Seo Jun berdiri dengan baju khas warga Anju. Wajahnya pun sudah dibiarkan ditumbuhi bulu halus, kini ditambahi jenggot palsu dan juga alis yang dibuat lebih tebal dari biasanya. Sementara itu, pipinya diberikan tahi lalat tambahan di atas bibirnya untuk penyamaran yang lebih meyakinkan. Dia dan Paman Hoshur akan pergi ke Ibu Kota dan mampir ke Wugu, menengok kampung halamannya yang mungkin sudah bukan lagi tempat yang ia ingat dulu.
"Hyung sekarang terlihat lebih seram, tapi bagus biar orang tidak mengenali hyung dan hyung jadi aman" celetuk Yun Xian yang melihat Seo Jun berjalan menghampirinya.
Seo Jun tersenyum lalu mengusap kepala Yun Xian pelan. "Hyung dan paman pergi dulu. Ingat jangan nakal-nakal, patuh dengan bibi shirin, ok?" tanya Seo Jun saat ia pamit dengan Yun Xian.
Yun Xian memeluk tubuh Seo Jun erat seakan tidak rela ditinggalkan, tetapi akhirnya remaja itu mengangguk pelan dan mulai melepaskan pelukannya. Dikecupnya juga kening remaja itu sebelum Seo Jun melangkah pergi bersama paman Hoshur.
Sekali lagi pemuda itu melambaikan tangan begitu masuk di dalam mobil truk dan duduk di samping paman Hoshur yang memegang kemudi. Yun Xian, Bihter dan Bibi Shirin ikut melambaikan tangan mengantarkan.
Melihat Yun Xian yang terdiam menatap mobil itu perlahan menjauh, Bither pun segera merangkul pundak remaja shuangti dan mengajaknya untuk membuat hiasan Festival Perahu Naga nanti. Bihter hanya berharap kegiatan ini bisa sedikit mengalihkan Yun Xian dan tidak akan terlalu memikirkan kepergian Seo Jun bersama Paman Hoshur.
Mobil terus melaju meninggalkan Anju. Padang pasir membentang sepanjang perjalanan mereka. Paman Hoshur sendiri memiliki tujuan yakni mengantarkan beberapa hasil tangkapan laut untuk ia jual di ibu kota seperti biasa, demi menghidupi keluarganya. Sama seperti seluruh warga Anju yang juga menjual hasil laut, serta beberapa kerajinan tangan untuk tetap bisa bertahan hidup.
Di tengah perjalanan saat hampir tiba, beberapa kendaraan militer terlihat melakukan patroli di jalur utama. Mobil mereka pun sempat dihentikan untuk pemeriksaan. Untungnya, para tentara tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Paman Hoshur sendiri memang sudah cukup dikenal oleh petugas di jalur tersebut, karena sering bepergian antara Anju dan ibu kota untuk menjual hasil laut.
Gerbang kota semakin dekat dan mereka masih harus melewati pemeriksaan lagi. Paman Hoshur memperlambat laju mobil sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah pos penjagaan. Setiap kendaraan yang keluar-masuk ibu kota harus melewati pemeriksaan dan pendataan sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.
"Selamat Sore," sapa Paman Hoshur kepada tentara yang bertugas di pos.
"Sore, Hoshur. Kau datang dengan siapa hari ini? Aku baru melihatnya pertama kali." Penjaga tersebut sempat memperhatikan Seo Jun beberapa detik.
"Ini Ayaz, masih kerabat Ehmet. Kebetulan Ehmet sedang kurang enak badan, sehingga ia meminta Ayaz untuk membantuku."
Penjaga itu mengangguk dan kemudian menekan tombol membuka gerbang otomatis dan mempersilakan Paman Hoshur masuk ke dalam kawasan Ibu kota. Perlahan mobil itu langsung menuju restoran langganan Paman Hoshur. Sebuah restoran seafood yang cukup besar dan sepertinya Seo Jun pernah ke tempat itu dulu bersama Yun Xian dan keluarganya.
"Ayo, Ayaz. Bantu paman membawa kotak-kotak ini ke dalam," ajak Paman Hoshur.
"Iya Paman," sahut Seo Jun dengan cepat mengikuti Paman Hoshur turun, membuka pintu bagian belakang mobil lalu menurunkan beberapa kotak yang berisi hasil laut.
Pemuda itu pun memanggul kotak-kotak tersebut dan membawanya masuk melalui pintu belakang restoran. Usai dengan urusan pengantaran hasil laut, Paman Hoshur dan Seo Jun diajak makan malam dengan pemilik restoran. Namun, paman Hoshur menolak tawaran tersebut dengan alasan masih ada urusan dan harus segera kembali ke Anju sebelum festival di mulai. Pemilik restoran pun mengangguk dan membungkuskan makan malam untuk mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Control
Science FictionRepublik Baru Zhonghua tahun 2030. Di mana pemerintah tengah mengejar keabadian peradaban melalui proyek penelitian Shuangti. Seorang ilmuwan jenius sekaligus pencetus program, Liu Xingzhe, menyambut kelahiran putra pertama yang telah lama dinanti...
