Aluna

392 20 0
                                        

Malam sunyi, hanya aku dan gelap. Sendiri di pojok kamar asrama bernuansa putih. Sekeliling telah senyap. Aku masih saja menatap jendela kaca bisu yang mengantarkan pandanganku pada langit hitam. Hamparan luas yang begitu bebas.

Bulir bening mulai jatuh dari sudut mataku. Aku menangis dalam diam. Seluruh penghuni asrama tengah terbuai mimpi indah tentang masa depan cerah mereka. Sementara aku masih bergelut dengan ketidak berdayaan. Meratap lagi dan lagi.

Teringat kejadian 3 bulan lalu.
Aku baru saja pulang dari sekolah. Ibuku yang sehari-hari berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak di salah satu sekolah yayasan baru saja kehilangan pekerjaan karena yayasan yang menaungi sekolahnya tengah bangkrut. Ia menangis di ruang tamu saat aku sampai di rumah. Penat berjalan menyusuri jalanan kampung sejauh 1km serasa hilang tergantikan perih yang berkecamuk. Aku memang tidak akan rela melihat ibuku menangis karena alasan apapun. Ia cukup menderita dalam hidupnya sejak ayah meninggal. Saat itu adikku baru lahir. Penyakit jantung ayah kumat meratapi nasib adikku yang ternyata lahir tidak sesempurna bayi lainnya. Adikku tidak menangis seperti bayi pada umumnya, ia bisu, dan itu merenggut nyawa ayahku.

Ibu sedang tidak sendiri, ia bersama sosok yang aku kenal, ia pamanku dari kota. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak jelas mendengar perbincangan mereka. Ibu yang menyadari kehadiranku langsung berdiri menyambutku dengan riang dan memintaku duduk di sampingnya. Aku menurut begitu saja.
"Luna, kamu tahu Nizam,kan?"
"Iya Bu. Emang Kak Nizam kenapa?"
"Ibu bangga sekali mendengar kakak sepupumu itu. Dia masuk sekolah boarding unggulan dengan beasiswa karena prestasinya loh." urai ibu dengan wajah riang.
"Trus?"
"Ya tentu ibu akan sangat bangga kalau kamu bisa juga seperti itu. Ibu rasa dengan prestasi kamu sejauh ini, kamu juga pasti bisa. Kan, Mas Arman?"
Paman Arman yang merupakan sepupu ibu dan ayah dari Kak Nizam hanya mengangguk penuh keyakinan menanggapi ibu.
"Bu, Luna bukan tidak mau, tapi kalau ibu tidak bisa membiayai luna sekolah, yaa Luna di rumah aja bantu ibu. Kesuksesan itu takdir, Bu. Tidak perlu sampai harus masuk sekolah boarding." tolakku.
"Lun, Ibu hanya ingin kamu sukses dan berpendidikan tinggi. Tidak seperti ibu hanya honorer yang bahkan sudah tidak jelas ekonominya. Sekarang pemerintah sudah membuka jalan untukmu, kenapa tidak dicoba kan?" pinta ibu. Matanya masih memerah bekas menangis, dan di mata itu juga aku bisa melihat binar harapan yang begitu dalam.

Bagaimana mungkin aku bisa? Kalaupun aku bisa, mana mungkin aku bisa hidup jauh dari ibu? Harapan ibu kali ini menyesakkan. Akupun tidak habis pikir mengapa ibu tega berniat melepasku. Yang aku tahu selama ini ibu sangat memanjakanku. Melarangku bekerja apapun mengingat fisikku yang sangat mudah sakit-sakitan. Tapi kali ini ia rela melepasku, tentu ia berharap banyak ingin melihatku sukses. Semua itu mengganggu pikiranku berminggu-minggu lamanya. Hingga suatu hari kutemukan jawabannya.

"Luna, keuangan ibu menipis. Tabungan ibu tidak cukup untuk membiayai sekolahmu dan adikmu. Tapi ibu sangat ingin melihatmu menjadi orang. Kedatangan pamanmu dua minggu yang lalu bagi ibu adalah jawaban dari Tuhan. Kamu selalu berprestasi di sekolah, ibu rasa kamu berpeluang mendapat beasiswa itu. Ibu akan mencari pekerjaan, tapi sepertinya sulit. Sementara bulan depan kamu harus masuk SMA. Jalan satu-satunya hanya sekolah itu. Ibu janji, kalau keuangan ibu sudah membaik kamu bisa kembali ke sekolah pilihanmu sendiri. Hutang ayahmu pun belum lunas semua, nak. Ibu tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi masa sulit ini." tutur ibu sambil menangis.
Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Sesakit apapun rasanya jauh dari ibu, lebih sakit lagi mendengarnya menderita keuangan memikirkan pendidikanku.

Ya aku mengalah. Aku berjuang mendaftar dan menghadapi seleksi yang cukup ketat. Ini demi ibuku. Akhirnya aku diterima di sekolah itu sesuai harapan.

Dan disinilah aku sekarang. Hidup jauh dari rumah. Jauh dari ibu. Mendalami arti rindu. Bergelut dengan sepi dikeramaian. Selalu merasa asing bahkan dengan siapa diriku sekarang. Malam berselimutkan dingin tanpa penawar.

Ibu, sosok cantik dibalik balutan daster batik tua. Aku hafal kebiasaannya. Di waktu seperti ini, ia sedang bersujud. Dan di tanah orang, aku tengah meniti buih-buih harapan untuknya. Saat harapan itu telah siap, aku akan mengembalikan senyumannya. Itulah mimpi besarku.

***

AlunaStories to obsess over. Discover now