Fourth mendengus kesal, seraya menatap jurnal absen yang ada di atas meja guru. "Membolos lagi. Dia benar-benar akan tertinggal di kelas ini jika terus seperti ini." Mulutnya mengomel jengkel, tapi matanya menerawang sedih. Begitu banyak keterangan bolos di buku jurnal atas nama Gemini.
Fourth pikir, dulu hidupnya sudah yang paling berat dan menderita. Terlahir dari keluarga miskin, yang nyaris saja hampir membuatnya tak bisa melanjutkan ke jenjang sma, andai dirinya tidak mendapatkan beasiswa. Orang tua Fourth bercerai karena kemiskinan terus menjadi konflik pertengkaran kedua orang tuanya. Tapi setelah Fourth masuk ke sma, ternyata di atas penderitaannya masih ada duka milik temannya yang bernama Gemini. Yang bahkan mungkin Fourth tak akan mampu melewatinya, meski diganjar kaya raya sekalipun. Ternyata uang tak selalu membuat orang menjadi bahagia.
Nanon, siswa itu datang menghampiri si ketua kelas, Fourth, yang terbengong di depan. Nanon menunjukkan rengutan pada wajahnya yang tampan, sembari tersenyum tipis. Pemuda yang tak lebih tinggi dari Fourth itu merangkul pundak rapuh sahabatnya. "Mau bagaimana lagi. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Gemini.
Nanon berkata begitu, seolah dia tau kesulitan apa yang sedang dialami oleh Fourth atau Gemini.
Yah ... Nanon memang tau. Lebih dari kata tau, bahkan dia juga melihat pagi tadi, Gemini berjalan menyusuri trotoar dengan wajahnya yang lusuh. Nanon bahkan bisa menebak jika Gem tak mendapatkan tidur yang nyenyak lagi semalam. Kenapa? Kenapa Gem semalang itu.
Nanon bukan pemuda yang minim empati. Rumah mereka berada di komplek yang sama. Dan Nanon bisa dibilang sudah mengenal Gemini sejak kecil. Tapi mereka, tidak bisa disebut teman. Bahkan jika ada yang mengira mereka tidak saling kenal pun, itu sangat wajar. Penyebabnya adalah Gemini, yang selalu mendorong semua orang-orang yang mendekat padanya, termasuk Nanon dengan segala uluran tangannya.
"Aku tak butuh teman. Aku tak butuh bantuan. Menyingkirlah, dan berhenti mengasihaniku." Seperti itulah omong kosong yang selalu Gemini katakan di depan Fourth dan Nanon. Terkadang Fourth dan Nanon lelah juga dan muak. Kenapa harus ada si Gemini yang angkuh. Tapi di sisi lain, ada iba yang meronta setiap kali melihat Gemini yang terdiam melamun di bangku kelas nya.
Gemini benar-benar tidak bisa diabaikan.
"Gemini ... apa itu berat?"
Pertanyaan konyol itu, pernah meluncur dari mulut Fourth begitu saja 4 bulan yang lalu. Setelah itu Fourth mengumpat dan memaki dirinya sendiri. Kenapa ia harus mempertanyakan hal yang jelas menyakitkan bagi seorang Gemini. Tentu saja apa yang dialami Gemini sangatlah berat, bahkan untuk menjawabnya saja Gemini tampak tak mampu. Tapi untuk pertama kalinya, Fourth melihat airmata jatuh membasahi pipi Gemini.
Gemini juga pemuda yang rapuh.
Kelas sudah dimulai, ditandai dengan murid yang duduk dengan tertib setelah Wali kelas yang bernama Tay Tawan masuk, dan memberitahukan jika mulai hari ini Gemini tidak akan lagi bersekolah si sini.
Beberapa murid tampak acuh dan tak perduli, tapi untuk Fourth dan Nanon mereka jelas perduli. Gemini sedang tidak baik-baik saja. Dan tak ada satupun orang yang dapat menolongnya, karena sejatinya Gemini memang tidak ingin ditolong. Gemini ingin menyakiti dirinya sendiri.
[[ SEKILAS TENTANG KITA ]]
Gemini berjalan lemah dengan langkah kakinya yang terseok, menyusuri trotoar jambatan. Dia lapar, dan dia juga haus. Udara yang dingin di pagi hari, juga menjadi pemicu kondisi tubuhnya menjadi tidak sehat. Bibirnya mulai pucat, dan kakinya mulai tremor. Lapar adalah hal yang tidak bisa disepelekan.
"Aku lapar ..." Akhirnya Gemini bersuara. Ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Sepertinya Gemini akan pingsan jika masih terus memaksa melanjutkan perjalanannya.
Seseorang menoleh saat mendengar suara lembut Gemini mengeluhkan perutnya yang lapar, menatap dengan senyumannya yang hangat. Udara dingin yang memeluk Gemini beberapa saat lalu, tiba-tiba saja menguap hilang. Hanya karena melihat senyuman hangat itu, seolah secercah harapan Gemini untuk tetap bertahan hidup kembali lagi.
"Kau ingin aku mentraktirmu adik kecil? kasihan sekali kamu, kesinilah, biarkan Phi memelukmu terlebih dahulu." Orang itu merentangkan tangannya.
Gemini tersenyum merekah bahagia. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan airmatanya. Kakinya melangkah mendekat dan menerima uluran tangan yang menariknya dalam pelukan.
"Siapa namamu, dan di mana orang tuamu, hum ...." Rambut belakang Gemini dielus lembut, dan Gemini semakin tergugu dalam pelukan.
"Aku lapar Phi ... aku sangat lapar ..." Dan Gemini hanya bisa menangis sambil merengek seperti anak kecil. Tidak apa-apa, kakaknya melupakan lagi siapa dirinya. Setidaknya kali ini kakaknya memanggilnya adik dan mau memeluknya.
.
..
.
Bersambung
