Icing on the Rivalry

1.1K 140 13
                                        


wkwkw coba kita tulis bermodal riset super dangkal dari google overview ( males riset)

ada req di alter, jadi penasaran series apaan itu


---

Udara di dalam locker room memiliki tekstur yang khas,campuran antara uap air hangat, aroma logam dari bilah sepatu luncur yang baru diasah, dan sisa deterjen dari handuk-handuk yang dilipat rapi oleh staf perlengkapan. 

Bagi sebagian besar pemain, ini adalah ruang transisi, tempat mereka melepas atribut manusia biasa dan mengenakan zirah atlet profesional. 

Bagi Choi Jiwoo, ini adalah ruang sakral. Di sinilah seluruh dirinya yang lain ditinggalkan di balik pintu, digantung bersama jaket tim, disimpan bersama ponsel yang diatur dalam mode senyap.

Ia duduk di bangku kayu panjang yang sudah usang, tubuhnya tegak sempurna seperti poros yang menahan seluruh ruangan. Matanya setengah terpejam, bukan karena kantuk, tetapi karena ia sedang melakukan apa yang selalu ia lakukan empat puluh lima menit sebelum pertandingan dimulai, membangun benteng.

Tidak ada yang boleh masuk.

Suara-suara di sekelilingnya,obrolan rekan setim, bunyi lakban yang merobek dari gulungan, denting botol minum semua terdengar seperti dengung jauh di balik dinding tebal konsentrasinya. Jemarinya bergerak metodis membalut gagang stik dengan lakban hitam, setiap putaran presisi, setiap lipatan rapi. Ritual kecil yang memberinya ilusi kendali atas segala hal yang tidak mungkin dikendalikan.

Pintu locker room terbuka. Suara langkah kaki yang tidak terlalu berat, tapi tidak bisa disebut ringan. Ada irama tertentu di dalamnya, langkah seseorang yang tidak pernah ragu. Jiwoo tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang baru saja masuk. Aroma parfum itu selalu tiba beberapa detik sebelum pemiliknya, sesuatu yang hangat, sedikit manis, dengan dasar kayu yang samar. Terlalu mahal untuk seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya berkeringat di atas es.

Tapi Choi Jiwoo tidak peduli.

Bukan urusannya siapa yang masuk atau keluar. Selama empat puluh lima menit sebelum puck dijatuhkan, dunia luar tidak memiliki akses ke dalam dirinya. Ia terus membalut stiknya, gerakan tangannya tetap stabil, napasnya tetap teratur, seolah-olah kehadiran baru di ruangan itu hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mendapatkan perhatian.

Di sisi lain ruangan, Park Carmen melemparkan tas perlengkapannya ke bangku dengan gerakan yang lebih ceroboh daripada yang seharusnya dilakukan oleh atlet profesional. Bunyi resleting terbuka terlalu cepat, lalu suara sesuatu yang digeledah dengan tidak sabar. 

Beberapa pemain melirik, tapi hanya sebentar. Mereka sudah terbiasa. Carmen selalu seperti itu, energinya tidak pernah muat dalam ruangan manapun, apalagi ruangan yang diisi oleh orang-orang yang mencoba menenangkan diri.

Ia menarik handuk dari dalam tasnya, mengalungkannya ke leher, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan seperti orang yang baru saja tiba di pesta dan sedang mencari bar terdekat. Matanya berhenti sejenak pada sosok yang duduk di ujung bangku, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk, jemari yang membalut stik dengan presisi yang nyaris mengesalkan.

Carmen tersenyum.

Bukan senyum ramah. Senyum itu memiliki sudut yang tajam, seperti pisau yang baru saja diasah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan pandangannya menempel beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menunggu apakah objek pengamatannya akan bereaksi. Tidak ada reaksi. Jiwoo bahkan tidak mengangkat kepala.

"Interesting," gumam Carmen pada dirinya sendiri, lebih kepada udara daripada kepada siapa pun.

Ia melemparkan dirinya ke bangku, membuka ritsleting tas perlengkapannya lebih lebar, dan mulai mengeluarkan perlengkapannya satu per satu. Sarung tangan. Pelindung siku. Pelindung tulang kering. Setiap benda mendarat di lantai dengan bunyi yang tidak perlu sekeras itu. Seolah-olah Carmen ingin memastikan seluruh ruangan tahu bahwa ia ada di sana, bahwa ia tidak bisa diabaikan.

Hate You on IceStories to obsess over. Discover now