happy reading
> Catatan: Qihan dan Bowen adalah mahasiswa berusia 21 tahun.
Hujan selalu turun di kota itu setiap pukul lima sore.
Bukan hujan deras yang membuat orang takut keluar, melainkan gerimis panjang yang membuat jalanan berkilau seperti kaca. Orang-orang menyebutnya hujan senja. Bowen menyebutnya alasan untuk pulang lebih lambat.
Sejak kuliah dimulai tiga tahun lalu, Bowen punya kebiasaan aneh. Setelah kelas selesai, dia tidak langsung kembali ke kos. Dia akan duduk di halte tua depan kampus, memakai headset tanpa memutar lagu, lalu menatap kendaraan yang lewat sampai langit berubah gelap.
Banyak orang mengira dia sedang menunggu seseorang.
Padahal kenyataannya, dia cuma tidak ingin pulang ke kamar yang terlalu sunyi.
Kosnya kecil. Hanya ada kasur, meja belajar, rak buku, dan tanaman kaktus yang bahkan lebih sering diajak bicara daripada manusia.
"Lo nggak bosen sendirian?"
Raka pernah bertanya.
Bowen cuma tersenyum.
"Kalau udah biasa, sepi nggak terlalu berisik."
Raka tidak pernah mengerti maksudnya.
Dan mungkin memang tidak ada yang benar-benar mengerti Bowen.
Hari Senin itu langit mendung sejak pagi.
Dosen membatalkan kelas terakhir karena listrik padam, membuat seluruh mahasiswa keluar lebih cepat. Bowen berjalan pelan menuju halte sambil memeluk map gambar agar tidak basah.
Baru saja dia duduk, seseorang berhenti di depannya.
"Permisi."
Bowen mendongak.
Cowok tinggi dengan jaket hitam berdiri sambil membawa payung biru. Rambutnya sedikit basah, napasnya masih terengah seperti habis berlari.
"Bangku ini kosong?"
Bowen melirik kanan kiri.
"Kalau lo belum duduk, iya."
Cowok itu tertawa kecil.
"Berarti sekarang nggak kosong lagi."
Dia duduk tepat di samping Bowen tanpa terlihat canggung sedikit pun.
Hening.
Hanya suara hujan yang jatuh di atap halte.
Lalu cowok itu mengulurkan tangan.
"Qihan."
Bowen menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya membalas.
"Bowen."
"Nah, gitu dong."
"Apanya?"
"Salaman."
Bowen menarik tangannya kembali.
"Lo anak fakultas seni?"
"Iya."
"Pantes map lo penuh sketsa."
Bowen baru sadar sebagian gambarnya terlihat dari sela map.
"Lo kepo."
"Profesi."
"Profesi apa?"
"Fotografer."
Qihan mengangkat kamera yang menggantung di lehernya.
