Kupu-Kupu di Kelas Teknik Mesin

558 34 11
                                        

Fabian Arkana Hervianto

Saqilla Amira

Ponsel Fabian tidak pernah benar-benar diam. Setiap beberapa menit, layarnya menyala-chat dari anak Elektro yang mengajak futsal sore itu, dari anak Sipil soal jadwal tanding basket antar jurusan, dari seseorang di Arsitektur yang meminta ditemani mengerjakan tugas tengah malam nanti.

Ia mengenal hampir semua orang di kampus, dan hampir semua orang mengenalnya kembali. Bukan sesuatu yang ia usahakan. Hanya saja, sejak dulu, mendekati orang baru selalu terasa semudah menghirup napas baginya.

"Gile, lo ini sebenernya kuliah apa jualan diri, sih?" Raka menatap layar ponsel Fabian yang tak berhenti berkedip, nada suaranya setengah menyindir, setengah kagum.

"Itu namanya sosialisasi, Ka. Bukan salah gue kalau orang-orang suka."

Raka hanya menggeleng, sudah terbiasa mendengar jawaban semacam itu. Tapi di tengah keramaian yang selalu mengelilingi Fabian, ada satu sosok yang justru menarik perhatiannya karena sepenuhnya berada di luar keramaian itu.

Saqilla duduk di pojok kelas, dekat jendela, seperti biasa. Kacamata bulat, kaos polos yang tertutup rapi oleh kemeja flanel kebesaran, datang tepat saat kelas dimulai dan pulang begitu kelas usai. Tidak ada namanya di grup mana pun selain grup wajib angkatan. Tidak pernah ikut acara jurusan, tidak pernah terlihat di kantin bersama siapa-siapa. Seolah dunia kampus yang riuh ini hanya numpang lewat, tanpa pernah benar-benar menyentuhnya.

"Lo ngeliatin apa?" Raka menyenggol.

"Itu." Fabian mengangkat dagu ke arah pojok kelas. "Qilla."

"Oh, dia. Anaknya emang diem banget. Kenapa, naksir?"

"Ngaco. Lu liat isi chat gue, isinya asrama cewek mantep semua." Fabian tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuat orang lain salah tingkah "Cuma penasaran, kenapa ada orang yang bisa sedatar itu."

Ia tidak memikirkannya lebih jauh hari itu. Baru seminggu kemudian, saat jadwal praktikum di bengkel mesin tiba, Fabian sadar bahwa kata "datar" itu adalah kesalahan paling besar yang pernah ia buat tentang seseorang.

°°°°°

Bengkel siang itu panas, bercampur bau oli dan logam yang membakar. Semua mahasiswa diwajibkan mengganti pakaian kerja sebelum masuk-alasan keselamatan, katanya, karena kain yang longgar bisa tersangkut mesin bubut. Qilla datang paling belakangan seperti biasa, kemeja flanelnya masih terkancing rapi menutupi tubuhnya.

"Yang pakai kemeja, lepas dulu," ujar instruktur, menegur tanpa menoleh langsung padanya. "Bahaya kena komponen berputar."

Qilla terdiam sesaat. Ada jeda kecil sebelum tangannya bergerak membuka kancing satu per satu, melipat kemeja itu rapi, lalu menaruhnya di atas tas.

Dan di situlah, untuk pertama kalinya, Fabian menyadari betapa kelirunya semua yang selama ini ia kira tentang gadis itu.

Tubuh Qilla tidak sekurus yang tersembunyi di balik kemeja gombrongnya selama ini. Ia pendek, bahkan tidak sampai sebahu Fabian, tapi ada lekuk yang jelas di tubuhnya-pinggang yang kecil, turun ke bawah dengan bentuk yang tak lagi tersamarkan oleh kaos yang ia kenakan, meski kaos itu bukan sengaja ketat, hanya kebetulan berukuran lebih kecil dari yang biasa dipakai orang di luar rumah. Fabian, yang tengah memegang kunci pas, merasakan tangannya kehilangan kekuatan sendiri.

Kunci itu jatuh, berdenting keras di lantai bengkel.

