Chapter 0.2

36 4 2

"Bye, Ken!" seru Taylor sambil berlalu

"Bye, Tay" jawabku sambil mengenakan mantelku

Mengeratkan mantelku, aku berjalan menuju cafe yang letaknya tak jauh dari toko roti tempatku bekerja

Kalau kau bertanya mengapa aku kesini, jawabannya adalah untuk bekerja.
"Hey, Ken. long time no see!" sapa Louis
"Tumben kau datang hari senin. Hari ini kan bukan shiftmu." sambung eleanor

"Ya, aku harus mengganti 20 cutiku"
"Terpaksa aku kerja setiap hari." sambungku.

Aku berjalan menuju lokerku, mencari baju dan topi ala bartender, ya memang ini adalah café, tapi pada malam hari, tempat ini lebih mirip bar.

"Aku ingin campuran blanco tequilla, jus jeruk, dan grenadine" sahut seorang pria yang sedang duduk di meja bar.

"Maaf, tapi tequilla kami sedang habis tuan...calum? Kenapa
kau bisa datang kesini?" balasku sedikit terkejut

"Sedikit bersenang-senang" jawabnya sambil tersenyum
"Kalau begiu vodka saja" lanjutnya

"Ini dia" jawabku sambil menyodorkan segelas vodka

Dia mengambil gelasnya, mengangkat gelasnya sejajar dengan wajahnya, lalu menaikkan satu alisnya.

Aku menunjukkan ekspresi "apa?" padanya.
Dia tersenyum, meneguk vodkanya sekali.
"I bet that you've never tried this one before, havent you?" katanya dengan suara rendah

Aku tersenyum, "Ya, luke tak pernah mengizinkanku minum minuman seperti ini"

"Cobalah, campur dengan orange juice atau lemon juice kalau kau belum terbiasa" lanjut calum.

"Satu gelas saja. One and only "

Kalau kau tebak selanjutnya aku mabuk, maka kau benar. Ini sudah gelas ke-5

"Ken, sudah berhenti. Tak kusangka kau begitu ketagihan" kata calum sambil mengambil gelas vodka ku

"Ayolah sayang, 1 gelas lagi. Biarkan aku meminumnya." gumamku tak jelas

Tanpa membalas perkataanku, dia langsung memboyongku keluar dan mengantarku ke flat Fayola.

***
Calum's point of view

Kenny sedang dalam posisi memelukku dari belakang. Jujur saja, aku merasa agak aneh. Entah apa yang ada di pikiranku. Tapi hatiku terasa ada yang mengganjal. Entahlah.

"Jangan pulang dulu, aku masih ingin bersamamu" katanya sambil bersender di bahuku.

Aku tau dia sedang mabuk, tapi kata-katanya ini cukup untuk membuat detak jantungku berhenti sejenak.

Kulihat di sebelah kiriku tertulis Farday Street pertanda aku sudah hampir sampai.

Tiba-tiba dia membenamkan wajahnya di rambutku, menghirup aromaku dalam-dalam. Dia juga mencium pipiku dan turun ke bahuku, memberi kissmark disana.

Sungguh ini adalah sebuah penyiksaan.

Meskipun aku tau dia hanya mabuk. Tapi malam ini, dia benar-benar membawaku ke langit yang paling tinggi, membuat kupu-kupu di perutku berterbangan.

Tuhan, aku ini seorang pria, dan aku masih normal. Sungguh aku tidak tahan.

"Ken..Hentikan" ucapku

"Aku senang sekali malam ini" jawabnya dengan suara tidak jelas

Menurut mitos, saat seseorang mabuk, dia akan menjawab dengan jujur.

"Mungkin dia bisa jujur" batinku.

"Kau senang bersamaku, heh?" balasku sambil tertawa

"Hmm" jawabnya sambil mengangguk

"Kau menganggapku sebagai apa?" tanyaku

"Sebagai orang yang kucintai" balasnya

"Jadi kau mencintaiku?" tanyaku antusias.
Jujur aku sangat bahagia dan terkejut mendengar jawabannya. Aku tak sabar mendengar jawaban selanjutnya.

"Tentu saja, luke. Aku sangat mencintaimu, sayang" jawabnya

Seketika dia menjatuhkanku, ke dasar jurang yang paling dalam.

------------------------------------------------------
Louis Tomlinson as himself
Eleanor Calder as herself

Maap chapter ini agak gaje tapi gak apa2 deh hihihi

Vomments please? Kalo ada yang ga jelas atau apapun please comment yaaa ❤❤
no sider please TT

thankyouuu

wildest dreamBaca cerita ini secara GRATIS!