Tatjana Rana, dua puluh tujuh tahun, adalah seorang Collection Merchandiser untuk divisi Women's Ready-to-Wear di Aux Blanc, salah satu rumah mode ekpansi dari Prancis yang berpusat di Jakarta. Tugasnya hanya satu, memastikan setiap koleksi yang lahir dari meja para desainer menemukan tempatnya di dunia nyata.
Rana tidak mendesain pakaian, tetapi ia menjadi penghubung antara koleksi yang diciptakan oleh tim kreatif di Paris dengan konsumen di kawasan Asia. Menganalisis apakah koleksi tersebut dapat diterima oleh pasar terutama di Indonesia. Ia yang mempelajari tren lokal, perilaku konsumen, data penjualan, harga, serta performa setiap produk sebelum memberikan rekomendasi kepada tim regional maupun kantor pusat di Paris.
Anehnya, dia belum, atau tidak boleh untuk meninggalkan Indonesia. Padahal tawaran untuk menjadi Head of House di Aux Blanc Paris sudah ia terima, namun terpaksa ia tolak hanya karena satu orang yang sangat menyukai kinerjanya dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Siapalagi kalau bukan, Damia Hartono, sepuh dunia mode Indonesia, pemilik Hartono Group mendampingi suaminya, Haris Hartono. Damia memiliki hubungan yang panjang dengan rumah-rumah mode Eropa, buyer internasional, editor majalah, dan tokoh-tokoh industri dari Paris hingga Milan. Bahkan, undangan ke Paris Fashion Week bukan lagi sesuatu yang perlu ia kejar. Kursi di barisan depanlah yang menunggunya.
Dami Hartono dengan selendang batik mega mendungnya saat ini mengajaknya berbicara di ruang kantornya yang terletak di lantai tiga puluh dua, memperlihatkan Jakarta yang sibuk dan berdebu. Namun, Damia salah karena mengajaknya berbicara ketika dia sedang terpaku membaca satu pesan di ponselnya.
Satu pesan yang membuatnya kembali mengingat apa yang tidak perlu diingat.
"Tatiana, saya ingin ke Jogja mengunjungi Jean yang sebentar lagi wisuda. Kamu ikut saya. Pekerjaanmu dipindah saja"
Rana masih melihat ponselnya tidak menjawab Damia Hartono, salah satu pemegang saham Aux Blanc di Asia yang memintanya untuk ikut ke Jogja menghadiri wisuda Jean, anak ketiga Damia. Tetapi Rana tidak sadar kalimat terakhir yang dikatakan wanita berumur enam puluh tahun itu karena masih tidak percaya apa yang sedang dia lihat di ponselnya
"Halo? Tatiana?"
Rana tersadar dan dengan cepat dia menguasai keadaan dan mengangguk,"Ya, Ibu. Kapan kita berangkat?"
"Lusa, besok saya harus ke Haris terlebih dahulu"
"Jantung Ibu sakit lagi?" tanya Rana khawatir mengingat penyakit jantung koroner yang diderita Damia
"Tidak, tapi pria tua sialan itu yang sungguh cerewet"
Rana tertawa mendengarnya, Haris Hartono, suami Damia Hartono adalah dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Nasional Cipto Mangunkusumo.
"Kamu juga harus koordinasi dengan Rio, dia akan cepat menangani perpindahan kamu"
"Saya mau dipindah kemana, Bu?" Rana terkejut setengah mati mendengarnya, Damia menghembuskan napas melihat perempuan yang telah menjadi tangan kananya menjalankan Aux Blanc selama lima tahun terakhir.
"Apa yang terjadi di ponselmu tadi? kamu akan saya pindahkan ke Jogja, agar lebih dekat dengan saya"
Rana mengerjap tidak percaya, yang terdapat di Jogja adalah exclusive fashion house milik Damia Hartono sendiri. aDisamping Aux Blanc, wanita itu juga menjalankan gurita bisnisnya yang telah membuatnya masuk kategori lima besar woman's world in fashion milik majalah Vogue yang cukup beroperasi dirumahnya dengan pemandangan sawah dan gunung merapi.
"Mbak Fransesca nanti kemana, Bu?" Fransesca Ayu, tangan kanan Damia yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun tidak mungkin berhenti begitu saja.
"Dia akan pindah ke Aux Blanc Paris bersama keluarganya. Keputusan dia sudah bulat, saya bisa apa" terdengar nada kecewa dari bicaranya dan Rana tidak tahu harus apa selain diam.
Aku juga tidak bisa apa-apa
"Apa yang ada di ponselmu? Pucat muka kamu, Tatiana. Sebaiknya kamu cepat pulang dan beristirahat" ucap Damia khawatir
Oh, ya. Kalau bisa aku sudah muntah membaca pesan bertuliskan "Saya di Jogja, Ra. Mau ketemu?" yang dikirim pria yang dulu aku kejar sampai membuatnya hampir berpisah dengan pacarnya itu.
"Tidak ada, Bu. Saya lihat diskon di Zara saja tadi, gede banget. Mau shopping deh habis ini" ucapnya berbohong
"Loh ya cepat sana ke GI! mau diantar Pak Budi?"
"Tatiana bawa mobil sendiri kok, Bu. Ibu pulang duluan saja"
"Yowes, saya titip minuman hijau itu ya..apa ya namanya?"
Rana mengernyit memikirkan minuman yang dimaksud Damia, "Jean bawa untuk saya minggu lalu yang kata dia bikin saya lambat menua. Lagi trend itu lho, Nduk"
"Oh, matcha?"
"Ya, saya mau satu, deh!''
Rana tertawa lagi namun, tawanya cepat terhenti melihat notifikasi ponselnya, jantungnya juga ikut berhenti dan dia berpikir harus ikut berkonsultasi bersama Damia kepada Haris Hartono.
"Saya melamar dia, Ra. Belum diterima"
