Langit Bangkok malam itu kelabu, seolah ikut berduka dengan kepergian salah satu konglomerat paling berpengaruh di Thailand. Upacara pemakaman telah usai tiga hari lalu, namun suasana duka masih menyelimuti mansion megah keluarga Sangngern.
Joss Wa-yar Sangngern berdiri di hadapan meja panjang ruang kerja pribadinya. Jas mahal Armani hitam masih melekat di tubuh tegapnya, rambut hitam tersisir rapi ke belakang memperlihatkan rahang kokoh dan garis wajah maskulin yang sempurna. Matanya yang tajam kini menatap dingin pada sebuah amplop coklat di atas meja, surat wasiat terakhir ayahnya.
"Kau yakin ingin membacanya sekarang, Tuan?" suara berat Force, sekretaris pribadi dan satu-satunya teman dekatnya, memecah keheningan.
Joss tidak menjawab. Dengan gerakan kasar, ia merobek amplop itu dan mengeluarkan lembaran-lembaran kertas bersegel hukum. Matanya menyusuri setiap baris, rahangnya mengeras seiring semakin dalam ia membaca.
"Apa-apaan ini?!"
Tinju Joss menghantam meja mahoni hingga dokumen berhamburan. Wajah tampannya kini merah padam, urat leher menonjol karena amarah yang tak terkendali.
"Ayahku benar-benar gila! Menikahi orang asing hanya demi warisan?!"
Force memunguti dokumen yang berserakan. Ia sudah terbiasa dengan ledakan emosi Joss. Sejak kecil, anak tunggal keluarga Sangngern ini selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Kematian orang tua yang mendadak membuat sifat posesif dan egoisnya semakin menjadi.
"Tuan Joss, mungkin ada maksud baik dari mendiang Tuan Besar..."
"Maksud baik apanya?! Dia mengatur hidupku bahkan dari kubur!" Joss meraih dasi mahalnya, melonggarkannya dengan frustrasi. "Aku tidak butuh siapapun! Aku punya segalanya, uang, kekuasaan, perusahaan!"
"Tapi menurut hukum, Tuan hanya akan mewarisi 100% saham jika menikahi Khun Gawin Caskey dalam waktu 30 hari setelah pembacaan wasiat. Jika tidak..."
"Jika tidak, semua akan disumbangkan ke yayasan. Aku tahu!" potong Joss sarkastik. "Ayahku benar-benar menyusun skenario yang sempurna"
Ia berjalan ke jendela besar, menatap halaman mansion yang luas. Pikirannya berputar mencari celah. Tapi ia tahu, pengacara keluarga sudah memastikan semua legalitas. Tidak ada jalan keluar.
"Siapa dia?" tanya Joss akhirnya, suaranya datar.
"Gawin Caskey. Pemilik toko bunga sederhana di daerah Thonburi. Usia 25 tahun. Yatim piatu sejak remaja. Hidup sendiri"
Joss mendengus. "Pemilik toko bunga? Ayahku menjodohkanku dengan penjual bunga?"
"Dari informasi yang saya kumpulkan, Khun Gawin adalah anak dari sahabat lama Tuan Besar. Mereka berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka sejak kecil"
"Bodoh! Semua ini bodoh!" Joss berbalik, matanya menyala. "Baiklah. Akan kumainkan permainan ini. Tapi dia akan menyesal pernah menerima perjodohan ini"
YOU ARE READING
The Bride He Never Chose (JossGawin)
RomanceSebelum meninggal, ayah Joss meninggalkan sebuah wasiat. Jika Joss ingin mewarisi seluruh perusahaan keluarga, Joss harus menikahi seseorang yang telah dipilih keluarganya. Orang itu adalah Gawin Caskey. Joss marah karena merasa hidupnya tetap diatu...
