Part 6

8 1 0
                                        

Khrisna Andromeda POV

Sebenarnya kecut juga rasanya harus bolak balik keruangan pak arby. tapi beberapa hari terakhir memang ada saja berkas2 yg selalu mengantarkan kakiku utk singgah keruangannya. padahal mengetuk pintu dan mendengar suaranya saja sudah membuat jantungku seakan mencelos kelutut.

Nggak ada yang salah sih dengan sosok lelaki satu itu, selain kebiasaannya menginap dikantor.
Iya betul, pak arby sering menginap dikantor. itu kata parmin, ob kantor yg biasa shift pagi. yang belakangan diamini oleh bu nita.

Tadinya kaget, tapi lama2 jadi terbiasa. Dalam seminggu, which mean senin sampai jumat ini, 3 kali aku mendapati beliau dengan wajah seperti baru bangun tidur tengah duduk dipantry menunggui parmin yang membuatkan kopi untuknya

Sepertinya dia juga agak kaget dengan kebiasaanku yg datang diawal hari. Entah apakah dia juga merasa canggung, hingga pagi2 belakangan ini parmin lebih sering membawa kopi keruangannya.

Aku sedikit menghela nafas, melirik jam dinding. nyaris 15 menit berlalu tanpa suara. Pak arby terlihat bersandar pada satu sisi kursinya sambil membaca map yang terbuka. Apa isinya sedemikian panjang dan rumit dipahami sampai2 sudah 15 menit terlewat dan beliau belum juga selesai membaca.

Kakiku mulai gelisah, suhu ruangan terasa meningkat sementara aku menatapnya.

Dia, keren..apa sebutan ini tepat?? dari cerita bu anita, lelaki dihadapanku ini bahkan belum genap berusia 28th. Tapi sudah menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan commercial yg cukup terpandang dijakarta. Mulai bisnis dari kapan ini orang?? dari lahir??
tenggorokanku tercekat saat tiba2 saja posisi tubuhnya berubah, dadanya menghadapku. pak arby meletakkan map terbuka diatas meja, dan matanya menatap mataku. Degg..hatiku berhenti berdetak, aku bisa melihat bayangan wajahku dimatanya.

"Emm..Khrisna, draft dibagian paragraf ketiga ini sepertinya masih perlu diperbaiki. Nanti tolong bawa berkas ini kebagian akunting, dan minta bu mia kerjakan sesuai arahan saya."

aku mengangguk, berusaha menghindar dari tatapan matanya. Apapun itu, aku ingin cepat2 pergi dari ruangan ini. Hatiku tidak tahan terus berada sedekat ini dengannya.

Tapi saat bersiap hendak berdiri dan mengambil map, tiba2 tangannya menyentuh tanganku.
Aku beku ditempatku, seperti tersengat listrik jutaan kilo watt. Mungkin juga ruhku sudah separuh keluar dari badanku.

Suaranya lirih, agak berbisik. tangannya tidak lagi sekedar menyentuh, tapi sudah menggenggam jemariku.
"nanti temani aku makan malam, mau kah?"
aku masih diam, masih tidak sepenuhnya mempercayai apa yang tengah terjadi saat ini.

"emm..khris, mau kah?"ulangnya sekali lagi.

Aku mengangguk, tak sepatah katapun keluar dr bibirku. lidahku sudah terlanjur kelu, matanya berbinar disana ada percik bahagia yang tak sengaja lepas tanpa sepengetahuan pemiliknya.











To be brokenWhere stories live. Discover now