Bab 1 - A Place Called London

0 2 2
                                        

pukul 19.00 BST
Bandar Udara Internasional London Heathrow

Hujan mengguyur London sejak sore. Aktivitas di Bandara Internasional Heathrow masih berlangsung seperti biasanya. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper mereka, beberapa bergegas mengejar penerbangan, sementara yang lain sibuk menyambut orang-orang terkasih yang baru saja tiba.

Aku duduk di salah satu bangku bandara sambil menggenggam erat gagang koper besar berwarna maroon milikku. Ada perasaan gelisah yang sejak tadi mengganggu pikiranku. Namun, di balik kegelisahan itu, terselip kebahagiaan yang sulit kuungkapkan dengan kata-kata.

Akhirnya, aku sampai di London.
Kota yang sejak kecil selalu menjadi bagian dari mimpiku. Kota dengan bangunan-bangunan klasik, jalanan yang indah, dan jam besar yang sering kulihat di majalah. Kini, aku benar-benar berada di sini. Di kota yang akan menjadi tempatku memulai kehidupan baru.

"NADIAAAAA!"

Sebuah suara yang sangat kukenal tiba-tiba memanggil namaku. Aku yang sedang melamun memperhatikan orang-orang di sekitar langsung menoleh dan mencari sumber suara tersebut.
Senyumku seketika mengembang ketika melihat sosok yang sedang melambaikan tangan ke arahku.

"KEISHAAAA! GUA DI SINIII!"

Aku segera berdiri dan menghampirinya. Keisha, sahabatku yang sudah lebih dulu tinggal di London, ternyata rela menjemputku meskipun hujan masih mengguyur kota ini. Bahkan, beberapa bagian bajunya terlihat basah karena ia berlari dari tempat parkir.

"AKHIRNYA LO DATANG JUGA, NAD!" serunya sambil memelukku. "Gimana perjalanan dari Jakarta ke sini? Capek, pasti, ya?"

"Ya, capek, Kei. Tapi, ya, dinikmatin aja, hahaha."

Keisha tertawa kecil sambil membantuku membawa koper.

Rasanya menyenangkan bisa bertemu seseorang yang sudah kukenal setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Selama di pesawat, aku hampir tidak berbicara dengan siapa pun, kecuali petugas yang mengurus pemeriksaan imigrasi.

Setelah mengambil barang-barangku, kami berjalan menuju tempat parkir. Hujan yang sebelumnya cukup deras kini mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang membasahi jalanan.

Udara London terasa cukup dingin. Aku sedikit merapatkan jaketku sambil mengikuti langkah Keisha menuju mobilnya.

"Udah, masukin aja kopernya ke bagasi," kata Keisha.

Aku mengangguk dan membantunya memasukkan koper ke dalam mobil.

"Oke, Nad! Yuk, berangkat!"

"Sip, ayo!"

Kami pun mulai meninggalkan bandara dan menuju Notting Hill, tempat apartemen Keisha berada sekaligus tempat tinggalku untuk sementara waktu.

Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa berhenti memandangi pemandangan di luar jendela. Jalanan yang basah akibat hujan memantulkan cahaya lampu kendaraan. Bangunan-bangunan yang berjajar di sepanjang jalan terlihat begitu berbeda dari apa yang biasa kulihat di Indonesia.

Aku masih sulit percaya bahwa akhirnya aku benar-benar berada di sini.

London. Kota impianku sejak kecil. Kota tempat aku ingin memulai semuanya dari awal.

The Way We Almost WereStories to obsess over. Discover now