Caravan terus meluncur menyusuri jalan raya beraspal. Kulihat hamparan tanah berisikan rerumputan kecil maupun ilalang, kehadirannya seakan menggantikan bangunan-bangunan tinggi yang jauh tertinggal di belakang. Aku menyandarkan diriku ke kaca jendela, mencari keberadaan pohon tinggi bercabang ke atas seperti brokoli yang sesekali muncul bergerombol. Terkadang terlihat rambu lalu lintas dengan gambar kanguru di tepian jalan.
Pandanganku teralihkan ke celah pintu kamar yang belum tertutup rapat, mendengar Cleo dan Rikki asyik menertawakan hal yang tidak kuketahui. Adrian duduk di jok depan bersama Ray sebagai pengendara mobil. Di hadapanku, tampak Chad tertidur pulas di atas kursi panjang layaknya sofa. Mika? Entah ada dimana dia sekarang. Mika orang yang menyenangkan, tetapi ia suka menghilang dan muncul begitu saja.
Aku merasa sangat bosan. Sekarang tidak ada apa-apa yang bisa kulihat di luar sana selain pohon eukaliptus, tanah, jalan dan langit biru. Aku mengambil iPhone di atas meja tempat menaruh makanan, yang berhadapan dengan meja untuk menaruh minuman di sebelah kursi Chad. Aku mengeluh pelan melihat tanda "No Signal" di Iphone.
Argh! Road Trip ini bisa menjadi neraka jika tidak segera menemukan rest area.
"Bosan, ya?" aku menoleh, menatap Adrian yang berdiri di dekat meja makanan. Sungguh menyebalkan melihat remaja ini memasang raut muka mengejek.
"Hei! Jangan lihat aku, nanti jadi suka,".
Aku tersentak. Adrian hanya tertawa kecil menyaksikan aku yang pura-pura keselek. Ia sudah melompat ke jok depan, sebelum aku akan membantah omongannya.
Aku nyaris berteriak ketika merasakan seseorang menyentuh bahuku dari belakang. Aku tercengang disusul helaan nafas lega. Gadis berambut pirang panjang itu tersenyum lebar. Mata birunya berbinar seolah-olah menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Kedua tangannya memegang sebuah buku dan peta.
"Apa itu?".
Ia langsung duduk. Kehadirannya mengubah atmosfer di sekelilingku begitu hangat dalam keceriaan.
"Ini bakalan berguna buat perjalanan kita. Kalau buku ini isinya tentang tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi,".
"Ohya? Seperti apa saja?".
"Tidak jauh dari sini ada Western Australia's Natural Playground. Disana terdapat mercusuar Cape Naturaliste LightHouse yang juga dekat dengan area Margaret River. Kau tahu apa bagian yang menyenangkannya?".
Aku menggeleng, malas berbicara.
"Disana adalah lokasi yang tepat untuk melakukan pengamatan ikan paus!".
Aku pun tersenyum. Detik berikutnya aku memanggil Ray, dengan penuh semangat.
Caravan nge-rem mendadak. Chad terjatuh dan langsung terbangun. Cleo dan Rikki keluar dari kamar dengan tatapan terkejut.
"Seriously, Ray? Bisakah tidak melakukan itu lagi?" Rikki melipat kedua tangannya di dada, menampilkan wajah marah.
Ray menatapku tajam, "Lyla! Jangan mengejutkanku seperti itu lagi,".
Aku terkekeh tanpa merasa bersalah, lalu melanjutkan pembicaraan "Apakah Cape Naturaliste tidak jauh dari sini?".
"Jadi .. kau memanggilku hanya karena itu?".
"Itu tempat yang menyenangkan, disana ada pengamatan ikan paus!".
"Benarkah?" Cleo dan Rikki menghampiriku. Aku mengangguk puas.
"Yeay! Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan?" Mika menimpali.
Chad berjalan kearah laki-laki berambut fauxhawk yang masih menampilkan raut muka marah kepadaku. Ia setengah berbisik "Kenapa aku harus melakukan perjalanan bersama anak-anak kecil ini?".
KAMU SEDANG MEMBACA
Road Trip
PertualanganLyla, Cleo, Rikki, Mika, Adrian, Ray dan Chad. Di antara hamparan gurun, deretan pohon eukaliptus dan hutan-hutan liar, ketujuh petualang melakukan perjalanan Road Trip mereka dan masuk ke dunia yang belum pernah mereka jejaki. Namun, semua menjadi...
