Candu Malaikat Tak Bersayap
Dinding putih kokoh berdiri di empat penjuru. Meja dan kursi kayu berjejer rapi. Membentuk pleton yang siap ditempati. Papan putih dengan gagahnya bertengger di dinding. Semua terlihat sudah siap memulai hari. Tapi tidak dengan satu orang ini. Gadis cantik yang tak lain bernama Putri Arga Wahyuningtias. Parasnya yang ayu terlihat lemah tak bergairah. Ia dengan gampangnya meletakkan kepalanya di atas meja. Sejak jam setengah tujuh pagi tadi ia telah duduk di meja pojok kelas-dekat pintu masuk dengan seperti ini. Lemah lunglai tak berdaya. Tak peduli dengan langit biru cerah berhiaskan awan dengan berbagai bentuk nan indah. Mengabaikan matahari yang berpendar penuh semangat. Lantaran perkara sepele. Sang pujaan hati mengiriminya pesan singkat "Put gue ada urusan. Nggak bisa jemput.". Padahal ia telah berhias sejak jam lima demi pangerannya itu. Memasang bando merah jambu terbaik di kepalanya, tak segan ia poles wajahnya dengan bedak. Pipinya juga ia beri perona merah muda. Bahkan bibirnya tak ketinggalan ia beri lipgloss mengkilat. Namun hanya dengan dua kalimat semuanya runtuh dan berubah menjadi sia-sia. Begitulah cinta. Memabukkan, memperdaya, menyakitkan, dan bahkan melemahkan.
Putri tahu dirinya tak pantas bersedih. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah gadis bodoh yang terus berharap padahal telah dilarang berharap. Bukankah hampir setiap hari hal ini terjadi? Bukankah ini semua lumrah dan tak perlu disesali? Tapi kenapa dirinya masih bersedih? Dirinya baik-baik saja. Ini pilihan hidupnya. Ia harus kuat. Senyum Putri senyum. Penyangkalan demi penyangkalan terus ia dendangkan.
Menit demi menit berlalu. Teman-teman sekelasnya datang silih berganti. Sapaan demi sapaan ia jawab dengan senyuman. Sekali lagi, ia gunakan paras ayu dan senyum manisnya sebagai tameng. Topeng untuk menutupi kisah percintaannya yang pedih dan penuh duri.
Dan akhirnya tokoh utama pria tiba. Pria tinggi, hidung mancung, rambut cepak, dan berkulit coklat mulai melangkahkan kakinya memasuki pintu masuk. Langkahnya terhenti tepat di depan meja Putri. Wangi parfum hugo boss mulai menguar masuk melewati indra penciuman Putri. Seketika itu juga tubuhnya menegang. Oh Tuhan! Lihat itu, pria tampan yang telah memporak-porandakan logikanya!
"Hai Put!" sapa sang pria dengan senyum mengembang
Suaranya terdengar merdu. Sangat merdu. Tetapi hanya di telinga Putri. Tangan kekarnya menarik kursi yang tepat berada di samping Putri.
"Sorry, tadi gue nggak jadi jemput loe" ucapnya sambil memegang telapak tangan Putri dan sesekali mengusapnya. Ini dia salah satu jurus maut Revandra Cahyo. Pria tampan pemikat hampir setiap wanita yang ia temui. Sang pemilik hati Putri entah sejak kapan. Putri hanya diam dan pura-pura ketus. Ia sama sekali tak ingin menggoda atau mengerjai Revan. Apalagi kalau sudah terkena jurus-jurus maut Revan. Amarah dan kekecewaan yang ia rasa meleleh saat itu juga. Benar-benar bagai narkoba si Revan ini. Tapi kalau tak begini Revan tak akan menyukainya lagi. Revan pernah bilang padanya, kalau Revan menyukai perempuan yang berani menyuarakan pendapatnya. Kalau marah ya katakan. Ia juga tak suka dengan perempuan yang dengan mudah terpikat padanya. Untuk itulah Putri berpura-pura. Putri Putri, sampai kapan kau akan begini?
"Putri sayang, maafin gue ya." Revan menggerakkan jemari kirinya yang bebas ke dagu Putri. Menggiring Putri agar bertatapan dengan matanya. "Please" tambahnya. Putri mendesah panjang dibuat-buat. "Ya baiklah" jawabnya pelan pura-pura tak ikhlas. "senyumnya mana?" Sedetik kemudian Putri tersenyum manis. Lebih manis daripada gula.
"Nah gitu kan cantik." Sekali lagi Putri meleleh.
***
Hari ini Putri terpaksa pulang sore sendirian dengan kendaraan asli milik Tuhan atau biasa disebut kaki. Pelajaran tambahan penyebabnya. Revan kemana? Tak usah cemas. Revan sudah pergi kencan dengan calon kekasih barunya sejak jam kedelapan. Dan melewatkan pelajaran tambahan tentunya. Tetapi ia tak perlu khawatir tertinggal pelajaran, kan ada Putri. Gadis cantik plus pintar yang siap sedia membantunya.
