“apakah aku sudah mati?”Rena berada di sebuah taman, untuk kali ini tamannya berbeda, sangat sepi, teduh, penuh dengan hamparan bunga, dan beberapa kupu kupu yang terbang diatasnya, benar benar suasana yang nyaman, tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang, membuatnya menengok kearah orang itu, air matanya tumpah memeluk orang itu, “Shania…ini kau Shania?” orang itu mengangguk tapi suaranya tidak keluar sama sekali, “kau kenapa sayang~?”
Shania merasa frustasi suaranya tidak bisa terdengar oleh Rena, kemudian Shania menunjukan gesture tubuhnya seperti orang bisu, ‘aku senang melihatmu lagi, aku kesepian, dan aku kangen menghabiskan waktu bersamamu,’ awalnya Rena belum begitu mengerti tapi lama lama dia tahu apa yang disampaikan oleh Shania, “aku, janji aku akan membalas semuanya,”saat Rena mengucapkan itu Shania menggeleng, ‘kau tidak perlu membalasnya Rena, kau tahu aku disini lebih bahagia bersama semua yang kau lihat disini,’ ya pemandangan disana memang cocok untuk pribadi seperti Shania yang lembut, berbeda sekali dengannya, ‘lagipula aku tidak sendiri disini, coba tengoklah kesana,’ Shania menunjuk tangannya ke arah dua orang yang sedang tersenyum bahagia, “ayahhh..ibuu..” kedua orang itu balas menatap Rena dengan senyumannya yang sama dari dulu, “aku iri denganmu Shania, aku ingin ikut kalian,” seketika Shania dan kedua orangtua Rena mengeluarkan ekspresi marah lebih tepatnya kecewa, mereka menggeleng dengan kompak, ‘kau belum pantas disini, kau harus menyelesaikan tugas hidupmu, kau harus berubah jauhi dunia kelam itu, aku yakin kau bisa Rena,’ itu adalah pesan dari kedua orang tua Rena. Tiba tiba mereka bertiga melangkah maju sambil mendorong dorong Rena sampai kepojok, Rena menoleh kearah belakang dan yang dilihatnya adalah sebuah jurang yang tidak ada daratannya, dia pasti berada ditempat yang sangat tinggi saat itu, Shania dan orangtua Rena semakin mendorong Rena ke arah jurang itu, “apakah aku akan mati untuk kedua kalinya?”Rena panik, sampai dia tidak sadar sudah berada di garis ujung jurang itu, membuat keseimbangannya mulai terganggu, tapi dia bisa mengendalikan itu, membuat Rena bisa berdiri kokoh lagi Rena tersenyum kepada ketiga orang yang ada didepannya, kemudian tanpa aba aba, ketiga orang itu mendorong Rena membuat Rena jatuh kejurang yang jauh tidak ada daratannya, dalam jatuhnya Rena bisa mendengar dengan jelas suara Shania kali ini, “Berjuanglah anak bodoh, jangan lakukan sesuatu yang bodoh karna kau sudah terlalu bodoh selama ini BODOH!” Rena mendengar itu tersenyum, sudah lama dia tidak dipanggil bodoh sebutann yang diberikan Shania padanya, karena dulu Rena selalu bertindak bodoh dan tidak berpikir panjang dalam segala hal, yang akhirnya menjatuhkannya dalam kebodohannya itu.
***
Rena mulai ngerjap ngerjapkan matanya, mencari cari sesuatu atau apapun itu, yang dia temukan adalah langit langit sebuah ruangan serta semua aksen yang ada disitu serba putih bersih dan hiegenis, disebelahnya tampak seseorang yang masih mengenakan jas hitamnya, ya Gabriel menunggu Rena mencapai kesadarannya, Rena yang menyadari tatapan aneh dari Gabriel itu langsung bertanya, “kenapa saat aku tersadar, kau melihatku seperti itu?”
“kau tahu, semua perawat yang masuk ruangan ini melihatmu bagaikan tontonan sebuah tanyangan televisi,”
“memangnya kenapa?”
“karena ekspresimu saat koma itu aneh, dari muka datar, lalu mengeluarkan air mata, dan terakhir tersenyum lebar, kau membuatku malu 100%, kau tahu aku ini milyarder terkenal jadi harga diriku mulai dicopoti satu satu karna ulahmu,”
“ lagipula siapa yang memintamu membawaku kesini, lebih baik kau biarkan aku mati kehabisan darah, daripada harus hidup dengan pembunuh,”
“kalau kau mati, rumahku akan didatangi banyak wartawan dasar bodoh, dan kau akan menjadi artis koran dengan halaman paling depan ‘seorang wanita gila mati bunuh diri karena frustasi, di rumah milyarder kaya raya keluarga Locka’, itu akan menjatuhkanku tahu?”
“aku tidak perduli.”
keheningan terjadi disana, dan pada saat itu Filla masuk dengan ragu, masih merasa sangat sangat tidak enak dengan kejadian tadi
