Aluna Rayana Mahira
Namaku Aluna Rayyana Mahira.
Orang-orang lebih sering memanggilku Aluna. Aku adalah mahasiswa semester enam di Valmore International University, mengambil jurusan yang sudah cukup lama membuat hari-hariku dipenuhi tugas, organisasi, rapat, dan berbagai hal yang terkadang membuat kepala terasa penuh.
Aku lahir dari keluarga berdarah Sunda yang sudah lama menetap di Jakarta.
Aku anak tunggal.
Tidak punya kakak untuk diajak bertengkar, tidak punya adik untuk disuruh-suruh. Hanya aku, Ayah, dan Omah yang selama ini menjadi rumah paling nyaman untuk pulang.
Ayah dan Bunda sudah lama berpisah.
Tapi anehnya, aku tidak pernah merasa benar-benar kehilangan sosok orang tua.
Mereka memang tidak lagi tinggal dalam satu rumah, tetapi keduanya tetap hadir dengan cara mereka masing-masing. Tidak ada perang dingin. Tidak ada saling menyalahkan. Tidak ada membuatku harus memilih berada di pihak siapa.
Mereka tetap menjadi Ayah dan Bunda yang sama-sama menyayangiku. Mungkin karena itu, tangki cintaku tidak pernah benar-benar kosong. Setidaknya, sampai aku mengenal cinta dari sisi yang berbeda.
Cinta kepada seseorang yang ternyata bukan milikku.
Namanya bahkan masih tersimpan rapi di salah satu sudut ingatanku.
Aku menyukainya sejak semester satu.
Aku kira perasaan itu akan menjadi awal dari sebuah cerita yang menyenangkan. Ternyata, aku hanya terlambat mengetahui satu fakta sederhana.
Dia sudah bertunangan.
Sejak hari itu, aku belajar satu hal 'Tidak semua orang yang membuat jantungmu berdebar ditakdirkan untuk tinggal.'
Aku memilih mundur.
Bukan karena perasaanku tiba-tiba hilang, tetapi karena aku tahu kapan harus berhenti berharap. Sejak saat itu, aku menjadi sedikit lebih hati-hati terhadap laki-laki. Bahkan terkadang, tanganku bisa gemetar hanya karena harus berhadapan dengan seorang laki-laki yang terlalu dekat.
Berlebihan?
Mungkin.
Tapi luka kecil pun tetap bisa meninggalkan bekas.
Untungnya, aku punya tempat untuk melarikan diri. Sebuah tempat kecil yang kusebut rumah kedua.
Pet shop milikku.
Ukurannya tidak besar. Hanya sebuah bangunan minimalis dengan nuansa semi caffe. Ada aroma kopi, suara langkah kaki kecil para hewan, beberapa sofa nyaman, rak-rak perlengkapan hewan, dan sudut kecil tempat aku biasanya duduk ketika pikiranku sedang terlalu berisik.
Tempat itu sederhana.
Hommy.
Dan entah kenapa, selalu berhasil membuatku merasa baik-baik saja.
Kalau kuliah sedang melelahkan, aku datang ke sana.
Kalau tugas menumpuk, aku datang ke sana.
Kalau pikiranku terlalu penuh, aku datang ke sana.
Dan kalau aku sedang ingin menghindari pembicaraan tentang laki-laki?
Biasanya sahabatku, Kalula, justru datang membawa topik tersebut.
Kalula adalah salah satu orang yang paling mengenalku. Kami bertemu bersama dua sahabat lainnya, Damar dan Sasti, melalui organisasi mahasiswa di kampus. Dari sekadar teman organisasi, kami berubah menjadi tempat orang yang entah bagaimana selalu berhasil terseret ke dalam masalah satu sama lain.
YOU ARE READING
MY CAT CHOOSE ALUDARA
FantasyMY CAT CHOOSE ALUDARA 🐈⬛ Bagaimana kalau jodohmu justru dipilih oleh seekor kucing? Aluna Rayana Mahira, mahasiswa semester enam yang sudah nyaman dengan hidupnya-kuliah, organisasi, dan pet shop kecil kesayangannya. Sampai Kalula memutuskan menjo...