"Woy, lo kenapa?" Raka menoleh.

"Nggak." Fabian buru-buru memungutnya, meski matanya masih tertinggal di sudut bengkel, pada Qilla yang tengah sibuk mencatat data di lembar praktikum, tak menyadari-atau berpura-pura tak menyadari-bahwa sejak tadi ada yang menatapnya terlalu lama.

Ia menyeka keringat di dahinya, meski AC bengkel menyala penuh.

Sepanjang sisa praktikum, Fabian menjadi orang yang paling tidak fokus di ruangan itu. Ia yang biasanya menyelesaikan tugas paling cepat, hari itu tiga kali salah memasang komponen, sampai instrukturnya sempat bertanya apakah ia sedang tidak enak badan.

Yang sebenarnya tidak baik-baik saja hanya satu bagian dari pikirannya-bagian yang sekarang terus-menerus kembali ke satu siluet tubuh orang yang sama.

°°°°°°

Kesempatan kedua datang seminggu berikutnya, saat kelas otomotif memasuki sesi bongkar mesin mobil. Qilla mendapat bagian memeriksa komponen bagian bawah, mengharuskannya berjongkok, lalu perlahan merunduk lebih dalam hingga separuh tubuhnya masuk ke bawah kap mesin. Posisi itu membuat kaos yang sudah kekecilan semakin tertarik mengikuti bentuk tubuhnya, sementara Fabian, yang seharusnya memasang selang radiator di sisi lain mobil, berdiri diam-selang di tangan, mata terpaku tanpa berkedip ke arah kolong mobil di seberangnya.

Satu menit penuh berlalu. Fabian bahkan lupa mengatur napasnya sendiri.

"Bian." Raka memanggil dari samping.

Tidak ada jawaban.

"Bian, selangnya, anjir."

Masih tidak ada jawaban. Raka mengikuti arah pandang Fabian, lalu menyeringai lebar begitu paham apa yang sedang ditonton temannya. "Anjrit, lo natapin Qilla? Sampe selang aja lupa dipasang?"

"Diem, Ka." Fabian menyahut tanpa menoleh, rahangnya sedikit mengencang. "Ganggu konsentrasi."

"Konsentrasi apaan, dari tadi lo malah nggak konsen." Raka menyikut lengannya, suaranya direndahkan tapi masih penuh cengiran. "Goblok, ternyata nyimpen barang bagus ya lo. Nggak nyangka bocah pendek selalu make flanel itu punya body kayak gitu."

"Tutup mulut lo."

"Gue serius, Bian, itu kaos kekecilan apa emang sengaja dipamerin-"

"Ka." Fabian akhirnya menoleh, matanya menyipit. "Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue jejelin selang ini ke mulut lo."

Raka malah makin lebar cengirannya, tidak sedikit pun gentar. "Galak amat. Baru juga liat toket doang udah posesif."

"Anjing." Fabian mendesis, tapi telinganya sudah memerah, dan itu cukup jadi bukti kalau Raka tidak sepenuhnya salah.

Qilla akhirnya keluar dari bawah mobil sambil memegang salah satu baut, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak semenit lalu ada sepasang mata yang tidak berpaling darinya, dan sepasang mulut yang sudah membicarakan tubuhnya tanpa izin.

Ia berdiri, mengusap tangannya yang berlumur oli ke celana kerja, lalu kembali ke posisinya seperti biasa-tenang, fokus, tak peduli pada sekitarnya.

Fabian baru sadar selang radiator di tangannya masih belum terpasang.

"Cepetan lo pasang," bisik Raka, masih menahan tawa, "sebelum instruktur curiga lo lagi ngaceng bukan lagi kerja."

"Bacot." Fabian akhirnya memasang selangnya, tangannya sedikit gemetar, dan sekali lagi ia menoleh ke arah Qilla-gadis itu masih sama, diam, tak menyadari apa pun.

Tapi bagi Fabian, semua yang ia kira tahu tentang Qilla minggu lalu, sudah tidak berlaku lagi.

Teknik Mesin Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang