Rasa sakit itu datang tanpa peringatan.
Melati meremas dadanya kuat-kuat, meratapi napasnya yang mendadak hilang seolah pasokan udara di sekitarnya disedot habis. Suara riuh lalu lintas di luar jendela kantornya memudar, digantikan oleh suara dengung nyaring di dalam kepala. Sebelum tubuhnya ambruk menghantam lantai dingin, pikiran terakhir Melati hanya satu: Aku mati di umur dua puluh lima.
Lalu, segalanya menjadi gelap.
Keheningan yang mencekam itu tidak bertahan lama. Kehangatan perlahan menjalar, diikuti oleh bau minyak lavender yang menyengat dan aroma kayu lapuk.
Melati membelalakkan mata. Ia terengah-engah, memegang dadanya secara refleks. Tidak ada rasa sakit yang menusuk.
Jantungnya berdetak stabil, meski agak cepat karena kepanikan.
"Kenapa? Kau kecewa karena masih bernapas, Jasmine?"
Sebuah suara dingin bertolak belakang dengan kehangatan ruangan itu menyapa indra pendengarannya. Melati menoleh patah-patah.
Seorang pria paruh baya berdiri di tepi tempat tidur bertiang kayu yang sangat megah. Pria itu mengenakan mantel berhias sulaman benang emas, menatap Melati dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak ditutupi.
"Kau selalu membuat kekacauan," lanjut pria itu tajam. "Serangan jantung mendadak? Dokter bilang itu karena sihirmu yang tidak stabil. Kau hampir saja membuat malu nama keluarga Duchy von Hazel lagi."
Melati terpaku. Duchy? Jasmine? Sihir?
Ia mencoba bersuara, tetapi tenggorokannya terasa kering. Melati mengalihkan pandangan ke tangannya sendiri. Tangan yang tadinya penuh kapalan akibat mengetik laporan pekerjaan kini terlihat sangat halus, dengan jemari lentik dan kulit pucat yang hampir transparan.
Saat pandangannya tidak sengaja menangkap cermin besar di sudut kamar, napas Melati kembali tercekat.
Pantulan di cermin itu bukanlah dirinya. Perempuan di sana memiliki rambut perak berkilauan yang terurai acak dan mata berwarna ungu jernih-ciri khas yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang Melati dari Jakarta.
Memori asing mendadak berhamburan masuk ke dalam kepalanya, membawa rasa pening yang hebat.
Jasmine Putri von Hazel. Putri kedua dari Duke Hazel. Seseorang yang sejak lahir dianggap membawa kesialan karena ibunya meninggal saat melahirkannya, dan bakat sihirnya dianggap 'terkutuk' oleh para tetua kerajaan. Diasingkan di paviliun belakang, diabaikan, dan dibenci oleh keluarganya sendiri.
Jasmine yang asli telah menyerah pada hidupnya beberapa saat lalu-mati secara tragis di atas tempat tidur ini karena tubuhnya yang lemah tidak mampu menahan tekanan sihirnya sendiri.
Dan sekarang, aku yang mengisi tubuh ini? Melati membatin, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja terjadi.
"Dengar baik-baik, Jasmine," suara Duke Hazel kembali menggelegar, memutus lamunan Melati. "Raja telah menyetujui permintaan perjodohan dari Wilayah Utara. Dalam tiga bulan, kau akan menikah dengan Grand Duke Cassian."
Duke Hazel maju satu langkah, menatap anak perempuannya dengan dingin. "Itu satu-satunya caramu berguna bagi keluarga ini. Jadi, jangan berani-berani mati sebelum hari itu tiba."
Tanpa menunggu jawaban, pria yang berstatus sebagai ayah dari tubuh ini berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu kamar dengan keras.
Keheningan kembali menguasai ruangan.
Melati menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang, lalu perlahan membukanya kembali. Matanya yang berwarna ungu kini tidak lagi memancarkan keputusasaan seperti milik Jasmine yang dulu.
Ada kilatan tegas di sana.
"Gila," gumam Melati dengan suara serak. "Mati karena serangan jantung di dunia asal, lalu bertransmigrasi ke tubuh putri buangan yang mau dijadikan wadah politik?"
Melati tersenyum tipis-senyuman sinis yang tidak pernah ditunjukkan oleh Jasmine sebelumnya.
"Keluarga penindas, stigma pembawa sial, dan calon suami dari utara yang katanya berbahaya..." Melati menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. "Kalian salah besar kalau berpikir aku bakal pasrah begitu saja."
YOU ARE READING
FLAT
FantasyKematian karena serangan jantung mendadak seharusnya menjadi akhir dari kisah Melati. Namun, ia justru terbangun di dalam tubuh Jasmine putri kedua seorang duke yang dibenci, diasingkan, dan dicap sebagai pembawa kesialan oleh keluarganya sendiri. B...
