Tidak pernah terpikir olehnya untuk memulai sebuah bisnis. Mengamen baginya adalah Sesuatu yang dapat menutupi biaya kesehariannya dan bahkan jika Raihan melarikan diri dari Preman yang biasa menagih setoran, Uang penghasilannya masih tersisa lebih. Cukup lebih dari tiga hari makan dan kelangsungan hidupnya. Terlunta lunta pun baginya adalah hal yang biasa sekarang. Setelah hidup lebih dari 18 tahun dan menuai karirnya sebagai pengamen. Baginya, rumah tidak lah begitu penting. Selama jalanan masih ada, dan jembatan penyebrang kali masih ada, juga Jembatan besar tempat mobil berlalu lalang. Baginya semua itu sudah cukup. Hidup sebatang kara semenjak lahir, memang menyedihkan. Tapi menurut Raihan, lama kelamaan mengasyikkan. Toh ia bebas melakukan apapun yang ia sukai. Pergi kesana kesini tanpa ada yang mengaturnya. Hilir mudik dari kota A ke kota B tanpa ada yang mengawasi, hidup tanpa identitas, dan menyenangkan.
Tapi adakalanya ia merasa bosan. Rasanya sangat jenuh. Hampir segala jalan sudah ia tempuh. Segala hal sudah ia lakukan, Tapi rasanya selalu kurang dan kurang. Tidak pernah puas. Tidak pernah jauh berbeda. Ketika kehidupannya serasa sangat hampa. Yang ia lalui setiap harinya itu lagi dan lagi.
"Eh bang." Sapa Johan yang memecahkan lamunan Raihan. "Kau kenapa?"
"Dari tadiku lihat kau melamun saja. Uang hasil ngamen kau sudah cukup?"
Raihan mengangguk pelan. "Sudah sangat cukup."
"Cukup untuk kau beli pakaian baru yang rapih?"
Raihan mendongak bingung dan barulah ia menatap wajah Johan dengan seksama. "Apa maksudmu?"
Johan menyeringai licik. "Jangan adukan ku pada Ibu. Tadi aku mencopet tas dari gadis kaya raya." Bisiknya pelan tepat di telinga Raihan. Itulah Johan, sipencopet handal yang tidak dikenali banyak orang. Kemampuannya menutupi wajah dengan kepolosannya itu yang membuat korban lengah. Namun Raihan, seumur hidupnya berjanji tidak akan pernah melakukan kejahatan. Ia selalu mencari uang halal. Tapi jika diberi dari Johan, mana ada yang mau menolak rezeki?
"Bagus. Apa isi tasnya?"
Sifat inilah yang dicintai Johan dari Raihan. Raihan tidak pernah memarahinya, beda dengan ibunya.
"Uang 2 juta, dan Undangan nikahan berkelas di Ritz Carlton, Dan beberapa barang sampah."Lanjutnya lagi. "Kau tahu bang, sisir wanita, parfum, kaca, dan handphone."
"Sini abang pinjam handphonenya." Meski Raihan hidup dijalanan, ia tak pernah gagap teknologi. Karena ia selalu hidup dimana saja, dan pernah sekalinya menjadi pegawai warnet. Ia pun juga bisa baca tulis, ia tidak buta huruf. Karena dulu sewaktu Raihan kecil, ia semangat ketika diajari mahasiswa kampus yang suka mengajar anak jalanan. "Mau diapain bang?" Tanya johan polos
"Dimatikan data GPSnya, dibuang kartu SIMnya. Biar gak bisa dilacak."Johan mengangguk ngangguk tidak mengerti. "O ya bang. Yang undangan itu..."
"Ayo kita beli baju baru."
***
YOU ARE READING
A broken hearted
Romance“Apa motif bapak yang kemudian membuat sebuah bisnis ini?” Lelaki berpostur tubuh tegap itu tertawa renyah, “Anda sendiripun akan tertawa jika mengetahuinya.” Si wartawan semakin penasaran, dan lelaki didepannya melanjutkan kata katanya, “Ada peremp...
