Aku keluar dari sebuah kantor surat kabar dengan malas. Beruntungnya aku bisa mendapatkan libur di musim semi cerah seperti ini. Libur untuk hari ini dan seterusnya, ya bisa kalian tebak, aku dipecat.
Terkadang teman itu tidak semuanya baik, ada saja teman yang ingin menjatuhkan kita seperti keadaanku sekarang ini.
Tega sekali temanku itu, memfitnahku mempalsukan laporan keuangan kantor. Dan bodohnya bos ku malah percaya. Sialan!
Aku berjalan menyusuri jalanan kota kecil tempat tinggalku ini tanpa sedikit pun mempedulikan orang-orang yang menatap ku seolah aku adalah makhluk nista yang perlu dikasihani. Aku gak butuh rasa kasihan kalian!
Dengan segelas kopi dingin yang ku beli dipinggir jalan tadi, aku terus berjalan tak tentu arah. Memikirkan nasib ku yang malang ini. Kemana lagi aku harus menawarkan diri untuk bekerja? Aku hanyalah seorang editor di sebuah kantor surat kabar.
Tak kusadari jalan setapak yang ku lewati sejak tadi sudah hilang. Dan sekarang jalanan mulai sedikit mendaki dengan hamparan rumput yang pijak.
Dari tempat aku berdiri aku bisa melihat ujung sebuah pohon yang sepertinya besar dan rindang.
Di bawah bukit ini aku duduk sebentar. Meluruskan kedua kakiku yang sudah pegal-pegal sejak tadi akibat berjalan terlalu jauh.
Aku menatap sekeliling. Mengedar luaskan pandanganku.
"Aku dimana?" Gumamku pelan, yang kulihat di depan mataku hanya hamparan rumput. Sepertinya aku sudah berjalan terlalu jauh dalam keadaan setengah sadar.
Bodohnya aku, seharusnya aku meninggalkan jejak sepanjang perjalanan tadi.
"Huft," aku menghela napas. Putus asa? Jelas sekali. Aku rasa sudah tak ada artinya lagi aku hidup.
Dengan keadaanku yang menyedihkan ini dapat terlihat bahwa aku ini seorang yang terlalu pesimis dan mudah putus asa.
***
Flashback.
Bisa kujelaskan, selama 4 tahun aku bekerja di kantor surat kabar itu, aku selalu menjadi karyawan teladan dan dipercayai bos ku.
Disamping itu, ternyata ada salah seorang temanku yang iri padaku. Tak perlu kusebutkan namanya, sebut saja dia "TEMAN".
Tepatnya kemarin, aku ditugaskan membuat laporan keuangan yang di pakai oleh editor-editor di kantor itu. Setelah selesai aku menyimpan laporan itu dilaci meja kerjaku dan pulang.
Dan pagi ini, aku dipecat.
Bos memarahiku, dia membaca laporanku dengan amarahnya. Aku melihat laporanku kembali.
Kenapa angka-angkanya berubah?!
"Maaf bos, kemarin sudah ku kerjakan dengan baik dan aku jujur, kemarin bukan-"
"Dia bohong bos, kemarin aku melihat dia mengerjakan itu dan itu adalah hasil yang dia kerjakan kemarin, dia mempalsukan laporan itu, dan ada sebagian uang yang diambilnya," ujar seseorang. Aku menatap ke sumber suara.
Aku melihat Temanku itu, dia tersenyum penuh kemenangan. ku pikir si bos akan membelaku ternyata dugaanku salah besar!
"Haris, kau sudah ku percayai selama 4 tahun, kenapa kau tega melakukan ini? Mencari kesempatan dalam kesempitan huh?" Dia menatapku garang. Aku membeku.
"Tapi bos,"
"Kau dipecat, tinggalkan kantor ini sekarang juga!" Ucapnya bengis. Aku menatap Temanku, dia bertingkah sok respect pada bos kami. Menjijikkan.
***
Setelah puas meluruskan kaki, aku pun bangkit dari dudukku. Ah, rasanya masih malas.
Aku mendongak ke atas, ujung pohon itu. angin masih berhembus pelan seolah memaksaku untuk mendaki bukit ini dan mendatangi pohon itu.
Benar saja, kakiku bergerak sendiri. Perlahan mendaki bukit yang agak tinggi ini. Semakin dekat, pohon itu semakin besar.
Dan...
Sampailah aku dipuncaknya.
Aku melihat sebuah pohon besar berdiri kokoh di puncak bukit ini. Pohon besar berdaun hijau dan rindang ini menari bersama hembusan angin. Dan di bawah pohon itu aku melihat seorang bidadari. Mungkin penjaga pohon ini.
Apa? Bidadari?
Mana ada bidadari di dunia nyata ini.
Aku mengucek mata dan melihat sosok itu lagi. Ternyata pandanganku tidak salah.
Sosok wanita berambut hitam dan panjang itu terlihat seperti sedang menggambar di sebuah buku. rambutnya tertiup oleh angin membuatnya terkesan memang seperti bidadari.
Aku beranikan diriku menghampirinya. Dia menoleh ke arahku dan melihatku dengan tatapan bingung.
Aku rasa dia pasti heran melihat sosok makhluk dengan pakaian kerja yang sedikit berantakan dan dengan wajah yang kusut.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan?"
Aku datang menghampirinya, dia menoleh dan memberiku senyuman manis.
"Menunggu cintaku," []
YOU ARE READING
Sayonara [END]
Romance"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" Aku datang menghampirinya, dia menatapku dan memberiku senyuman manis. "Menunggu cintaku," Menunggu cinta? Aku terpaku. [ Cerita Pendek ] ©2015 Izayashiro
![Sayonara [END]](https://img.wattpad.com/cover/55646342-64-k68035.jpg)