Tiga menit sebelum jarum jam menunjukkan tepat pukul dua belas siang, dari sebuah gerbong kereta paling belakang yang baru saja berhenti, muncul sesosok pria yang turun paling akhir dari gerbong tersebut.
Pria itu keluar dengan langkah lunglai lemas sembari satu tangannya yang tengah menggandeng sebuah koper dan sebuah tas carrier besar yang menggantung dibahunya.
Wajahnya yang sebagian tertutup oleh helai rambut panjangnya tampak mengukirkan sisa-sisa kantuk disana.
Total waktu tidur yang bisa ia dapatkan selama perjalanan kereta tersebut hanya sekitar setengah jam saja.
Dan total waktu itupun hanya bisa ia dapatkan ketika sebuah rombongan ibu-ibu sosialita yang membawa anak-anak mereka akhirnya turun di sekitar urutan ke-empat dari pemberhentian terakhir sebelum kereta tersebut membawanya ke Kota Bunga saat ini.
Baru beberapa langkah kakinya menjauh dari gerbong kereta, sebuah getaran yang berasal dari saku celananya segera membuatnya sedikit menepi dari arus kedatangan.
Dipinggiran arus manusia yang juga baru saja turun bersamanya itu, pemuda itu segera merogoh saku celananya dengan satu tangannya yang menganggur.
Begitu ponselnya berhasil ia raih, matanya langsung menangkap satu nama yang tercantum dalam panggilan masuk. Tanpa membuang waktu, ibu jarinya langsung menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan yang berasal dari atasannya itu.
"Halo?" sapa pemuda itu setelah ponsel ia tempelkan ke daun telinganya.
"Halo, Nan," sapa balik dari seberang panggilan. "Udah sampe mana?" lanjutnya bertanya.
"Ini baru turun, Ko. Kenapa?"
"Yaudah, kamu langsung ke pick-up zone aja. Biar saya pesenin taksol buat ke kosan saya."
"Oh, oke." jawab pemuda tersebut sambil mengangguk pelan. "Makasih, Ko." lanjutnya.
Diujung kata tersebut, panggilan suara itupun diputus oleh lawan bicaranya.
Tanpa menunggu lama, pemuda itu kembali melangkah ke tempat yang akan menjadi titik dirinya dijemput oleh taksi yang dipesankan oleh atasannya tadi.
Pemuda itu bernama Arnanda Ibral, atau yang kerap dipanggil dengan nama Nanda.
Ini bukan kali pertamanya bagi Nanda menginjakkan kakinya di Kota Bunga ini. Ia sudah sering mampir ke kota ini, namun dengan tujuan yang berbeda dari sebelumnya.
Ia sering datang ke kota ini karena satu tujuan, yakni destinasi gunung yang ditawarkan oleh kota yang terkenal dengan hawa sejuknya ini.
Namun untuk hari ini dan seterusnya, tujuannya berada di kota ini adalah bekerja.
Tepat sekitar sebulan yang lalu, kala tempat kerja Nanda didatangi oleh owner mereka, Nanda sempat diajak berbincang empat mata dengan sang owner.
Di ruang karyawan yang sepi, atasannya tersebut menawarkan sebuah kesempatan perpindahannya ke kota yang kini ia jajaki.
Mendapatkan kesempatan tersebut, Nanda tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran dari atasannya itu.
Meskipun begitu, sang owner tempatnya bekerja juga memberikan sebuah tanggung jawab baru bagi Nanda.
Di kota ini, ia akan merampel dua jabatan sekaligus; jabatan sebagai head bar dan head kitchen disalah satu kafenya di kota ini.
Namun atasannya tersebut juga memberitahukannya bahwa dua jabatan itu tidak akan seterusnya di pegang oleh Nanda karena ia juga sedang mencari sosok yang cocok untuk menjadi head kitchen.
