Sore harinya, di parkiran fakultas Willand sedang membuka pintu mobil ketika suara familiar memanggilnya dari belakang.
"Will."
Ia menoleh. Pavin berdiri di dekatnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Denger-denger lo dipaksa masuk panitia," ujar Pavin tanpa basa-basi.
Willand menutup pintu mobil pelan. "Siapa yang bilang?"
"Satria. Dia kirim chat tadi."
Willand hanya mendengus pelan, lalu bersandar di bodi mobil. "DPA yang rekomendasiin. Nggak ada pilihan."
Pavin mengangkat alis. "Divisi acara?"
"Hm."
"Berarti satu divisi sama Esta, Winny, sama Satria?"
Willand tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah gerbang kampus hingga Pavin menghela nafas pelan. "Lo mau gimana?"
"Nggak perlu gimana-gimana," jawab Willand datar. "Gue ikut. Selesai. Jangan dibesar-besarin."
Pavin menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Ya udah. Terserah lo. Tapi jangan sampe lo malah makin aneh sendiri."
Willand membuka pintu mobil lagi. "Naik dah. Gue laper."
____________
____________________
Hari berikutnya ruang rapat kecil di lantai dua gedung rektorat mulai dipenuhi beberapa anggota divisi acara. Tidak banyak orang di dalamnya, hanya mereka yang memang bertanggung jawab menyusun rangkaian acara utama Dies Natalis.
Di atas meja sudah berserakan beberapa lembar kertas, laptop, botol air mineral, dan catatan hasil rapat sebelumnya.
Winny duduk di salah satu sisi meja sambil membuka laptopnya. Satria berada di sampingnya, sesekali melihat daftar tugas yang sudah dibuat. Sedangakan Esta duduk di seberang mereka, sibuk membaca draft rundown yang baru dibagikan.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Willand masuk membawa laptop di tangan. Penampilannya rapi seperti biasa, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Sorry, telat."
Winny langsung menggeleng. "Nggak, kita juga baru mulai."
Willand mengangguk singkat. Ia menarik kursi kosong di ujung meja, lalu duduk dan meletakkan laptopnya.
Satria menyerahkan satu lembar kertas kepadanya. "Ini rundown sementara. Baru sampai pembukaan sama acara inti. Sisanya masih belum fix."
Willand menerima kertas tersebut dan membacanya sekilas. "Acara pembukanya jam berapa?"
"Jam delapan pagi," jawab Esta. "Tapi kalau tamu undangan sama pejabat kampus mulai datang dari jam setengah delapan, berarti registrasinya harus dibuka lebih awal."
Willand tidak menatap Esta saat merespons. Pandangannya tetap terkunci pada kertas di tangannya. "Kalau tamu dan pejabat datang dari jam setengah delapan, registrasi harus dipisah. Jangan disatuin sama rundown utama. Buat timeline persiapan tersendiri."
"Berarti bagian registrasi jangan dimasukin ke rundown utama aja. Pisahin jadi timeline persiapan."
Esta menatapnya sebentar. "Kenapa?"
"Supaya panitia nggak cuma lihat acara dimulai jam delapan. Persiapan sebelum itu tetap harus ada waktunya. Sound check, pengecekan panggung, penerimaan tamu, semuanya harus punya batas waktu."
Satria melirik keduanya sebelum kembali membuka suara. "Kalau pembukaan udah, lanjut sambutan rektor dan penampilan mahasiswa. Nah, masalahnya kita belum ada talent yang fix."
"Dari UKM belum ada konfirmasi?" tanya Winny.
"Baru paduan suara sama tari," jawab Satria.
"Band belum ada. Sponsor dan dana dari kampus juga masih tersendat semua."
Ruangan mendadak hening. Beban pekerjaan dan masalah anggaran membuat suasana makin berat.
Winny menghela napas panjang. "Kalau kita mau datangin talent luar buat narik massa, anggaran kita jelas nggak cukup."
"Panggung, sound system, dekorasi, konsumsi..." Esta membaca daftar kebutuhan dengan nada lesu. "Semuanya butuh uang dingin."
"Makanya kita butuh sponsor atau donatur tambahan," kata Satria frustrasi. "Tapi beberapa perusahaan lokal yang digontok belum ada yang kasih kepastian."
Willand menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Jemarinya mengetuk meja kayu itu berirama pendek. Ketukan yang familiar bagi Esta kebiasaan Willand saat sedang berpikir keras.
"Ada satu orang yang mungkin bisa gue hubungi," sela Willand. Suaranya memotong keheningan ruangan.
Esta spontan mendongak. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, tatapannya berbenturan langsung dengan mata Willand. Namun, dengan sangat cepat dan sengaja, Willand mengalihkan pandangannya ke Satria, seolah enggan memberi ruang sekecil apa pun bagi Esta.
"Siapa?" tanya Winny penasaran.
"Kenalan gue."
Satria mengernyit. "Kenalan dari mana, Will? Anak kampus juga?"
"Teman lama," jawab Willand pendek, enggan berelaborasi. "Dia punya akses ke beberapa perusahaan dan event organizer. Gue nggak jamin dia mau bantu, tapi setidaknya bisa gue tanyakan."
Esta hanya menyimak dalam diam. Ada rasa asing saat mendengar Willand menyebut "teman lama". Ia merasa semakin tidak mengenali pria yang dulu begitu ia pahami.
"Coba aja, Will. Lumayan banget kalau ada celah," ujar Winny.
Willand mengambil ponsel dari atas meja. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap ke halaman rektorat, membelakangi mereka semua.
Dengan satu tangan masuk ke saku celana, Willand mengusap layar ponselnya. Ia berhenti pada satu nama yang tersimpan di sana, Dunky.
Ia menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinga.
Di belakangnya, Satria dan Winny kembali berbisik-bisik membahas alternatif lain, sementara Esta memandangi punggung tegak Willand dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.
Panggilan terhubung. "Hello?" suara berat dari seberang menyapa.
Willand menghela napas pendek, suaranya berubah jauh lebih santai namun tetap berjarak. "Yo, Dunk. Gue ganggu?"
