan temannya itu ditepisnya. Bukannya dia ga sayang, dia cuma belum sayang. Day tau, dia begini karena kejadian itu.

Dulu fay sayang padanya, sangat malahan. Dia berani menunggu karena dia yakin masih ada cahaya itu untuk day, meskipun bukan tak mungkin cahaya itu telah diperuntukkan orang lain.

Memandangi punggung fay, yang berjalan ke kelas orang itu, Fachri. Yang sekarang menggantikan posisianya, dia hannya membuang nafas kasar.

" tenang, dia hanya belum tau" gumamnya sambil berjalan ke parkiran.

Sorry, Because I Love YouStories to obsess over. Discover now