The Devil's Island

224 30 2
                                        

Dia memburu iblis.

Tapi iblis itu selalu selangkah lebih dulu—bukan karena dia lebih cepat, tapi karena dia tahu semua gerak-gerik Jaxen. Karena dulu, mereka berbagi tempat tidur yang sama. Karena dulu, Miguel hafal setiap desahan Jaxen saat tertidur. Karena dulu, Jaxen memanggil namanya bukan dengan teriakan, tapi dengan bisikan di tengah malam.

Jaxen adalah polisi. Miguel adalah buronan. Tapi garis di antara mereka tidak pernah benar-benar putus—hanya kabur, seperti tinta yang luntur kena hujan. Seperti janji pernikahan yang tidak pernah benar-benar dibatalkan.

Membawanya ke pulau pribadi. Mengurungnya di vila mewah dengan 50 CCTV yang mengawasi setiap langkahnya. Memberinya makanan favorit. Menyiapkan baju di kamar mandi. Memeluknya saat tidur.

Seperti suami yang baik.

Seperti orang gila.

"Kalau kamu benci aku, kenapa masih di sini?"
"GUA DIKURUNG, ANJING! OLEH LO!"
"Kamu bisa pergi kapan saja. Kamu tahu itu."
"—MAKANYA GUA BINGUNG, BANGSAT!"
Lalu Miguel menculiknya.

"Kamu pikir aku pasang CCTV buat mengawasi kamu? Bukan, sayang. Aku pasang supaya aku nggak ketinggalan satu ekspresi pun dari wajah cantikmu. Bahkan saat kamu marah."
"LO GILA, MIGUEL! BENER-BENER GILA!"
"Aku gila karena kamu, Jax. Dan aku nggak mau sembuh."

Jaxen benci. Jaxen teriak. Jaxen memukul dan mendorong dan mengutuk nama Miguel sampai suaranya serak.

Tapi cincin kawin itu masih di jari manisnya.

"CINCIN INI? GUA LUPA LEPAS! ITU BUKAN ARTINYA APA-APA!"
"Kamu nggak pernah lupa, sayang. Kamu cuma belum siap mengakui."
"-DIAM LO! DIEM!"

Dan setiap kali Miguel memeluknya, jantung Jaxen berdetak terlalu cepat-bukan karena takut.

"Aku kangen pelukanmu, Jax."
"LEPASIN GUA!"
"Kamu benci aku, kan? Tapi kenapa kamu nggak cabut cincin itu?"
"-KARENA-KARENA-"
"Karena kamu masih sayang."

Jaxen tidak bisa menjawab. Karena Miguel benar. Dan itu yang paling dibenci oleh Jaxen.

"Aku nggak butuh obat untuk bikin kamu bergairah, sayang. Cukup satu sentuhan, satu bisikan-kamu udah leleh."
"PERGI LO! PERGI!"
"Aku nggak akan pergi. Aku nggak akan pernah lepas. Bahkan kalau kamu tembak aku. Bahkan kalau kamu bunuh aku. Aku akan kembali. Seperti hantu."

Jaxen benci. Jaxen teriak. Jaxen marah.

Tapi dia tidak pergi.

Tidak benar-benar.

"Kalo lo bener-bener sayang sama gua, LO BEBASIN GUA! TAPI LO GAK BAKAL, KAN? KARENA LO EGOIS!"
"Aku egois karena aku takut kehilangan kamu, Jax. Dan aku udah kehilanganmu sekali. Aku nggak sanggup kehilanganmu dua kali."
"-GUA BUKAN BARANG LO YANG BISA DISIMPEN!"
"Kamu bukan barang. Kamu rumahku. Dan aku nggak bisa pulang kalau kamu nggak ada."

Karena mungkin-hanya mungkin-Jaxen tidak ingin pergi.

"Lo pikir gua masih cinta? LO PIKIR GUA MASIH-"
"Aku tahu kamu masih cinta, Jax. Aku tahu."
"-GUA BENCI LO! GUA BENCI BANGET!"
"Kamu benci aku? Bagus. Aku suka lihat kamu marah. Matamu menyala. Pipimu memerah. Dan kamu tetap pakai cincin kita."

Dan Miguel tahu itu.

Miguel selalu tahu.

"Lari terus, sayang. Aku suka lihat kamu berlari. Soalnya ujungnya-kamu selalu balik."
"GUA TIDAK PERGI BUKAN KARENA GUA MAU DI SINI! GUA PERGI KARENA-KARENA-"
"Karena kamu belum siap mengaku."

Jaxen diam. Air mata jatuh. Dan Miguel masih tersenyum di balik CCTV-

-menatap pria yang masih memakai cincinnya.

Dan menunggu.

Karena iblis tidak pernah terburu-buru.

Iblis tahu mangsanya akan kembali.

Selalu.

Dan Jaxen tahu itu.

Tapi dia tidak bisa berhenti.

Karena benci dan cinta kadang berbatas kabur-

Seperti tinta yang luntur kena hujan.

Seperti cincin yang tidak pernah lepas dari jari manisnya.

#see you at the first chapter my loves

MY BEAUTIFUL MISTAKES Stories to obsess over. Discover now