SANG RAJA MENEMUKAN JODOHNYA

0 0 0
                                        

### **BAB 1: Beban Mahkota dan Hutan Hitam**

Aula utama Kerajaan Solaria bergetar oleh suara gumaman para bangsawan. Di atas takhta emas yang megah, Raja Aethelgard duduk bergeming. Tatapannya dingin melintasi ruangan, menatap barisan wanita bergaun mewah yang dipamerkan oleh orang tua mereka masing-masing.

"Yang Mulia," ujar Adipati Valen dengan nada memohon yang dibuat-buat, "Solaria memerlukan seorang Ratu. Garis keturunan Anda harus berlanjut demi kestabilan negeri ini. Lady Vanya, putri hamba, telah siap mengabdi di samping Anda."

Aethelgard menatap Lady Vanya yang membungkuk dengan senyum terukur. Cantik, anggun, tetapi mata wanita itu tidak menatap Aethelgard-matanya menatap takhta emas di belakangnya.

"Sesi audisi selesai," kata Aethelgard datar, berdiri dari duduknya tanpa membalas ucapan Adipati Valen. Langkah kakinya yang mantap menggema saat ia meninggalkan aula, mengabaikan desahan kecewa para dewan.

Malam itu, Aethelgard menanggalkan jubah kebesarannya. Ia mengenakan zirah prajurit biasa dan menyelinap keluar istana. Ini adalah kebiasaannya: meninjau wilayah perbatasan tanpa pengawalan ketat untuk melihat kehidupan rakyatnya secara langsung.

Namun, nasib buruk menimpanya saat melintasi pinggiran Hutan Hitam. Seekor monster serigala beracun menyerangnya secara tiba-tiba. Meski Aethelgard berhasil menebas makhluk itu, cakar beracun sang monster sempat merobek pinggangnya. Dengan pandangan yang mulai kabur dan tubuh bersimbah darah, Aethelgard tersungkur di sebuah jalur setapak desa.

---

### **BAB 2: Obat Pahit dan Kayu Bakar**

Kalea baru saja selesai memetik daun herbal ketika menemukan seorang pria berzirah tergeletak tak sadarkan diri di dekat gubuknya. Bau amis darah menyengat hidungnya.

"Astaga, pria ini cari mati apa?" gumam Kalea. Tanpa ragu, ia menyeret tubuh tegap pria itu ke dalam gubuk sederhananya.

Saat Aethelgard membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah bau aromaterapi yang kuat dan rasa nyeri di pinggangnya. Seorang gadis bermata jernih sedang menumbuk sesuatu di dekat perapian.

"Jangan bergerak," tegur Kalea tanpa menoleh. "Racun serigala itu hampir menyebar ke jantungmu kalau aku tidak segera membersihkannya."

Aethelgard mencoba duduk, memasang wajah tegas yang biasa membuat para pangeran gemetar. "Siapa engkau, Rakyat Biasa? Apakah engkau tahu siapa aku?"

Kalea berbalik, membawa sebuah mangkuk berisi cairan hijau pekat yang berbau menyengat. Ia menyodorkannya ke bibir Aethelgard. "Aku tidak peduli engkau prajurit biasa atau jenderal perang. Di gubuk ini, engkau hanyalah pasien yang merepotkan. Minum ini sampai habis."

Aethelgard tertegun. "Ini... rasanya sangat mengerikan!" protes sang Raja setelah seteguk pertama.

"Minum atau racunnya membunuhmu!" seru Kalea gemas, mengapit dagu Aethelgard dan memaksa cairan pahit itu masuk ke tenggorokannya.

Selama tiga hari berikutnya, Aethelgard dirawat oleh Kalea. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada yang menyembahnya. Kalea menyuruh sang Raja-pria yang paling ditakuti di benua itu-untuk memotong kayu bakar dan menimba air sebagai bayaran atas pengobatan dan makanannya. Aethelgard, secara mengejutkan, menuruti semua perintah gadis itu dengan canggung. Ada kehangatan dan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

---

### **BAB 3: Rahasia yang Terbongkar**

Pada hari kelima, dentang langkah kuda baja memecahkan ketenangan gubuk Kalea. Puluhan pengawal kerajaan berzirah lengkap berlutut di halaman rumahnya.

SANG RAJA MENEMUKAN JODOHNYAStories to obsess over. Discover now