Part 2

9 1 0

Pada malam itu, salah satu restoran keluarga yang didatangi oleh Echa dan kedua orang tuanya sangat ramai, mengingat malam itu adalah malam minggu. Echa bersama ayah dan ibunya langsung disambut oleh pelayan begitu mereka masuk ke restoran yang megah itu. Setelah ayah Echa menyebutkan reservasi atas nama Wirayuda, mereka langsung digiring ke ruangan cukup private di restoran tersebut.

Begitu sampai, ternyata telah ada sepasang suami-istri dan seorang gadis cantik. "maaf, apakah kalian sudah lama menunggu ?" sahut Ayah Echa sambil mengulurkan tangan kepada pria yang kira-kira seumuran dengannya. Pria itupun langsung berdiri dari duduknya dan menjabat tangan ayah Echa "tidak... tidak... kita juga baru sampai. Silahkan duduk."

Kalau sepasang pria dewasa tadi berjabat tangan dengan sopan dan tegas namun terkesan hangat, lain halnya bagi istri-istri mereka. "wah, kamu makin cantik aja, Runa" Sahut Audrey Nathania istri dari pria yang tadi berjabat tangan dengan ayah Echa.

Ibu Echa Aruna Sachi Kayana, pun langsung bersalaman dan tidak lupa memeluk dan mencipika-cipiki dengan wanita yang memujinya tadi "ah, kamu bisa aja, Nia." Nia merupakan panggilan Ibu Echa untuk sahabatnya ini. Memang selain para suami mereka yang bersahabat, para istrinya pun sangat dekat mengingat mereka dulu pernah kuliah bersama di Inggris. "Malahan yang aku lihat kamu yang makin cantik. Berani taruhan deh, andaikan kamu datang sendiri kesini pasti deh udah banyak pria-pria yang bakalan mau duduk semeja ma kamu. Bahkan mungkin anak muda juga mau, secara kamu masih awet muda."

Mereka pun tertawa bersama. Bahkan sampai lupa bahwa alasan mereka datang ke sini bukan untuk nostalgia. Sementara itu, Echa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan ibunya itu. Sama halnya dengan gadis cantik yang kira-kira masih SMA itu.

"Ehmm." Pradipta Martana, Ayah Echa pun berdehem mengingtakan mereka. Seketika mereka pun sadar dan segera duduk ke kursi masing-masing.

"aduh, maaf...maaf... aku sampai lupa. Nih, Echa anak gadisku yang akan dijodohkan dengan anakmu, Nia." Echa hanya bisa tersenyum sambil memperkenalkan Echa.

"wah, anak kamu cantik banget. Beruntungnya Elang bisa mendapatkan gadis seperti kamu." Sahut Audrey dengan semangatnya kemudian menoleh ke gadis yang di sampingnya "oh, iya kenalin ini Aurel adiknya Elang."

Gadis yang disebut Aurel pun tersenyum sangat manis. Wajahya sangat mirip dengan mamanya. Rambut pirang, hidung mancung, bibir tipis dan bentuk wajah yang oval. Sangat mirip dengan ibunya yang merupakan campuran Inggris-Indonesia. Hanya matanya saja yang mirip dengan ayahnya, coklat.

"oh, iya maaf yah katanya Elang akan datang terlambat. Edsel juga tidak bisa datang. " Sambung Audrey tidak enak hati

"tidak apa-apa, saudara-saudari Echa juga tidak ada yang bisa datang. Maaf yah. Soalnya Alisa kan sudah menetap di Inggris. Adit juga lagi ada di luar kota, sedangkan Fadhly ada les tambahan" Jawab Aruna juga dengan nada tidak kalah menyesalnya.

Akhirnya, mereka pun mengobrol sambil menunggu Elang datang. tak lama mereka mengobrol, orang yang ditunggu pun tiba. Dengan jas dan celana kain berwarna perak yang membalut sempurna badan tegap dan atletis tapi tidak berlebihan. Belum lagi wajah tampan bak dewa yunani itu, membuat semua pasang mata wanita yang berada di restoran itu mau tak mau terfokus oleh objek tersebut.

"maaf semuanya, tadi macet." Sahut Elang dengan menunduk sopan

"tidak apa-apa nak. Om ngerti kok. Ayo, silahkan duduk." Jawab Pradipta

Elang pun duduk di bangku kosong tepat dihadapan gadis bergaun biru yang kini sedang asyik mengobrol dengan adiknya. Setelah duduk dan memesan makanan akhirnya Elang dan Echa pun diperkenalkan oleh orang tua mereka.

Kesan pertama yang didapatkan Elang mengenai Echa adalah childish mungkin itu karena proporsi badan Echa yang dilihatnya kecil sehingga membuatnya berfikir bahwa dia masih anak-anak. Tadi saja, hampir dia mengamuk begitu diberitahu kalau gadis yang di depannya itu adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya hanya karena dia fikir gadis itu seumuran bahkan jauh lebih muda dari Aurel. Sedangkan, jarak umur antara dirinya dan Aurel saja sudah 8 tahun. Entah, apa yang telah difikirkan orang tuanya jika itu terjadi. Untung saja, tadi orang tua Echa memberitahukannya kalau sekarang Echa sudah kuliah jurusan kedokteran dan sekarang telah menjalani coasnya. Tapi tidak dapat dipungkiri Elang bahwa wajah gadis di depannya, walaupun tak secantik model-model, atau wanita-wanita yang sering menggodanya, namun gadis di depannya ini begitu manis dan imut. Wajahnya begitu terlihat awet muda. Belum lagi senyumnya yang begitu tulus, dan tawanya yang begitu lepas. Tipekal orang yang ramah. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya.

Sedangkan di sisi lain, Echa diam-diam mencuri-curi pandang ke sosok yang ada dihadapannya sambil mengobrol dengan Aurel. Tak dapat dipungkiri, pria dihadapannya ini memang tampak sempurna. Belum lagi sifatnya yang dingin menambah kesan misterius. Echa sadar bahwa pria dihadapannya ini berhasil membangun rasa penasarannya. Entah apapun itu, Echa menemukan sosok yang sekarang ada dihadapannya kini berbeda dari pria-pria yang pernah ditemuinya. Dan itu adalah bencana, karena Echa adalah orang yang tidak bisa bertahan dengan rasa penasarannya. Sebisa mungkin jika dia penasaran dengan apapun itu, maka dia akan menuntaskannya. Secepatanya. Dan tak jarang menempuh cara yang ekstrem. Tapi ada yang mengganggu Echa, entah mengapa, ada rasa familiar ketika dia melihat Elang. Dia tiba-tiba saja mengingat satu sosok yang dia rindukan. Sosok yang dulu tiba-tiba saja menghilang.


the reasonBaca cerita ini secara GRATIS!