The Curse of Remembering

16 1 4
                                        


Esmarie berjalan menyusuri lorong istana sambil bersenandung pelan. Tujuannya adalah kamar sahabatnya, Putri Lenora.

Sejak mereka masih kecil, kedua gadis itu hampir selalu bersama. Perbedaan status tidak pernah menjadi penghalang bagi kedekatan mereka; bagi Lenora, Esmarie bukan hanya sekadar putri seorang penasihat kerajaan, melainkan seseorang yang dapat diajak berbagi cerita tanpa harus memikirkan tata krama maupun kewajiban sebagai calon ratu.


"Esmarie, kau sangat beruntung. Aku harap aku memiliki kehidupan yang sama sepertimu. Tidak perlu mengikuti pelajaran etiket, tidak perlu memikirkan mahkota yang akan dipasang di kepalaku, dan yang terpenting..."


Lenora terdiam sejenak.


"...kau bisa memilih sendiri siapa yang ingin kau nikahi suatu hari nanti."


Esmarie tersenyum kecil. Pikirannya melayang pada sesuatu yang bahkan sang putri sendiri tidak pernah tahu.


"Iya. Beruntung karena kau tidak tahu apa yang sebenarnya sudah aku alami, Tuan Putri," jawab Esmarie sambil tertawa kecil.


"Hm? Apa maksudnya? Memangnya kau mengalami apa?" Lenora menatap sahabatnya dengan bingung.


"Dan, hei! Di sini tidak ada siapa-siapa. Kau sudah berjanji bahwa jika hanya ada kita berdua, kau tidak akan memanggilku seperti itu!" Lenora menatap Esmarie kesal.


"Baiklah, baiklah, Lenora. Kau ada kelas tata krama siang ini, kan? Jangan sampai terlambat. Aku akan membantumu bersiap."


Esmarie membuka lemari kayu milik sang putri, lalu mengambil salah satu gaun.


"Huft. Aku tidak percaya di usia dua puluh tahun ini, aku masih harus mengikuti kelas tata krama."


Lenora mendengus kesal. Esmarie hanya terkekeh melihat sahabatnya.


"Tapi," Lenora tiba-tiba kembali teringat sesuatu. "Aku jadi penasaran tentang mimpimu waktu itu. Jodoh takdirmu? Aku lupa. Siapa namanya? Am... siapa?"


Esmarie tersenyum sambil membantu sahabatnya mengenakan gaun.


"Ambrose..." jawabnya pelan.


"Nah, iya. Ambrose. Kau masih memimpikannya?"


"Yah... lumayan."


Lenora tidak tahu bahwa apa yang disebut Esmarie sebagai 'mimpi' sebenarnya bukanlah mimpi. Melainkan ingatan.

Esmarie sendiri tidak tahu mengapa sejak kecil ia memiliki ingatan tentang kehidupan yang tidak pernah ia jalani. Seolah-olah sesuatu di dalam dirinya terus berbisik bahwa pria dalam ingatannya adalah seseorang yang telah ditakdirkan untuknya.

Anehnya, ingatan itu tidak pernah datang seperti mimpi. Suara ombak, sentuhan tangan, bahkan cara seseorang memanggil namanya, semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut sekedar khayalan. Semakin Esmarie mencoba melupakannya, semakin jelas ingatan itu kembali. Dan yang lebih mengerikan lagi, Esmarie mengenal seseorang itu di dunia nyata.


Awalnya, Esmarie hanya menganggap kesamaan itu sebagai kebetulan. Namun semakin lama ia memperhatikannya, semakin mustahil untuk menyangkalnya. Wajahnya. Suaranya. Gerak-geriknya. Semuanya sama. Dan Esmarie telah mengingat pria itu jauh sebelum ia pernah bertemu dengan Ambrose, sang penjaga perpustakaan.


Setelah selesai membantu Putri Lenora bersiap, gadis itu berlarian di lorong kastil dengan pandangan sesekali mengarah ke luar. Ia menuju menara timur, tempat ia biasa memandangi laut. Kastil itu berdiri di tepi tebing, menghadap lautan luas yang seolah tidak memiliki ujung.

A Cabinet of Broken HeartsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang