Setibanya dirumah putriku langsung berlari menuju kamar kami sedangkan aku berjalan mengikutinya dari belakang.

Begitu aku sampai didepan kamar, aku melayangkan pandanganku kearah kamar suamiku yang berada diruang keluarga.

Karena ruang tamu dan keluarga berada diruangan yang sama dan tidak diberi pembatas, jadi aku bisa melihat kamar suamiku walau aku sedang berdiri didepan kamarku.

Aku tahu suamiku ada didalam kamarnya karena tadi saat diluar, aku melihat mobil sedannya terparkir digarasi tepat disebelah aku memarkir mobilku.

Dan aku rasa inilah saat yang tempat untuk aku berbicara dengan suamiku mengenai hubungan kami. Mumpung rumah dalam keadaan sepi karena ketiga anakku sedang pergi kekebun bintang.

Itu artinya dirumah hanya ada aku suamiku putri bungsuku yang sekarang sudah tertidur karena kelelahan, dan bik inah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya didapur.

Ini adalah suasana yang sangat tempat untuk kami berbicara tanpa ada yang akan mengganggu kami. Dengan menyiapkan diri untuk segala macam resiko yang akan aku terima nanti.

Aku berjalan menuju kamar suamiku dengan langkah kecil. Jantungku berdebar kencang setiap aku melangkahkan kaki.

Itu artinya aku akan semakin dekat dengannya. Sungguh sebetulnya aku sangat takut bila harus masuk kekamarnya.

Bahkan jantungku semakin berdebar kencang ketika melihat jarak antara aku dengan kamarnya semakin dekat, rasanya ingin sekali aku mengurungi niatku dan pergi kekamarku.

Tapi aku tidak bisa melakukannya, kaki terus melangkah semakin dekat dengan kamarnya walaupun aku sudah memintanya untuk berhenti dan kembali kekamarku.

Kakiku tidak menuruti keinginanku dan terus berjalan hingga akhirnya aku sudah berdiri didepan pintu kamarnya.

Langkah kakiku berhenti disini dan aku berharap tanganku tidak bergerak untuk membuka pintu kamarnya.

Tapi apa boleh buat tanganku memutar kenopnya.

"Klink"

Dan pintu pun terbuka.

Aku memejamkan mataku karena takut. Hawa dingin keluar dari kamarnya menerpa tubuhku membuat tubuhku gemetaran karena rasa takut.

Ini untuk yang pertama kalinya aku membuka pintu kamarnya setelah enam tahun tidak melakukannya. Aku masih berdiri didepan pintu dengan mata terpejam menunggu reaksinya.

Mungkin ia akan berteriak padaku karena telah berani membuka pintu kamarnya. Aku hanya berdiri pasrah didepan pintu menanti makian darinya.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri dengan memejamkan mata didepan pintu kamarnya, mungkin sudah lebih dari 15 menit tapi aku belum mendengar suaranya.

Karena rasa ingin tahu dan penarasan kenapa aku tidak mendengar suaranya, aku membuka mataku dengan perlahan agar bisa melihat apakah ia ada atau tidak.

Satu dua tiga aku membuka mataku sambil menghitung didalam hati.

"Astafirlulah alazim"

Ujarku dengan terpekik saat melihatnya berdiri dihadapanku dengan mata menatapku tajam.

Aku sangat ketakutan melihat matanya rasanya ingin sekali aku berlari pergi meninggalkan kamarnya dan masuk kedalam kamarku.

Tapi aku tidak bisa mengerakan kakiku dan hanya berdiri dihadapannya dengan tubuh dibanjari keringat dingin.

Aku sangat takut melihat matanya dan aku berusaha untuk tidak melihat matanya dengan cara memandang sekeliling kamar, keatas kebawah kekanan dan kekiri.

Sekaligus untuk menyembunyikan rasa takutku. Walau aku berusaha untuk tidak melihatnya tapi aku bisa merasakan tatapannya yang tajam terus menatap wajahku.

Tatapan matanya sangat dingin dan tajam. Siapa pun yang melihatnya pasti akan takut.

"Mau apa kamu kesini?"

Ia bertanya padaku dengan nada dingin.

Huuuuuft. Aku menarik nafas panjang untuk memberanikan diri menjawab pertanyaan

"Kita harus bicara. Karena itu aku kesini"

Ujarku dengan menatap wajahnya sekilas.

"Bicara untuk apa?"

Ucapnya kembali dengan nada dingin sambil berjalan menjauhiku. Ia berjalan kearah sofa yang jaraknya sepuluh langkah dari tempatku berdiri.

Lima langkah didepan sofa terdapat tempat tidur. Ia duduk disofa itu menghadap ketempat tidur. Aku tidak berani mengikutinya dan tetap berdiri ditempat semula.

"Bicara untuk hubungan kita"

Ujarku sambil menatap wajahnya yang sedang tidak melihat kearahku. Aku hanya bisa melihat wajahnya dari sisi samping.

Mendengar ucapanku ia hanya tersenyum sinis dengan wajah lurus kedepan.

"Hah!, hubungan kita?"

Ujarnya dengan nada sinis.

.................

Untuk semua readers yang setia membaca ceritaku. Aku ucapkan terima kasih.

Setiap comen dan masukan dari kalian selalu aku nantikan.

Salam sayang dariku untuk semuanya......

mawar untuk mamaWhere stories live. Discover now