Matahari belum sepenuhnya naik saat Gani sudah berdiri di bibir pantai. Tangannya menggenggam erat tangan Bahari, anak laki-laki yang baru genap lima belas tahun itu. Udara pagi masih basah oleh embun, dan ombak kecil berbisik lembut di kaki mereka.
"Ini dia, Pak," kata nelayan tua yang akan membawa Bahari ke kota. Namanya Pak Jafar, satu-satunya orang di pulau terdekat yang memiliki perahu bermesin. Wajahnya keriput oleh garam laut dan usia. "Cuaca bagus. Lima jam, kita sampai."
Gani mengangguk. Ia tidak bisa bicara. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh sesuatu yang keras dan panas.
Barra berdiri di sampingnya, satu tangan di pundak Gani, satu tangan lagi memegang tas kain berisi pakaian Bahari. Barra selalu menjadi yang lebih kuat di antara mereka berdua. Tapi pagi ini, Gani bisa merasakan jemari Barra bergetar halus di pundaknya.
"Ayah..." suara Bahari serak. Matanya merah. "Aku..."
"Jangan," potong Gani cepat. "Jangan bilang kamu nggak jadi pergi. Kami sudah sepakat."
Mereka memang sudah sepakat. Berbulan-bulan diskusi, pertengkaran, dan akhirnya keputusan bulat: Bahari harus sekolah di kota. Pulau Baru tidak punya sekolah menengah. Hanya sekolah dasar yang muridnya tinggal tiga orang. Bahari sudah menghabiskan seluruh ilmu yang bisa diberikan gurunya yang setengah pensiun.
"Bahari," Barra turun berlutut di depan anak itu. Pasir basah membasahi lututnya. "Dengar, Nak. Ayah dan Bapakmu ini hanya orang primitif. Kami cuma tahu memancing, berburu babi hutan, dan meramu sagu. Tapi kamu... kamu punya otak yang lebih tajam dari sembarang pisau. Kamu harus pergi."
"Tapi aku nggak mau ninggalin kalian sendirian—"
"Kami nggak sendirian," Gani akhirnya bicara. Suaranya pecah. "Kami punya satu sama lain. Dan pulau ini. Tapi kamu... kamu punya masa depan di luar sini."
Bahari menatap mereka bergantian. Air mata mulai mengalir di pipi cokelatnya yang masih muda. Gani ingat betul bagaimana dulu ia menemukan bayi ini di dalam karung, terapung di laut seperti cerita Musa. Barra yang menyelamatkannya membawanya ke darat, dan sejak saat itu mereka bertiga menjadi keluarga.
"Kami akan baik-baik saja," Barra menepuk pundak Bahari. "Kami ini petarung, ingat? Kami bertahan di pulau tak berpenghuni ini selama bertahun-tahun sebelum kamu datang. Sedikit kesepian nggak akan membunuh kami."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Gani menarik Bahari ke dalam pelukan. Tubuh anak itu sudah lebih tinggi darinya. Kapan terakhir kali ia memeluknya? Mungkin sudah terlalu lama. "Kamu harus pergi. Kamu harus belajar. Kamu harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar anak dua orang primitif di pulau terpencil."
Bahari membalas pelukan itu erat-erat. Barra ikut memeluk dari belakang. Untuk sesaat, mereka bertiga berdiri di pantai itu, terikat dalam kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh matahari pagi.
"Naiklah," kata Pak Jafar lembut. "Air pasang sebentar lagi surut."
Bahari melepas pelukan. Ia menatap Gani dan Barra bergantian, seolah ingin mengingat setiap garis wajah mereka. Lalu ia mengambil tasnya dan naik ke perahu dengan langkah gontai.
Mesin perahu berderam. Bahari duduk di buritan, menatap ke arah mereka.
"Jaga diri kalian!" teriaknya. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. "Aku akan pulang! Aku janji!"
Gani tidak mampu menahan tangis.
Air matanya mengalir deras saat perahu mulai menjauh. Ia tidak peduli lagi pada gengsinya sebagai seorang ayah. Biarlah Bahari melihatnya menangis. Biarlah ia tahu betapa beratnya melepas kepergiannya.
BẠN ĐANG ĐỌC
The Land VI
Lãng mạnTHE LAND VI By KsAprillian81 Bagaimana jika tempat yang paling ingin kau tinggalkan... justru menjadi tempat yang paling ingin kau datangi kembali? Bahari meninggalkan sebuah pulau kecil untuk mengejar masa depan di kota. Di belakangnya, tertinggal...
