Chapter 1

18 2 0
                                        

Suasana ruang kelas di jam pelajaran terakhir selalu terasa seperti siksaan tanpa akhir. Suara dengung kipas angin di langit-langit seolah kalah cepat dengan detak jarum jam yang merayap lambat. Namun, bagi Nadine Deluna, kebosanan sore itu hancur total bukan karena deretan angka tahun pelajaran sejarah, melainkan karena ulah cowok yang duduk tepat di depannya: Arlo Rahardyan. Cowok dengan senyum miring menyebalkan dan kebiasaan buruk meminjam barang tanpa pernah ingat untuk mengembalikannya.

"Nadine," panggil Arlo pelan sambil membalikkan setengah badannya.
Nadine serta-merta menghentikan garisan pulpennya di atas buku tulis. Tatapannya menajam. "Apa?"

"Maaf ya, Nad," ucap Arlo pendek, lengkap dengan raut wajah sok merasa bersalah yang amat buatan.

Insting Nadine langsung menyala. Dalam catatan sejarah interaksi mereka selama dua tahun terakhir, setiap kali Arlo mengawali kalimat dengan nada selembut itu, pasti ada hal buruk yang baru saja menimpa barang miliknya.

Nadine menarik napas panjang. "Mana Mimu?" tanya cewek itu datar.

Arlo menggaruk leher bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Nah... itu dia. Pulpen kucing punya lu hilang sama gue. Kayaknya pas di kelas, di rumah, di lapangan, atau di tempat bimbel." Arlo menatap langit-langit kelas sejenak dengan berpura-pura berpikir keras, "Atau mungkin ketinggalan pas gue main ke Kemang kemarin?"

"Arlo! Kamu jahat banget!" pekik Nadine setengah berbisik sambil menepuk permukaan mejanya keras-keras. Beberapa teman kelas di sekitar mereka sempat menoleh sebentar sebelum kembali acuh.

"Eh, Nad, jangan gitu dong, gue gak enak nih," balas Arlo cepat sambil menaruh kedua tangannya di dada.

"Nggak enak gimana?!" Nadine memajukan tubuhnya, menatap Arlo penuh tuntutan. "Coba kamu bayangin Mimu sekarang! Dia itu sendirian di luar sana, Arlo! Kesepian, kedinginan, gak ada yang ajak ngobrol! Gimana kalau Mimu keinjak orang? Atau berakhir terdampar di Blok M?! Dari situ terus Mimu terjerumus pergaulan bebas, gimana?!"

Arlo terkedu di tempatnya. Matanya mengedip beberapa kali, benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa sebatang pulpen plastik berbentuk kucing berwarna merah muda mengalami krisis eksistensial hingga terancam kena pergaulan bebas di Jakarta?

Arlo mendesis pelan lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Jangan diinin banget lah, Nad. Lebay banget, masa pulpen plastik begitu bisa pergaulan bebas."

"Mimu itu Mimu kesayangan aku yang paling lucu, Arlo!" suara Nadine bergetar menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.

"Udah sebulan kamu pinjam dan nggak dibalik-balikin! Kasihan Mimu... kamu di mana sekarang..."

"Iya, iya! Nanti gue ganti!" cetus Arlo akhirnya, pasrah menyerah daripada harus mendengarkan skenario kemalangan Mimu yang makin melantur.

Malam harinya, kekesalan yang meledak-ledak di kelas perlahan menyusut, berganti menjadi rasa bersalah yang tidak nyaman bagi Nadine Deluna. Cewek itu berbaring telentang di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamar. Setelah drama panjang mengenai pulpen kucing yang hilang, pikirannya malah tertuju pada Arlo. Harusnya ia berhak marah karena Arlo yang menghilangkan barangnya. Tapi kenapa sekarang justru Nadine yang merasa sangat jahat karena sudah memarahi Arlo berlebihan?

Nadine berguling ke samping, mendapati kucing peliharaannya yang sedang tidur lelap di sudut kasur. Ia mengelus bulu halus kucingnya pelan. Gelisah itu tidak kunjung hilang, membuatnya hanya bisa menghela napas panjang dalam kegelapan kamar.

Di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer, Arlo sedang duduk bersantai di teras rumahnya bersama Khairo Malik. Suasana malam terbilang tenang, hanya diselingi deru kendaraan dari kejauhan dan petikan asal gitar akustik yang dipegang Khairo.

"Khai," panggil Arlo memecah keheningan.

"Ngapain lu?" sahut Khairo tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel di tangan kirinya.

"Lu tahu kan tadi di kelas si Nadine marah besar gara-gara pulpen kucingnya gue hilangin?" ucap Arlo terkekeh pelan mengingat raut wajah panik cewek itu. "Masa dia mikir pulpennya terdampar di Blok M terus terjerumus pergaulan bebas? Pusing gue dengernya."

