Prolog - Nama yang Telah Dilupakan
-ˋˏ✄┈┈┈┈-ˋˏ✄┈┈┈┈-ˋˏ✄┈┈┈┈-ˋˏ✄┈┈┈┈
Salam, namaku Arkasa.
Dulu, namaku selalu bergema di seluruh benua. Aku masih mengingat rasanya bagaimana orang-orang itu menyoraki namaku, senyuman mereka yang merekah sempurna ketika melihatku.
Ah... tapi sekarang aku hanya bisa berdiam diri di dalam ruangan putih hampa, ditemani suara-suara mesin yang menunjang hidupku.
Dan aku hanya bisa menyaksikan dalam bisu, saat mereka yang dahulu mengagungkanku berteriak memberontak kepada para aparat.
Dulu, aku masih bisa melihat kebahagiaan.
Namun, semenjak posisiku dilengserkan secara paksa oleh orang yang seharusnya menggantikan posisiku...
Semuanya berubah.
Namanya masih sering disebut di seluruh penjuru benua.
Bukan dengan sorakan bahagia seperti yang dahulu kuterima.
Melainkan dengan umpatan, tangisan, dan doa-doa yang tak lagi ditujukan kepada para dewa.
Aku masih ingat hari ketika mahkota itu berpindah tangan.
Hari ketika seluruh pejabat berdiri di hadapanku dengan kepala tertunduk, sementara seseorang yang kukenal sejak kecil melangkah menuju singgasana.
Ia tersenyum.
Senyuman yang dahulu selalu kuanggap tulus.
"Arkasa, beristirahatlah."
Begitu katanya.
Seolah-olah aku hanyalah seorang raja tua yang telah menyelesaikan tugasnya.
Padahal, saat itu, usiaku bahkan belum mencapai tiga puluh tahun.
Dan tubuhku masih cukup kuat untuk mengangkat pedang.
Aku tidak dilengserkan karena lemah.
Aku tidak dilengserkan karena gagal.
Aku dilengserkan karena seseorang menginginkan benua ini menjadi miliknya.
"Yang Mulia?"
Suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu.
Aku tidak menjawab.
Bukan karena aku tidak ingin.
Melainkan karena suara itu sudah lama meninggalkan tubuhku.
Aku hanya mampu menggerakkan kedua mataku, menyaksikan bayangan perempuan itu mendekat melalui pantulan kaca.
Ia mengenakan seragam putih.
Di dadanya tersemat lambang kerajaan.
Lambang yang dahulu kubuat sendiri.
"Yang Mulia Arkasa, apakah Anda masih sadar?"
Aku menatapnya.
Perempuan itu tersenyum kecil.
Senyuman yang terlalu hati-hati.
Seperti seseorang yang sedang berbicara kepada binatang buas yang terluka.
"Rakyat kembali berkumpul di ibu kota."
Aku berkedip.
"Jumlahnya semakin banyak. Mereka menuntut agar pemerintahan saat ini mengembalikan Anda ke singgasana."
Ah.
Jadi mereka masih mengingatku.
Sungguh lucu.
Dahulu, ketika aku masih berdiri di hadapan mereka, mereka memintaku untuk tetap menjadi pemimpin.
Sekarang, ketika aku bahkan tidak mampu mengangkat kepalaku sendiri...
Mereka baru menginginkanku kembali.
"Namun, Yang Mulia..."
Perempuan itu berhenti.
Aku menunggu.
"Rakyat tidak mengetahui bahwa Anda masih hidup."
Suara mesin di samping ranjangku terus berbunyi.
Bip.
Bip.
Bip.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ingin tertawa.
Sayangnya, tubuhku tidak lagi mengingat bagaimana caranya.
Yah begitulah 😛
