"Aku yakin ada sesuatu."
Nanfah menutup buku yang sebenarnya belum ia baca sama sekali. Matanya justru sibuk memperhatikan dua orang laki-laki di depan kelas yang sedang bercanda.
Yang satu tertawa sambil menepuk bahu temannya.
Yang satunya lagi malah membalas dengan merapikan rambut temannya yang berantakan.
Bagi murid lain, itu cuma interaksi biasa.
Bagi Nanfah?
"Fix. Ini mah bahan satu minggu."
Sebagai seorang fujoshi, otaknya memang punya kemampuan luar biasa untuk membuat alur cerita dari hal-hal yang bahkan tidak dipikirkan orang lain. Dua cowok saling tatap lima detik? Ada chemistry. Duduk berdua? Slow burn. Pinjam pulpen? Wah, ini pasti ada perkembangan hubungan.
Untung semua itu cuma ada di kepalanya.
Kalau sampai diucapkan keras-keras, mungkin teman-teman sekelasnya bakal geleng kepala.
"Nan."
Seseorang menepuk pelan mejanya.
Ken.
"Ngelamun lagi?"
"Hehe... dikit."
Ken menghela napas kecil sambil tersenyum. Sebagai ketua kelas XI-3, ia memang sudah terbiasa mengingatkan teman-temannya, termasuk Nanfah.
Hubungan mereka cukup dekat.
Dulu mereka sama-sama ikut ekstrakurikuler marching band. Meski sekarang ekskul itu sudah ditiadakan, mereka masih sering saling menyapa dan mengobrol. Tahun sebelumnya mereka juga sekelas, dan saat naik ke kelas XI ternyata dipertemukan lagi.
Bahkan sekarang Ken menjadi ketua kelas.
Orangnya ramah, mudah akrab dengan siapa saja, dan sering membantu teman-temannya.
Belakangan ini, Nanfah juga sadar kalau Ken sedang menyukai teman sebangkunya.
Cara Ken sesekali melirik ke arah bangkunya terlalu mudah ditebak.
"Cie... ketahuan."
Nanfah hanya menahan senyum sendiri.
Namun, ada satu orang yang membuat pikirannya jauh lebih sibuk.
Sea.
Cowok yang duduk tidak jauh dari bangku mereka.
Nanfah sebenarnya tidak terlalu dekat dengannya. Entah kenapa, setiap kali Sea menatap orang, wajahnya selalu terlihat datar sampai-sampai Nanfah merasa sedang di-judge.
Padahal mungkin memang ekspresi wajahnya seperti itu.
Yang lebih aneh lagi, Sea sering melakukan hal-hal yang menurut Nanfah... terlalu mencurigakan.
Ia tidak segan merangkul pundak teman cowoknya.
Kadang iseng mencubit pipi mereka.
Sesekali memberi "kiss bye" sambil tertawa kalau ada temannya yang pulang lebih dulu.
Dan yang paling sering menjadi sasaran semua tingkah aneh itu...
Ken.
Ken juga tidak pernah terlihat risih. Malah sering membalas candaan Sea, tertawa bersama, atau tanpa sadar berdiri terlalu dekat saat mereka mengobrol.
Nanfah yang melihat dari kejauhan langsung memegang kepalanya.
"Oke... tenang, Nan."
"Mungkin mereka emang sahabatan."
Hening.
"Tapi... kok cocok banget, ya?"
Sejak hari itu, muncul satu misi baru dalam hidup Nanfah.
Bukan untuk ikut campur.
Bukan juga untuk menjodohkan siapa pun.
Melainkan mencari tahu...
Apakah semua yang ia lihat memang hanya persahabatan biasa...
...atau imajinasinya yang sekali lagi sedang bekerja terlalu keras.
YOU ARE READING
FUJO
RomanceBagi orang lain, Ken dan Sea mungkin cuma dua sahabat yang terlalu sering bercanda. Tapi bagi Nanfah, seorang fujoshi dengan imajinasi yang kelewat aktif, setiap interaksi mereka terasa seperti potongan cerita yang belum selesai. Saling merangkul? B...
