01.

62 7 0
                                        

pagi di Desa Sukomaju selalu dimulai dengan suara ayam berkokok, embun yang masih menggantung di ujung daun, dan suara para warga yang mulai beraktivitas, desa yang memang jauh dari hiruk-pikuk kota.

jalanannya sebagian masih berupa batu dan tanah, rumah-rumah penduduk berdiri berdampingan dengan halaman luas, sementara sawah hijau membentang sejauh mata memandang.

namun, ada satu keluarga yang cukup dikenal oleh seluruh warga desa, keluarga Adinata.

keluarga terpandang yang sudah tinggal di Sukomaju selama beberapa generasi, dan putra pertama keluarga itu adalah seseorang yang cukup disegani warga.

Raden Jatmika Adinata. warga desa sering orang panggil raden, tubuhnya tinggi dan tegap, dengan wajah tampan yang selalu terlihat serius. tatapannya tajam, suaranya rendah, dan sikapnya tegas.

raden bukan tipe orang yang suka banyak bicara, bahkan ketika berbicara, ia hanya akan mengatakan sesuatu yang memang perlu dikatakan, pagi itu, raden sedang berdiri di depan rumahnya sambil memeriksa beberapa hasil panen yang baru saja diantar warga.

"yang ini masuk gudang" ucapnya singkat kepada warga yang sedang mengangkut karung berisi padi "yang kualitasnya kurang bagus, pisahkan" lanjutnya

"nggeh mas, siap" ucap pekerja itu dengan ramah

raden mengangguk singkat, kemudian mengambil salah satu karung dan membawanya untuk dimasukan kegudang, beberapa warga yang melihat hanya tersenyum, raden memang anak keluarga terpandang, tetapi ia tidak pernah bertingkah seperti orang yang lebih tinggi dari warga lainnya.

hanya saja... sikap dinginnya sering membuat orang berpikir dua kali sebelum mengajaknya berbicara.

"den raden!" panggil arya dengang sedikit bertriak, raden menghentikan langkahnya.

"Apa?"

"katanya nanti siang ada tamu dari kota ya" raden mengernyitkan dahinya "tamu?" lanjutnya

"Iya, katanya cucunya mbah wiryo, pulang dari London"

raden tidak terlalu tertarik "oh" hanya itu jawabannya, lalu kembali berjalan menuju gudang, arya sampai bingun dengan respon temannya ini "katanya cucunya bule, den" lanjut arya sambil mengikuti raden "terus?"

"Ya... ganteng katanya"

raden menghela napas pendek "itu bukan urusanku" arya yang mendengar itu mendengus tidak senang "kamu ini lho den, jadi orang kok kaku banget"

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana... sebuah mobil berhenti di depan rumah joglo sederhana dengan halaman luas, pintu mobil terbuka, seorang pemuda turun sambil meregangkan tubuhnya.

rambut pirangnya sedikit berantakan setelah perjalanan panjang, kulitnya terang, matanya biru, dan wajahnya terlihat manis sekaligus tampan.

Ethan Alexander Laurent

darah Indonesia mengalir dari ibunya, sementara ayahnya berasal dari London, ethan lahir dan besar di kota, sehingga kehidupan pedesaan benar-benar sesuatu yang asing baginya, ethan memandang rumah di depannya, matanya membesar.

"Oh my God..."

ehtan menoleh ke seluruh penjuru "Ini really rumah grandma and grandpa?" lanjutnya masi dengan ekpresi takjub, mommy mira yang baru turun dari mobil tertawa melihat respon anaknya

"iya, kenapa?" ethan menunjuk jalan tanah di depannya "mom, jalannya... literally tanah"

"namanya juga desa sayang, masih asri" jawab sang bunda dengan menggelengan kepalanya

pak wiryo yang mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya pun kluar  "ethan" ucap pak wiryo yang melihat cucunya "GRENDPA, ETHAN KANGEN" ucap ethan berlari menghampiri kakenya "walah putuku, wes gede tambah ganteng" ucap pak wiryo memeluk ethan

bu sari yang mengdengar suara gaduh dari luar pun ikut keluar "ngopo to pak, kok rame-rame" tanyanya saat berada di depan pintu "lho putuku, makin cantik aja kamu le" ucap bu sari waktu melihat pemuda didalam pelukan sang suami "ih, ethan is handsome, not beautiful, grandma" ucap ethan sambil cemberut

bu sari yang mengdengar suara gaduh dari luar pun ikut keluar "ngopo to pak, kok rame-rame" tanyanya saat berada di depan pintu "lho putuku, makin cantik aja kamu le" ucap bu sari waktu melihat pemuda didalam pelukan sang suami "ih, ethan is hands...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

lanjutt nggak yaaaa???

NANTI KALO RAME LANJUTTT 

BYEEEEEE ALL, JANLUP VOTEEEEEE YAA

MAS RADENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang