Someone to Wait for Part 1-2

31 1 0
                                        

Part 1 — The Boring Things

Menurut Pond Naravit Lertratkosum, kebosanan adalah penyakit yang hanya diderita orang-orang yang terlalu beruntung.

Sayangnya, ia termasuk salah satunya.

"Khun."

Pond tidak menoleh.

"Hmm?"

"Khun Araya menunggu jawaban Anda."

Suara tembakan memecah udara.

Peluru menembus lingkaran hitam sedikit di sebelah kanan titik tengah. Tidak sempurna.

Pond menurunkan pistolnya dan mengerutkan kening.

"Tentang?"

Ryz berdiri beberapa meter di belakang garis tembak dengan tablet di tangan. Pria tiga puluh empat tahun itu sudah bekerja untuk keluarga Lertratkosum cukup lama untuk mengetahui bahwa pertanyaan tersebut bukan tanda Pond lupa.

Pond memang tidak peduli.

"Dinner tonight."

"Cancel."

"Anda meminta saya mengatur dinner."

"I changed my mind."

"Anda meminta saya untuk mengatur dinner yang sebelumnya juga."

"Did I?"

"Ya."

Pond memasang megasin baru.

"Dan... yang sebelumnya juga."

Ia berhenti.

Menoleh.

"Are you complaining?"

"Melaporkan pola."

Pond menatapnya selama dua detik sebelum kembali menghadap target.

"Cancel."

"Baiklah."

Tembakan berikutnya tepat mengenai pusat sasaran.

Setidaknya ada sesuatu dalam hidupnya yang masih bersedia bekerja sesuai keinginan.

Enam bulan lalu, Pond mengira mungkin ia membutuhkan hubungan.

Bukan hubungan dalam pengertian menikah, membeli rumah bersama, memiliki tiga anak dan seekor Golden Retriever.

God, no.

Ia hanya berpikir hidupnya terlalu datar.

Bisnis berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Entertainment company yang dibangunnya tiga tahun lalu sudah menjadi salah satu pemain besar di industri. Produk minuman yang awalnya dianggap proyek sampingan berkembang menjadi salah satu lini bisnis paling menguntungkan. Clothing brand mereka bahkan sudah memiliki dua lini berbeda—satu untuk pasar menengah dan satu lagi yang harga sehelai jaketnya cukup untuk membuat Ryz mengatakan, dengan wajah datar, bahwa manusia sudah kehilangan akal sehat.

Pond tidak membantah.

Orang tetap membelinya.

Ia punya mansion yang terlalu besar untuk ditinggali satu orang, koleksi mobil yang jarang dikendarainya sendiri, ruang menembak pribadi, arena memanah yang ukurannya nyaris tidak masuk akal, dan rekening bank yang memungkinkan dirinya membeli hampir semua benda yang kebetulan menarik perhatiannya.

Tetapi pukul sembilan malam tetap terasa seperti pukul sembilan malam.

Sepi.

Kosong.

PondPhuwin Oneshot CompilationDes histoires addictives. Découvrez maintenant