Khairo langsung tertawa terbahak-bahak hingga petikan gitarnya terhenti kasar. "Aneh-aneh aja si Nadine! Lagian lu ngilangin barang orang mulu, pusing gue. Terus gimana nasib tuh pulpen?"

"Besok gue mau ajak dia ke Gramedia pulang sekolah," sahut Arlo santai sambil meluruskan kakinya. "Niatnya mau nemenin dia nyari gantinya."

Khairo mendadak menaruh gitarnya di atas meja dan menatap Arlo serius. "Ke Gramedia? Wah, ogah ikut gue. Gua tiap masuk Gramedia bawaannya langsung mules. Alergi buku kayaknya gue."

"Siapa juga yang mau ngajak lu?" balas Arlo cepat sambil melempar bungkus camilan kosong ke arah Khairo. "Gue pergi berdua sama Nadine."

Khairo mengelak cepat dari lembaran bungkus makanan itu, lalu manggut-manggut dengan wajah jahil yang amat kentara. "Oh... ooh... ooohhhhhhh. Berdua nih ceritanya?"

Arlo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabatnya. Ia kemudian berdiri untuk mengambil air minum ke dapur di lantai bawah rumahnya. Namun, saat Arlo kembali ke teras beberapa menit kemudian, Khairo masih setia menunggunya dengan cengiran miring yang sama.

"Gimana ya Khai" gerutu Khairo begitu Arlo kembali duduk di kursinya. "Tapi ya kalau dipikir-pikir, lu cocok sih sama Nadine. Sama-sama drama dua-duanya."

"Ngomong apa sih lu," seloroh Arlo santai sembari meminum airnya.

Khairo menyenderkan badan ke sandaran kursi. "Gua kirain si Nadine udah ada yang punya."

"Kagak," jawab Arlo pendek tanpa ragu. "Belum punya pacar dia."

Keesokan harinya di sekolah, suasana lorong kelas terasa riuh oleh siswa yang berhamburan keluar saat bel istirahat berbunyi. Nadine Deluna yang sejak pagi menahan rasa penasaran tidak membuang waktu. Begitu guru keluar, cewek itu langsung berdiri dari bangkunya. Ia berjalan cepat menyeberangi lorong dan menghampiri meja Arlo yang sedang membereskan buku-bukunya.
Nadine menepuk meja Arlo pelan demi menarik perhatian cowok itu. "Arlo, jadiiii gak?"

Arlo mendongak, mendapati Nadine yang berdiri dengan raut wajah penuh harap. "Jadi lah. Nanti selesai bel pulang, lu tunggu di gerbang depan."

Sore harinya sesuai kesepakatan, mereka mendatangi toko buku besar di pusat kota. Namun baru sebentar menyusuri rak alat tulis, Nadine yang tak sabar langsung menyerah karena tidak menemukan pulpen hiasan kucing yang mirip dengan Mimu. Rasa kecewa membuat cewek itu tidak bersemangat lagi untuk mencari. Nadine akhirnya pamit pulang duluan naik angkutan umum dengan bahu lesu.

Melihat Nadine pulang dengan wajah muram, Arlo merasa tidak tenang. Ia memutar arah kendaraannya dan memutuskan untuk berburu sendirian. Cowok itu menyusuri deretan toko stationery kecil, pasar modern, hingga toko-toko perbelanjaan di berbagai sudut Jakarta, rela menghadapi kemacetan sore hanya demi mendapatkan ganti pulpen tersebut.

Hingga di hari berikutnya, suasana kelas kembali seperti biasa di jam-jam pertama. Nadine sedang duduk melamun sambil menatap papan tulis sebelum sebuah kantong plastik merah dijatuhkan cukup keras di atas mejanya.

TAK.

Nadine kaget dan mendongak, menemukan Arlo sudah berdiri di samping mejanya dengan tangan bersedekap. "Apaan nih?" tanya Nadine bingung.

"Buka aja," sahut Arlo datar.

Dengan jemari yang sedikit ragu, Nadine membuka ikatan plastik tersebut. Di dalamnya, terbaring sebatang pulpen baru berwarna merah muda dengan hiasan bentuk kucing yang sangat menggemaskan di bagian atasnya. Desainnya bahkan jauh lebih bagus daripada Mimu yang hilang. Kedua mata Nadine seketika berbinar cerah, rasa kesalnya menguap tanpa sisa.

"Ini... kamu nyari sampai ke mana?" tanya Nadine pelan, menatap Arlo tak percaya.

Arlo memang paling bisa membuat seorang Nadine Deluna kesal setengah mati sampai mengelus dada. Namun, di sisi lain, hanya Arlo Rahardyan yang rela pusing keliling kota seharian penuh demi menghentikan ocehan dan mengembalikan senyum di wajah Nadine.

Tu as atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Sep 18 ⏰

Ajoute l'histoire à ta Bibliothèque et tu seras prévenu des nouveaux chapitres !

Relight the HeartDes histoires addictives. Découvrez maintenant