PIKIRAN SI AHMAD - BAGIAN I

165 10 1
                                        

"Sungguh, ketika aku melihatmu, aku teringat kata para ulama, yap kamu betul, bukan tentang saiton, bukan tentang dosa, melainkan tentang nikmat mana yang telah kau dustakan.. Oh, aku melihatmu seperti potongan kue coklat, bukan karena hitamnya, bukan karena bentuknya, melainkan bagaimana rasa manismu yang terus akan terngiang-ngiang dipikiranku, Ya Tuhan, oh sungguh indah sekali dunia ini"
Mungkin hanya puisi itu yang akan aku berikan pada kasih hatiku, namanya Nining. Nining seperti kota Bandung, yap! Tiada alasan untuk meninggalkannya dan berhenti untuk menatapnya. Indah parasnya, manis mukanya, cantik senyumannya, itulah Nining. Kacamatanya kadang bukan menunjukan kekurangannya, tetapi menunjukan mata nan indah asli menyerupai seorang kembang desa Sunda. "Aa sudah makan?" itulah kata yang paling aku rindu dari Nining, intonasi yang rendah, dengan suara lembut ditambah bubuhan rasa manja, makin saja membuat dunia serasa milik kita berdua. Dia menyukai duduk dijok belakang motor butut yang aku miliki, sembari duduk menyamping, kadang matanya suka curi-curi pandang melihatku melalui spion, dan aku berpergian bersama kekasih hati hanya dengan motor butut dengan rute yang aku buat agar dia nyaman bersamaku, yaitu keliling Bandung! Oh iya, kenalin aku Ahmad, banyak yang memanggilku Aha banyak juga yang memanggilku Ahad, sejujurnya aku tidak mengerti asal-usulnya bisa dipanggil seperti itu, untuk nama Ahad mungkin karena aku lahir di hari minggu, makanya aku adalah seorang ahaders, pecinta hari minggu! Aku tinggal di kota paling bahagia, kota paling asik, dan pastinya kota paling romantis, B - A - N - D - U - N - G. (B)anyak kisah di kota ini - (A)sik, dingin, romantis - (N)elangsa tak pernah ada disini - (D)ari anak kecil sampai orang tua - semua baha(G)ia di kota ini. Dari dulu sampai saat ini dan sampai aku memiliki anak cucu, aku jamin generasiku akan selalu mencintai Bandung yang indah ini. Mas Pidi Baiq pernah berkata seperti ini "Bandung tercipta saat tuhan sedang tersenyum", itu 100% aku jamin benar, lah buktinya kekasih hatiku Nining, tidak pernah terlihat bibirnya cemberut, mukanya murung. Aku juga ingin memperkenalkan kisah romansa ku di kota Bandung ini, sebelum aku berpacaran dengan Nining, aku pernah jatuh hati dengan seorang gadis, namanya Lis. Lis ini hanya seorang pembantu dirumahku, dia berasal dari kota tetangga, yaitu garut. Dia cantik, manis, dan pastinya dia selalu memberikan perhatian kepadaku! Usianya sama kok dengan aku, makanya aku bisa jatuh hati dengan gadis ini. "A, mau minum es jeruk apa teh manis?" itu kalimat yang selalu Lis ucapkan setiap hari dan berulang kali kepadaku, yap dengan nada hormat, lembut, sopan, dan sangat luar biasa santun. Di suatu waktu, aku memberanikan diri untuk membuktikan bahwa aku jatuh hati padanya, aku meminta nomor ponselnya, kira-kira seperti inilah, merayu tapi hanya untuk mendapatkan nomor ponselnya!
"Teh Lis, liat deh teh hp aku baru!" ujarku.
"Ih asik atuh a, ai itu teh hp apa a?" tanya dia.
"hp biasa inimah teh, cuma katanya enak dipakainya" jawabku.
"Aduh ni resep seneng ih liatnya" balas dia.
"Iya teh syukur, ai teteh ada hp kan? Aa minta nomornya cik takut-takut aa pulang ngedadak abis main!" mintaku sebari sedikit memaksa.
"Oh teteh mah gapake hp a, gangerti da dikampung mah gaada yang pake hp a" jawabnya.
Hancur harapan mendapatkan Lis, pupus aku sedih semalaman! Otakku yang masih dangkal saat itu hanya berpikir, kalo dia tidak punya hp, berarti kita tidak bisa berhubungan sosial dong. Saking pupus dan hancur hatiku, sampai-sampai aku menuliskan sebuah puisi,

"oh tuhan, engkau menciptakan Lis, tapi tidak untuk aku, buat apa tuhan,
Dia sempurna untukku, aku sempurna untuk dia,
Lis telah menutupi hatiku yang bocor tuhan,
Seyumnya, tawanya, perhatiannya, segala bagiku tuhan,
Tapi sayang oh tuhan, dia tidak memiliki hp tuhan,
Bantu aku ya tuhan, berikanlah dia hp, amiinn"

Kira-kira seperti itulah puisinya, cukup aneh untuk remaja sepertiku, rasanya ingin loncat dari gunung, rasanya ingin meledakkan dunia ini. Biasanya untuk menghilangkan rasa pupus dan patah hatiku, selain membuat puisi, akupun remaja normal, yap! Akupun berkumpul bersama 2 sahabat baikku, mereka adalah Anto yang merupakan orang Yogyakarta yang saat ini sedang menimba ilmu di Bandung, dan juga Deni, dia orang cina asli Bandung, mereka berdua luar biasa, mereka yang selalu memperkenalkan aku kepada gadis mojang yang cantik di Bandung ini. Saat itu kami bertiga berkumpul di warung kopi dekat dengan rumah Anto, aku bercerita bahwa aku sedang patah hati, aku sedang pupus hati oleh Lis. Mendengar ceritaku, muka mereka seperti banyak tanya, mungkin ingin bertanya dan menyatakan namun malu untuk mengungkapkan. Namun Deni, dengan santainya mengatakan, "Ayolah Mad! Mojang bandung masi numpuk selusin di kota ini, Oh iya, aku punya kenalan, namanya Nining! Manisnya ganahan!"
Dari kalimat itu, aku mulai tertarik, namanya juga lucu, N - I - N - I - N - G! Dari situ, aku mulai cari tahu siapa Nining!

Bersambung ke bagian II....

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 25, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PIKIRAN SI AHMAD - BAGIAN IStories to obsess over. Discover now