Sahabat?

136 17 1
                                        

****

Hujan turun sejak bel pulang sekolah berbunyi, meninggalkan jejak air di sepanjang jendela kelas yang mulai sepi. Suara langkah kaki para siswa perlahan menghilang dari koridor, digantikan oleh suara rintik hujan yang jatuh di atap gedung dan sesekali suara kendaraan dari jalan depan sekolah.

Yushi masih berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang mulai basah sambil menunggu seseorang yang sejak tasi masih sibuk membereskan buku-bukunya. Sebenarnya.. ia bisa saja pulang lebih dulu. Rumahnya tidak terlalu jauh dan hujan seperti ini bukan sesuatu yang membuatnya harus menunggu. Namun ada beberapa kebiasaan yang sepertinya sudah terlanjur menjadi bagian dari kesehariannya, dan salah satunya adalah pulang bersama Sahabatnya, Maeda Riku. Tidak peduli seberapa sederhana hal itu terdengar, Tokuno Yushi selalu menemukan alasan untuk menunggunya.

Ia menoleh ketika mendengar suara kursi digeser. Riku akhirnya berdiri dari tempat duduknya dengan tas yang sudah tersampir di bahu. Seragamnya tidak lagi serapi pagi tadi, dasinya longgar, lengan kemejanya digulung sampai siku, dan rambutnya sedikit berantakan karena berkali-kali di usapnya ketika mengerjakan soal matematika saat kelas berlangsung beberapa jam yang lalu. Pemandangan itu terlalu akrab bagi Yushi. Ah terlaku akrab. Ia sudah melihat Riku dalam terlalu banyak keadaan untuk sekadar menyebutnya sebagai teman biasa. Ia tahu kebiasaan-kebiasaan kecilnya, tahu bagaimana ekspresinya berubah ketika mengantuk, tahu suara tawanya ketika benar-benar merasakan sesuatu yang lucu dan tahu bagaimana Riku akan mencari keberadaannya lebih dulu setiap kali masuk kelas. Hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah disadari Riku, tetapi... diam-diam Yushi simpan seperti sesuatu yang mungkin sangat berharga baginya.

Mereka akhirnya berjalan keluar kelas dengan satu payung. Riku, seperti biasa, berjalan terlalu dekat karena payung yang mereka gunakan sebenarnya tidak cukup besar untuk dua orang. Bahu mereka sesekali bersentuhan setiap kali salah satu dari mereka bergeser menghindari genangan air di jalan. Tidak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan bagi Riku, kedekatan seperti itu mungkin sudah menjadi sesuatu yang sama sekali biasa. Sangat... biasa. Ia beberapa kali menarik lengan Yushi ketika sahabatnya itu hampir menginjak genangan, kemudian kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Yushi? Ia hanya bisa menahan napas setiap kali tangan Riku menyentuhnya terlalu lama. Barangkali itulah masalahnya.

Bagi Riku, semuanya memang selalu terasa biasa. Tapu bagi Yushi, tidak pernah ada satu pun yang benar-benar biasa di sini.

Mereka sudah terlalu dekat untuk disebut sekadar teman, tetapi terlalu tidak jelas untuk disebut lebih dari itu. Riku bisa tiba-tiba menyandarkan kepala di bahu Yushi ketika mengantuk, menggenggam tangannya ketika mereka menyeberang jalan meskipun tidak ada kendaraan yang mendekat, atau mengirim pesan tengah malam hanya untuk mengatakan bahwa ia sedang bosan dan ingin mendengar suara Yushi. Ia bisa mengatakan bahwa ia merindukannya hanya karena mereka tidak bertemu selama satu hari saat Yushi tidak masuk sekolah karena sakit, bisa mencarinya di kantin bahkan ketika teman-temannya sendiri sudah menunggu, dan bisa cemberut sepanjang sore hanya karena Yushi memilih duduk dengan orang lain. Namun ketika seseorang menggoda mereka terlalu jauh, mengatakan mereka seperti berpacaran, Riku selalu tertawa sambil mengatakan bahwa mereka hanya sahabat.

"Hanya sahabat."

Dua kata yang perlahan-lahan mulai terasa seperti sesuatu yang menyakitkan bagi Yushi.

---

Yushi tahu bahwa ia menyukai Riku jauh sebelum ia berani mengakuinya kepada dirinya sendiri. Mungkin sejak pertama kali ia menyadari bahwa perhatian Riku memiliki arti yang berbeda ketika datang kepadanya. Mungkin sejak ia mulai merasa jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali Riku tersenyum hanya karena melihatnya. Atau mungkin jauh sebelum itu... pada masa ketika perasaan tersebut belum memiliki nama dan Yushi masih menganggapnya sebagai rasa nyaman yang terlalu besar kepada seorang sahabat.

Sahabat?Histórias para pegar e não largar. Descubra agora