Mungkin sebuah pernyataan yang tidak masuk akal untuk semua orang, katakan aku gila, betul sekali aku gila karena mencintai sahabatku sendiri dia adalah seorang wanita sama sepertiku.
Rasa takut sudah pudar dalam hatiku, entah dorongan keberanian seperti apa yang saat ini ada dihatiku, memberanikan untuk mengungkapkan semua segala perasaanku pada nya Arin sahabat kecilku itu.
Waktu Arin menjawab semua curahan perasaan ku ada sedikit ketakutan dalam benakku, takut semua pergi dan berakhir sia sia itulah yang sangat aku takutkan, namun kenyataannya berbeda.
Saat ini aku menjalani hubungan dengannya, hubungan lebih dari seorang sahabat, Arin sahabat kecilku sekarang sudah menjadi pasanganku.
Tapi dia sangat lucu sekali, dia tidak mau disebut seorang lesbi.
Arin akan sangat marah jika disebut seorang lesbi, bahkan oleh aku sendiri sebagai pasangannya, karena sempat beberapa waktu lalu aku menggodanya dengan kata kata itu, alhasil dia ngambek, ponsel nya dimatikan, rumahnya tertutup rapat, dan aku sendiri yang pusing mencari jalan untuk ketemu dia, pada saat itu sekolah sedang libur semesteran. Aku sangat takut kehilangab Arin
Jangan tanyakan gimana cara nya aku bisa meminta maaf padanya, yang pasti hampir semingguan aku tidak ketemu dengannya.
***
"Agi mau sampai kapan kita seperti ini?" Tanya Arin padaku, kami sedang menikmati udara segar dipagi hari, duduk ditengah rumput lapangan hijau ini.
"Hmmm kenapa, kamu ga nyaman" tanyaku sambil meneguk air mineral yang tadi kami beli.
"Aku takut gi" jawabnya,
yah dari awal memang Arin tidak mengiyakan atau menolak pernyataanku, dia hanya bilang "jalani saja".
Selama kami menjalani hubungan ini yang sudah menginjak 3 bulan tidak ada kendala, layak nya pasangan normal lain.
"Apa yang kamu takutkan hmm" tanyaku.
"Aku takut tidak bisa berhenti mencintaimu dan akhirnya kita sama sama tersakiti karena tidak bisa bersatu" jelasnya padaku.
Aku tahu akan semua hal itu, negara ini tidak menerima pasangan sejenis, bahkan agama pun mengharamkan hubungan seperti ini, tapi aku tidak bisa menolak perasaan yang ada dalam hatiku.
Lalu aku harus menyalahkan siapa? lalu aku harus berbuat apa? Lalu bagaimana dengan perasaan ini? Lalu ini tanggung jawab siapa? Lalu dan lalu biarlah semua berlalu dengan jalannya waktu, aku hanya ingin menikmati perasaan yang sudah terlanjur ada untuk Arin.
"Rin, kamu percaya akan jodoh" tanyaku padanya.
"Hmm yah, kenapa" jawabnya.
"Kamu tau kan Adam ditakdirkan untuk Hawa" tanyaku kembali, Arin hanya mengangguk menyetujui perkataanku.
"Iya lah gi, masa Hawa sama Surti" candanya kemudian tersenyum penuh arti.
"Kenapa senyum senyum gitu" tanyaku mencubit pipinya yang kemerahan terkena sinar matahari.
"Hmmm gimana kalau aku jadi Hawa dan kamu jadi Surti" ucapnya dengan lancar.
Hmmmm,,,, kami tertawa bersama, entah apa yang kami tertawakan.
Mentari pagi hari menemani kami, sebagai saksi bisu perasaan yang muncul diantara kami, perasaan yang tidak bisa kami abaikan begitu saja.
Tuhan, kami percaya akan jodoh mu, kami tidak akan menolak jika itu sudah datang pada kami, tapi untuk saat ini biarlah kami merasakan dan menikmati perasaan yang ada saat ini, perasaan yang tumbuh diantara kami. Sesuatu yang tidak bisa kami tolak rasa suka, sayang, cinta antara Hawa dan Surti.
Antara Pelangi dan Arin, pelangi yang selalu mewarnai kehidupan Arin dan Arin yang menjadikan pelangi selalu indah.
YOU ARE READING
Hi Girl Friend
RandomHanya menyalurkan cerita yang tidak tersampaikan,,cerita ini pernah ada,siapapun itu tidak bermaksud untuk menyinggung ataupun mengingatkan kembali.
