Seoul, 2016
Bandara Incheon menjadi pusat perhatian media saat putra pengusaha sukses Kim Hyun Joong. Kembali ke tanah air. Ia mengenakan kaos biru langit, dengan jeans senada. Topi serta kaca mata tak luput ia kenakan.
Tinggi Kim Kyu Jong mencapai 186 cm. Sorot mata elangnya mampu membius ribuan wanita, dari berbagai kalangan.
Ia berjalan menuju mobil hitam panjang yang telah siap melayaninya. Ia ingin berjalan sendiri di antara kerumunan orang, namun semua itu hanya mimpi. Karena setibanya kapal yang ia tumpangi mendarat mulus, di pintu telah berdiri empat pria bertubuh kekar dengan jas hitam serta kaca mata hitam. Mirip tukang pijat. Tapi jangan salah, mereka bertubuh kekar, otak jenius, serta wajah garang. Sehingga tidak banyak yang berani mendekat bahkan sekedar untuk bertanya.
"Silahkan tuan," Ucap salah satu pria kekar. Ia membukakan pintu mobil.
Setelah Kyu Jong masuk ke dalam mobil. Keempat pria itu membungkukan badan, memandang kepergian mobil yang membawa tuannya. Mereka segera mengikuti dari belakang, dan melaju cepat tatkala sebuah mobil silver hendak menghadang mobil Kyu Jong.
Jembatan itu menjadi saksi di mana pertarungan terjadi.
Batu hantam antara pria. Kyu Jong tetap berada di dalam, ia tak perlu ikut andil. Benar dugaan ayahnya, akan ada orang yang berniat membuat masalah dengannya.
Entah motif apa yang mendasari enam pria bertubuh tegap menemui Kyu Jong dengan cara seperti itu.
Salah seorang dari Kyu Jong menghantam pipi lawan, meninju perut dan menginjak kakinya.
Sang lawan yang kalah telak langsung lari terbirit-birit.
"Kenapa kita membiarkannya pergi?" tanya salah seorang diantara mereka berempat.
"Biarkan, ini peringatan awal buat mereka."
*********
"Uang, perkataan, tindakan, semua itu saling berhubungan. Jika kita punya uang kita bisa membeli buku, entah itu buku baru atau bekas. Beli buku yang mengandung banyak manfaat. Ambil kosakata dan inti dari buku tersebut. Belajar mengolah kata dan mengembangkannya. Dan jika kita pandai mengola kata dalam kehidupan, itu bisa menjadi salah satu penghasilan kita. Seperti menjadi penulis, motivator dan lainnya. Apa kalian bisa memahami maksud kakak?."
"Ia Kak." Jawab anak-anak.
"Kak?"
"Ia? Asty mau tanya apa?"
"Kenapa Kakak mau mengajari kami? Apa Kakak ada yang bayar?"
"Kenapa Asty berfikir begitu? Kak Zam hanya ingin membantu anak-anak yang kurang mendapat pendidikan. Karena pendidikan itu penting dari sedini mungkin. Kak Zam tak perlu bayaran, bayaran tertinggi adalah keberhasilan membuat kalian pintar. Kak akan sangat bahagia. Kebahagian adalah hal yang tak bisa disamakan dengan uang. Benar bukan?"
"Ia Kak," jawab Asty.
"Dan kalau kalian pintar, kalian bisa membedakan mana yang berniat jahat terhadap kalian. Tidak akan mudah dibodohi oleh orang. Kalian ingin pintar tidak?"
"Tentu Kak, kami ingin ..."
"Kalau begitu kalian harus rajin belajar, oke ..."
"Ia Kak," semua anak menjawab dengan lantang.
Selesai mengajar, Nuha langsung pulang ke apartemen, ada tugas yang belum selesai ia kerjakan.
Di pertengahan jalan ia merasa lapar, ia pun berhenti di sebuah kedai.
"Selamat datang, mau pesan apa Nona?" tanya seorang pelayan.
"Gyeran ppang dan Yangnyeom tongdak, lalu teh hangat tanpa gula," jawab Nuha.
"Annyeong, boleh tidak saya duduk di sini?" tanya seorang pemuda, ia berdiri di depan Nuha, memberi isyarat kalau tidak ada tempat duduk yang kosong lagi.
Nuha mengikuti arah pandang pemuda itu, ia mengangguk. Semua tempat duduk telah penuh.
"Kamsahamnida ..."
"Ne, cheonmaneyo ..."
Pelayan mengantar pesanan Nuha, menaruhnya gyeran ppang di hadapan Nuha sementara yangnyeom tongdak di depan pemuda yang ia pikir adalah kekasih Nuha.
"
*********
Bulan menggulung mentari, menyeret kepraduan. Pulang kesinggahsana dengan senyum riang.
