Bab I - Sofia

16 6 0
                                        

Sofia tidak pernah menyukai pagi.

Bukan karena ia membenci matahari atau suara ibu nya yang sudah menggelegar di seluruh penjuru rumah untuk membangunkannya.

Ia hanya merasa bahwa pagi selalu datang terlalu cepat, bahkan ketika ia belum siap menghadapi hari yang baru.

Alarm berwarna pink di samping tempat tidurnya berbunyi untuk ketiga kalinya.
Sofia meraba-raba meja, mencari ponselnya dengan mata yang masih setengah terpejam.
06.30.
"Ah Lima menit lagi."

Kalimat yang sama selalu ia ucapkan setiap pagi. Dan seperti biasa, lima menit itu berubah menjadi tiga puluh menit.

Sofia akhirnya bangun dengan rambut berantakan dan wajah yang masih menyisakan kantuk. Ia berjalan menuju jendela, membuka tirai, lalu membiarkan cahaya matahari masuk ke kamarnya.

Dari kamar yang berada di lantai dua, ia bisa melihat aktivitas para tetangganya. Tukang donat yang sudah mulai memikul dagangannya, bahkan tukang bubur yang sudah dikerubungi pembeli yang ingin segera mengisi perut laparnya. Ada juga anak kecil yang menangis sambil berlari dikejar ibunya karena tidak mau mandi.

Sofia menyukai pemandangan itu.

Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat kehidupan orang lain berjalan seperti biasa.
Mungkin karena hidupnya sendiri terasa terlalu monoton.

Sofia adalah tipe orang yang tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih nyaman duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan orang-orang daripada menjadi seseorang yang diperhatikan.

Teman-temannya sering mengatakan bahwa Sofia terlalu banyak berpikir.

Mungkin mereka benar, karena ia sering memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.

Perubahan ekspresi seseorang. Nada suara yang sedikit berbeda. Tatapan yang terlalu lama. Ah, rasanya sangat membingungkan.

Sofia selalu percaya bahwa ada alasan di balik setiap perubahan.

Hanya saja, ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti kebiasaan itu akan membuatnya mempertanyakan hidupnya sendiri.

Pagi itu berjalan seperti biasa.
Sofia pergi bekerja, membeli kopi sebelum masuk kantor, kemudian menghabiskan sebagian besar waktunya di depan laptop.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada kejadian aneh. Tidak ada sesuatu yang seharusnya membuatnya mengingat hari itu.

Sampai menjelang sore, Sofia masih sibuk merapikan barang-barangnya sebelum bergegas pulang. Ia memasukkan laptop ke dalam tas, memeriksa kembali meja kerjanya, lalu menghela napas lega ketika semuanya sudah tersusun rapi.

Ia baru saja berdiri ketika..

"Dorrr!" teriak seseorang dari belakang sambil menepuk keras bahu nya

"ASTAGA!" Sofia refleks berbalik dan hampir menjatuhkan ponselnya.

Di belakangnya, Gadis berdiri sambil menahan tawa.

"Ya ampun, Sof! Muka kamu!"

Sofia menatap sahabatnya dengan kesal.
"Gadis! Gila, ya? Jantung gua hampir copot!"

Gadis langsung tertawa. "Hahaha, harusnya kamu lihat ekspresimu tadi."

"Kalau gua sampai pingsan, lu yang tanggung jawab." Ucap sofia dengan memutar bola matanya

"Lebay banget. Baru dikagetin begitu doang."

Sofia mendengus sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Terus ngapain kamu masih di sini? Bukannya tadi bilang mau pulang duluan?"

"Nah, itu." Gadis menyandarkan tubuhnya ke meja Sofia sambil tersenyum seperti anak sekolah dasar yang ingin dibelikan eskrim. "Aku mau ngajak kamu ngopi hehe."

Sofia menatapnya heran.
"Sekarang?"

"Iya, sekarang."

"Gua mau pulang."

"Pulang terus mau ngapain?"

"Tidur."

Gadis menggeleng sambil terkekeh. "Hidup kamu membosankan banget, Sof."

"Setidaknya hidupku tenang."

"Justru itu masalahnya. Kamu terlalu tenang."

Sofia mengangkat alis. "Terus maunya aku gimana?"

"Ngopi. Cerita-cerita. Aku juga mau ngomong sesuatu."

Sofia terdiam sejenak.
"Penting?"

Gadis mengangkat bahu. "Lumayan."

"Kalau nggak penting?"

"Aku traktir."

Sofia langsung menatapnya.
"Di mana?"

Gadis tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Dari tadi juga aku tahu kamu nggak akan nolak kalau urusannya ditraktir."

"Bukan nggak mau nolak. Aku cuma menghargai orang yang mau traktir aja, kan niatmu baik. Masa aku menolak niat baik, jahat lah aku kalau begitu"

"Alasan." Ucap gadis sambil memalingkan mukanya

Sofia akhirnya tertawa kecil.
"Yaudah. Tapi cuma sebentar."

"Siap, Bu Sofia."

"Dan jangan pilih tempat yang ramai."

"Tenang. Aku tahu tempat yang cocok."

Sofia mengambil tasnya dan mengikuti Gadis keluar dari ruangan.

Sore itu seharusnya hanya menjadi sore biasa.

Dua sahabat, secangkir kopi, dan percakapan ringan sebelum pulang untuk melepas penat selepas berkutat dengan laptop silver nya itu.

Setidaknya, begitulah yang Sofia pikirkan.

Velvet LiesStories to obsess over. Discover now