Prolog

1 0 0
                                        

Aku takut. Sungguh. Aku tidak tahu sejak kapan rasa takut menjadi sesuatu yang begitu akrab bagiku. Mungkin sejak aku mulai mengerti bahwa rumah tidak selalu berarti tempat seseorang merasa aman. Atau mungkin jauh sebelum itu. Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Setidaknya, begitulah yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri. Ayah selalu sibuk. Mario hampir tidak pernah keluar dari kamarnya. Dan aku tidak pernah memiliki seorang ibu yang bisa kupanggil ketika aku takut, ketika aku sakit, atau ketika aku hanya ingin bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Jadi aku belajar untuk tidak terlalu membutuhkan siapa pun. Aku belajar makan sendiri. Belajar tidur sendiri. Belajar menyimpan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah benar-benar mengerti mengapa aku masih merasa takut. Bukankah seharusnya seseorang yang sudah terbiasa sendirian tidak lagi takut kehilangan?

Ternyata aku salah. Karena ada perbedaan antara terbiasa sendirian dan benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Aku baru memahami perbedaannya setelah semuanya terlambat. Jika seseorang bertanya kepadaku apa yang sebenarnya kuinginkan dalam hidup, jawabannya sangat sederhana. Aku ingin hidup normal. Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin pergi ke sekolah, bertengkar dengan kakakku karena hal-hal kecil, memiliki teman yang mungkin suatu hari akan kulupakan, lalu menjadi dewasa. Aku ingin bekerja. Mungkin menikah. Mungkin memiliki anak. Kemudian menjadi tua dan mati. Hanya itu. Lucu, bukan?

Orang-orang menghabiskan hidup mereka mengejar sesuatu yang besar. Ada yang menginginkan kekayaan. Ada yang ingin terkenal. Ada yang ingin hidup selamanya. Ada pula yang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk menemukan seseorang yang bisa mereka cintai. Aku tidak menginginkan semua itu. Aku hanya ingin menjadi seperti mereka. Manusia biasa. Seseorang yang tidak perlu bertanya-tanya mengapa tubuhnya tidak terluka ketika seharusnya terluka. Seseorang yang tidak perlu takut pada sesuatu yang bahkan belum terjadi. Seseorang yang bisa mati ketika waktunya tiba. Karena itulah bagian paling aneh dari kehidupanku. Aku sudah mati. Berkali-kali. Aku hanya belum tahu bagaimana menjelaskannya. Aku tidak pernah menghitungnya dengan benar. Lagipula, bagaimana mungkin seseorang menghitung kematiannya sendiri ketika setiap kematian membawanya ke tempat dan waktu yang berbeda? Yang kutahu, setiap kali sesuatu seharusnya mengakhiri hidupku, aku selalu terbangun lagi. Tubuhku tetap utuh. Tidak ada luka. Tidak ada bekas. Seolah-olah kematian hanya terjadi kepada orang lain. Dulu aku mengira semua orang seperti itu. Aku benar-benar bodoh. Aku baru mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku setelah kehidupan keluargaku berubah.

Semuanya bermula dari kebun yang dikelola ayahku, Lionel Hercho de Medouse. Ayah bukan pemilik seluruh dunia seperti yang mungkin dibayangkan orang ketika mendengar seseorang mengelola perkebunan. Ia hanya mengurus apa yang menjadi tanggung jawabnya. Tanah, tanaman, para pekerja, hasil panen, dan berbagai hal lain yang dulu tidak pernah kupedulikan. Bagiku, kebun itu hanya tempat ayah pergi setiap pagi. Lalu Jepang datang. Aku tidak benar-benar memahami apa yang mereka lakukan. Aku hanya tahu kebun itu bukan lagi milik kami. Dan sejak hari itu, ayah berubah.

Ia masih pergi setiap pagi. Masih mengenakan pakaian kerjanya. Masih membawa dirinya seperti seseorang yang harus melakukan sesuatu. Tetapi hampir setiap malam ia pulang dengan bau alkohol yang begitu kuat sampai aku bisa menciumnya bahkan sebelum ia membuka pintu. Kadang-kadang ia berjalan sempoyongan. Kadang ia tidak mengatakan apa pun. Kadang ia hanya duduk di kursi ruang makan dan memandangi tangannya sendiri. Aku pernah memperhatikannya cukup lama pada suatu malam. Tangannya gemetar. Aku ingin bertanya apakah ia sakit. Tetapi entah mengapa, aku takut. Bukan takut kepada ayah. Aku takut melihat jawabannya. Jadi aku pergi ke kamar.

Mario lebih buruk. Atau mungkin aku hanya tidak tahu bagaimana harus memahami dirinya. Ia mulai mengurung diri. Pintunya hampir selalu tertutup. Aku sering mendengar suara benda jatuh dari dalam kamarnya. Kadang suara kaca pecah. Kadang sesuatu seperti ledakan kecil. Ketika aku bertanya, Mario selalu mengatakan tidak terjadi apa-apa. Aku tahu dia berbohong. Tapi aku juga tahu dia tidak ingin aku bertanya. Jadi aku berhenti. Biasanya aku hanya keluar dari kamar ketika ayah pergi. Mario juga begitu. Kami seperti dua orang yang tinggal di rumah yang sama tetapi menjalani kehidupan masing-masing. Kadang aku bertanya-tanya apakah dia sebenarnya membenciku. Kemudian aku menyadari bahwa mungkin dia hanya takut kepadaku. Atau takut kepada dirinya sendiri. Aku tidak pernah tahu.

Tentang ibuku... Aku juga tidak tahu. Ayah mengatakan ia meninggal ketika melahirkanku. Mario mengatakan hal yang sama. Jadi aku mempercayainya. Setidaknya dulu. Namun para tetangga memiliki cerita lain. Mereka mengatakan ibu melarikan diri. Ada yang mengatakan ia pergi karena sesuatu yang dilakukan ayah. Ada yang mengatakan ia takut. Ada juga yang berhenti berbicara ketika aku lewat. Aku pernah mencoba mencari tahu. Hanya sekali. Aku bertanya kepada ayah di mana ibuku dikuburkan. Ayah tidak menjawab. Ia hanya menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengatakan, "Jangan cari dia."

Aku tidak pernah bertanya lagi. Lagipula, apa gunanya? Selama empat belas tahun hidupku, aku sudah terbiasa tidak memiliki ibu. Aku tidak tahu seperti apa suaranya. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya ketika tersenyum. Aku bahkan tidak tahu apakah ia pernah benar-benar menginginkanku. Jadi untuk apa aku memikirkannya sekarang? Aku sudah memiliki terlalu banyak hal yang tidak kumengerti. Ayah. Mario. Diriku sendiri. Dan kehidupan yang semakin hari terasa semakin asing.

Saat itu aku belum tahu bahwa semua yang kukira sebagai masalah terbesar dalam hidupku sebenarnya hanyalah permulaan. Aku belum tahu bahwa ayah akan segera mati. Aku belum tahu bahwa Mario akan benar-benar sendirian. Aku belum tahu bahwa Bandung akan terbakar. Dan aku belum tahu bahwa sebuah surat dari seseorang bernama Briggit akan membuatku meninggalkan semuanya. Yang paling tidak kuketahui adalah... aku belum tahu bahwa selama ini aku tidak sedang mencoba mencari kehidupan normal. Aku sedang mencoba menemukan kehidupan yang tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi milikku. Dan mungkin... itulah sebabnya waktu tidak pernah membiarkanku tinggal di satu tempat terlalu lama. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 11 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sang Pelompat WaktuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang