prolog

82 14 14
                                        

REVISI

Pagi hari selalu terasa sama.

Alarm berbunyi.

Dimatikan.

Lalu berbunyi lagi.

Dan akhirnya—

“Nuel! Bangun!”

Aku menarik selimut sampai menutupi kepala.

“Lima menit lagi…”

“Lima menit dari tadi!”

Aku mengerang pelan.

Suara Ribkael memang punya kemampuan luar biasa untuk menghancurkan sisa-sisa rasa kantukku.

“Bangun, Kak! Ibun sama Ibu udah di bawah!”

“Bilang aja aku belum bangun.”

“Udah.”

“Terus?”

“Katanya kalau lima menit lagi belum turun, sarapannya aku habisin.”

Aku langsung membuka mata.

“JANGAN!”

Tawa Ribkael terdengar dari balik pintu.

“HAHAHA, akhirnya bangun juga!”

Aku bangkit dari tempat tidur dengan wajah kusut.

Namaku Nioline Carnuel.

Tapi semua orang memanggilku Nuel.

Aku tinggal bersama Ibun, Ibu, dan adikku, Ribkael.

Kami memang tidak memiliki hubungan darah.

Aku dan Ribkael sama-sama anak adopsi.

Tapi sejak kecil, hal itu tidak pernah terasa seperti sesuatu yang harus dipermasalahkan.

Caroniel adalah Ibun.

Indah adalah Ibu.

Dan Ribkael adalah adikku.

Sesederhana itu.

Aku turun ke ruang makan dengan rambut masih berantakan.

Ribkael langsung menunjuk kursi di sebelahnya.

“Duduk.”

“Apa?”

“Cepat.”

Aku duduk sambil menatapnya curiga.

“Kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Kalau kamu bilang enggak kenapa-kenapa, berarti ada apa-apanya.”

Ribkael terkekeh.

Dari dapur, Ibu membawa beberapa piring dan meletakkannya di meja.

“Nuel, makan dulu.”

“Iya, Bu.”

Ibun yang duduk di ujung meja hanya memperhatikan kami.

Pagi itu sebenarnya tidak ada yang aneh.

Sampai aku menyadari satu hal.

Ibun beberapa kali melihat ke arah Ibu.

Seolah ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.

Aku berhenti makan.

“Kenapa?”

Ibun menatapku.

“Kenapa apa?”

“Dari tadi Ibun sama Ibu kayak mau ngomong sesuatu.”

Ibu tersenyum kecil.

“Nanti saja.”

“Nanti kapan?”

“Pulang sekolah.”

Aku semakin curiga.

“Serius?”

“Iya.”

Ribkael ikut menyela.

“Wah, Kak Nuel kena masalah.”

Aku langsung meliriknya.

“Diam.”

“Biasanya kalau orang tua bilang ‘nanti kita ngomong’, berarti masalah.”

“Ribkael.”

“Iya, iya.”

Aku kembali makan, meskipun pikiranku sudah mulai ke mana-mana.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku masih memikirkan perkataan Ibun.

Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa percakapan setelah pulang sekolah nanti akan mengubah banyak hal.

Sore itu, begitu sampai rumah, Ibun langsung memintaku duduk di ruang keluarga.

Ibu sudah ada di sana.

Aku menatap mereka berdua.

“Kenapa?”

Caroniel menghela napas pelan.

“Nuel, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.”

Aku mulai merasa tidak enak.

“Apaan?”

Indah menggenggam tangannya sendiri sebelum akhirnya berkata,

“Ini tentang kamu.”

Aku terdiam.

“...Tentang aku?”

Ibun mengangguk.

“Iya.”

Aku menunggu.

Sampai akhirnya satu kalimat keluar dari mulut Ibun.

“Kami ingin kamu bertemu dengan seseorang.”

Aku mengernyit.

“Siapa?”

Caroniel menatapku cukup lama.

“Namanya Serine Nelane.”

Aku mengulang nama itu dalam hati.

Serine Nelane.

Aku belum tahu siapa dia.

Aku juga belum tahu kenapa keluargaku ingin mempertemukanku dengannya.

Yang aku tahu saat itu hanya satu—

ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan.

Dan sesuatu itu ternyata jauh lebih besar daripada sekadar sebuah perkenalan.

Karena beberapa detik kemudian, Ibun mengatakan kalimat yang membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.

“Nuel... kamu akan dijodohkan.”

DIJODOHKAN? SERIUS?!Stories to obsess over. Discover now