Teman Sekolah

8 1 0
                                        

"Sayang, meja ini lucu ya. Rencana aku check out buat meja santai di atas." Nana menunjukkan meja berukuran 100 × 50 cm yang ia temukan di aplikasi Oren kepada calon suaminya.

Malik melirik sekilas, Ia masih sibuk scrolling Instagram ketika matanya menangkap gambar meja berbentuk gelombang itu.

"Lucu sih, yang. Bentuknya gelombang. Beli aja," ucapnya santai.

Nana kembali menatap layar ponselnya.

"Beneran?"

"Iya."

"Serius? Jangan nanti pas udah dibeli kamu bilang kegedean."

"Enggak, sayang. Itu ukurannya cukup kalau mau diletakkan di ruang tengah atas."

Malik dan Nana telah menjalani hubungan selama satu tahun. Dan kini, mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu rumah yang perlahan mulai menjadi rumah mereka-rumah berukuran 7 × 12 meter yang akhirnya berdiri kokoh setelah berbulan-bulan dibangun.

Rumah itu sudah hampir selesai. Progresnya mencapai 95%.

Setelah rumah ini siap dihuni, Malik dan Nana berencana menikah. Akhirnya, mereka akan benar-benar menjadi suami dan istri. Sebuah kelegaan bagi keduanya setelah perjalanan panjang yang membawa mereka sampai di tahap ini.

Siapa sangka takdir akan membawa mereka sejauh ini?

Malik dan Nana sebenarnya sudah saling mengenal sejak sekolah dasar. Mereka adalah teman semasa SD, tetapi nyaris tidak pernah berinteraksi. Bahkan, mungkin saat itu mereka tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti akan duduk berdampingan sebagai sepasang calon suami istri.

Memang, tidak ada yang pernah tahu ke mana jodoh akan membawa seseorang.

Nana masih sibuk melihat-lihat barang untuk mengisi rumah mereka. Televisi baru, meja hias, gorden, hingga berbagai perabot kecil lainnya sudah masuk ke dalam daftar belanja.

Kepalanya masih bersandar di bahu Malik ketika ia melirik layar ponsel calon suaminya.

Malik sedang membuka Instagram.

Nana memperhatikan sebuah akun yang sedang dilihat Malik.

"Itu siapa, yang?" tanyanya, masih dalam posisi yang sama.

"Rena."

Nana mengernyit kecil.

"Bukannya akun Instagram Rena bukan yang itu?"

"Iya. Ini second account-nya," jawab Malik santai.

Nana yang semula bersandar di bahu Malik langsung menegakkan kepalanya.

Ponsel yang sejak tadi berada di tangannya dan masih menampilkan aplikasi Oren ia letakkan di samping.

"Kita mau nikah, loh, Yang."

Malik masih dengan posisi yang sama. Tatapannya bahkan belum beranjak dari layar ponselnya.

"Emang kenapa? Kamu kenapa?"

Nana menatapnya tidak percaya.

"Kamu masih tanya aku kenapa?"

Malik akhirnya mengalihkan pandangannya.

"Rena teman aku dari sekolah. Apa salahnya aku masuk second account Rena?"

Nana terdiam beberapa detik.

Entah karena kesal, kecewa, atau merasa bahwa perkataannya tidak pernah benar-benar dimengerti oleh Malik.

"Gak ada otak, emang kamu."

Nana berdiri dari sofa.

Tanpa menunggu jawaban Malik, ia mengambil barangnya dan berjalan keluar meninggalkan rumah yang seharusnya sebentar lagi menjadi rumah mereka.

Rumah yang mereka bangun bersama.

Rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan mereka sebagai suami istri.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Nana bertanya-tanya apakah rumah yang sedang mereka bangun benar-benar akan menjadi tempat mereka memulai kehidupan bersama-atau justru menjadi saksi dari sesuatu yang perlahan mulai retak.

Things That Hurt Me Stories to obsess over. Discover now