Didalam kamar aku tak berhenti berceloteh. Menanyakan semua perasaan aneh yang kurasakan saat dekat dengan Ridho kepada angin, ku harap mereka dapat menjawabnya.
Ditambah rasa kesal karna aku begitu mudah memaafkan Ridho.
"Seharusnya tadi aku tak memaafkan nya begitu saja,toh memang dia yang salah..." omel ku.
Tok.. tok.. tok...
Seseorang mengetuk pintu kamar ku.
"Masuk" ucapku.
Setelah pintu terbuka aku mendapati Ridho melangkah mendekat.
"Ngapain lo kesini?! " ku sambut dia dengan ketus.
"Umh.... a-aku m-mau minta maaf " jawabnya gugup.
"iya .. iya gw maafin , Lo tuh bawel banget sih... tadi kan gw udah jawab pertanyaan itu di taman tadi..."
"Taman? " ucapnya heran.
"Lo ternyata bukan cuma budek... tapi pikun juga... " Sahutku setengah sebal.
Ku lihat dia seperti sedang memulihkan ingatannya ke beberapa jam yang lalu,mencoba mengingat apa saja yang dia lakukan sebelum datang ke kamarku saat ini .
"Oh ,mungkin yang ada d taman bareng kamu itu ridho "
Akhirnya ia menemukan jawabannya.
"Lah,kalo yang tadi di taman ridho ... lo siapa? " aku semakin bingung dibuatnya.
"Aku rizki" ia memperkenalkan dirinya lengkap dengan senyuman berlesung pipi.
Oh,astaga! Aku lupa, mereka kan kembar!. batinku .
