Wedding Party

18 0 0
                                        

Raihan memandang dirinya puas. Dicermin kamar Johan. Setelah berbelanja dengan Johan beberapa potong Jas hitam mahal, ia kemudian menyisir rambutnya rapih. Wajah Raihan luar biasa tampan. Hal itu yang membuat penghasilannya sebagai Pengamen tidak pernah surut. Sekarang didandani bak jas mahal dan sepatu bermerk membuat dirinya berhasil terlihat sebagai orang yang jauh berada dan berkelas. Bukan lagi pengamen yang hidup dipinggir kali dan pergi dari angkot satu ke angkot lainnya. Setelah Johan siap, mereka berdua memesan taksi ke Ritz Carlton.

Ritz Carlton. Gedung mewah yang berkelas di Jakarta. Ini pertama kalinya Raihan masuk kedalam gedung itu. Berusaha menjaga diri mati matian agar tidak kelihatan norak, padahal dalam hatinya gemas bersorak sorak ria senang. Ia benar benar merasa menjadi orang berkelas. Di sampingnya ada Johan yang tidak dapat menahan diri. Dari matanya terlihat sorot mata kagum dan berbinar bahagia. Sifatnya norak. Segala ornament ia sentuh. Mereka pun sempat menaiki lift berulang kali, hanya karena Johan ingin merasakan naik lift lagi dan lagi. Dan akhirnya mereka pun sampai ditempat pesta pernikahan.

"Silahkan ditulis nama dan nomor handphonenya mas." Pagar ayu yang memiliki paras cantik itu berkata sopan sambil menyunggingkan senyum. Raihan mengambil pulpen dan menyamarkan identitasnya lagi, Sementara Johan bulak balik kesana kemari, pecicilan.

"Selamat datang Mas Dion Renaldo, Silahkan menikmati pestanya." Raihan mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum simpul dibibirnya. "Dah cantiiikkk...."

Ditariknya langsung Johan yang merusak suasana. Didalamnya, alunan music Jawa terdengar pelan. Rupanya sang pengantin mengambil adat Jawa dan warna emas sebagai warna utamanya. Dari Ujung ruangan besar itu terbentang makanan nusantara. Jelas dua orang itu langsung mengambil piring dan mencicipi seluruh makanan yang ada. Kapan lagi mereka bisa makan gratis?

Mulai dari Sate ayam, sate kambing, Soto ayam, Pempek, Bubur, Gudeg, Mie jawa dan masih banyak lainnya. Sampai akhirnya perut mereka sendiri sudah tidak kuat lagi untuk diisi. "Eh bang, bang!" Senggol Johan. "Liat itu ada gadis cantik bang!"

"Mana?" Raihan berusaha arah mata Johan. Dan tertangkaplah gadis mungil dengan rambut digelombang digerai tengah duduk anggun sambil memainkan kipas ditangan kanannya. Wajahnya putih bersih dengan mata yang kecoklat coklatan itu.

"Pacarin gih!"

Raihan, tidak pernah berpengalaman soal cewek. Cewek yang ia kenal, tidak ada yang memikat hatinya sebelumnya. "Gimana caranya?" Tanyanya polos.

"Yah abang. Samperin aja orangnya. Terus abang tinggal bilang deh, 'Mau jadi pacar aku nggak?' selesai!"

Lelaki itu pun mengangguk angguk setuju kemudian pergi menghampiri gadis itu. Didepannya, laki laki itu langsung mengeluarkan kalimat yang sama persis seperti apa yang Johan contohkan padanya. Gadis itu memandangnya sinis dengan senyum kecut dibibirnya. "Ck. Beraninya. Kenal nggak. Tampang pas pasan. Langsung nembak aja," Tangan kanannya membuka kipas lebar lebar dan mengarahkan pada dirinya dengan anggun. Lalu ia mengangkat dagunya tinggi dan membuang mukanya, mencampakkan Raihan. Namun kemudian seorang pria datang menghampiri mereka berdua. Pria itu mengenakan jas putih dengan dasi yang rapih. "Hai Luna,"

Jika wajah gadis itu jutek setengah mati pada Raihan, kali ini wajahnya lebih jutek lagi tampak keruh dan kesal, meskipun ia mati matian mengambil alih emosi dirinya. Kemudian gadis itu berdiri tegap, tangan kanannya menutup kipasnya dengan anggun tepat didepan pria berjas putih itu dan langsung menyambar tangan Raihan. "Yuk sayang, kamu bilang mau ambilin aku minum?"

Wajah Raihan merona merah, dan Gadis cantik itu langsung menariknya menjauhi pria berjas putih tadi.

"Denger ya, tadi gue cuman manfaatin lo doang! Pergi sana lo!"

"Tuh kan bang! Kata Johan juga apa! Pasti berhasil!" Sipetakilan johan rupanya langsung menghampiri Raihan dan gadis itu.

Raihan tersenyum manis, "Iya, kau benar." Jawabnya pada Johan.

Gadis cantik disamping Raihan berdecak sebal. "Eh, lo denger gak gue bilang apa tadi?"

"Bilang sayang." Jawab Raihan dengan senyum mengembang.

"Gue bilang, gue cuman manfaatin lo doang!" Katanya dengan nada tinggi. Kemudian langsung membalikkan tubuhnya 90 derajat dan langsung berjalan pergi meninggalkan Raihan dan Johan dengan angkuhnya.

"Jangan cemas bang, aku tau ini bakalan terjadi. Jadi aku sudah mendapatkan dompetnya."

Bisik Johan pelan. "Ayo kita keluar dari sini."

***


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 11, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

A broken heartedWhere stories live. Discover now