"Aku bertaruh kau akan pergi ke Cafe itu lagi, sayang sekali aku bukan maniak kopi sepertimu". A-na mendengus, terlihat jengah ajakannya sekali lagi ku tolak. Entah berapa ribu kali ajakan pergi bersenang-senang bersama-sama sehabis jam kerja selalu ku tolak mentah-mentah. "Ya! Apa kau tidak pernah bosan merusak tubuhmu dengan kafein yang terlalu sering kau minum itu?". Yup, alasannya karena aku ini begitu menyukai kopi, paling tidak itulah hal yang selalu ku ucapkan untuk menjadi penghalang agar A-na tidak terus bersikeras.
"Kau tidak akan mengerti.. Kafein yang meracuniku berbeda dengan kafein yang selalu kau rasakan di tenggorakanmu". Aku tertawa usil dan menyambar tas di meja kerjaku lalu keluar dari pintu kantor ku. Kafein terdengar sempurna jika aku membayangkan wajah wanita favorit ku.
Setelah beberapa lama aku menyetir, aku memarkirkan mobilku di salah satu tempat parkir kosong,
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
mematikan mesin mobil dan sedikit mengecek riasan di wajahku lalu menatap sesaat bangunan di depanku. Café Dajeong.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
nama bangunan itu tercetak sederhana pada pintu kaca yang terlihat sangat tidak asing untuk orang-orang yang hanya mencari tempat persinggahan tanpa tahu betapa menariknya Cafe ini. Senyum tanpa sadar mengembang di bibirku, hanya karena mengingat siapa wanita yang akan tiba sebentar lagi untuk ikut menghabiskan malam di Cafe ini. Suara bel berbunyi menarik perhatian saat aku membuka pintu dan segera bau kuat dari kopi nikmat yang baru saja di sedu bertemu hidungku. Menghirupnya dalam-dalam, menutup mataku. Hmm.. Terasa seperti di rumah, begitu hangat dan nyaman.
"Selamat datang". Suara riang menyambutku, dengan senyum yang sama, wanita itu tampak telah mengenali wajahku. Bahkan beberapa pelanggan juga saling menukar senyum terhadapku.
Tempat ini tak semewah tempat lain yang berada di sekitar daerah Itewon. Hanya Cafe sederhana dengan hal-hal klise di dalamnya. Lampu dalam ruangan sengaja di buat remang, tapi tetap dengan pencahayaan yang memungkinkan untuk bisa melihat seluruh isi Cafe. Dinding yang di hias dengan kalimat yang memuja kopi serta kalimat yang paling menggelikan tentang betapa kopi lebih berharga di banding pacar cantik yang tidak menyukai kafein. Juga ada cahaya lilin yang berkedap-kedip di beberapa meja kayu yang tersebar di seluruh ruangan, hal itu membuatku sadar jika Cafe malam ini terlihat sepi seperti dua hari sebelumnya.
Pandangan ku tertuju pada wanita yang sedang berdiri di belakang meja kasir. Aku mendekat beberapa langkah hingga meja dari kayu menyentuh ujung sepatu boots ku. "Hey, bisakah kau membawakan ku secangkir espresso dan macaron?". Mataku mencari meja yang selalu kutempati dan tersenyum kecil melihat bayangan diriku beberapa bulan terakhir yang tidak pernah bosan duduk disana. "Dimeja biasa" ucapku. Wanita itu mengangguk, mengulas senyum tulus untuk ku. "Baiklah, mohon ditunggu". Setelah itu dia menghilang di belakang dapur pastry menyiapkan secangkir kopi pahit yang bagiku terasa manis sejak dua bulan ini.
Bersandar di bantalan sofa favoritku, aku menunduk melihat jam tanganku. Udara dingin Cafe rasanya seperti menggelitik pipi ku yang mulai memanas saat tahu wanita itu akan datang. Sudah waktunya.