Sore menjelang malam, Pooh baru saja kembali dari bekerja. Rumah tampak gelap dan sunyi, menandakan bahwa sang kekasih belum pulang. Ia memutuskan naik ke kamar untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya sebelum kembali turun ke dapur untuk memasak makan malam.
Tak lama setelah fokus pada masakannya, suara pintu rumah terdengar dari arah depan.
Pooh mendongak. Dapur yang menghadap langsung ke ruang depan membuatnya dapat melihat siapa yang baru saja masuk.
Pavel.
Kekasihnya baru saja pulang.
Senyum kecil terbit di wajah Pooh. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu mengambil segelas air yang sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu disiapkan setiap kali Pavel pulang.
Pavel melangkah menuju dapur dan berhenti tepat di hadapan Pooh. Tangannya meraih gelas yang disodorkan kekasihnya, lalu meneguknya perlahan.
Senyum tipis muncul di wajah Pavel sebagai ucapan terima kasih yang tak perlu diutarakan dengan kata-kata.
Pooh hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.
"Tumben pulangnya agak lambat," kata Pooh sambil kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Tadi ada kerjaan tambahan."
Pooh hanya mengangguk. Sebenarnya ia masih ingin membuka percakapan, tetapi pertanyaan Pavel lebih dulu memotong niatnya.
"Masak apa malam ini?"
"Spaghetti." Pooh menjawab sebelum kembali menatap kekasihnya. "Kamu ada request sesuatu?"
Pavel menggeleng. "Itu aja."
Pooh kembali mengangguk. Tangannya kemudian melewati pembatas dapur untuk mengusap kepala Pavel dengan lembut.
"Mandi, gih. Kalau udah selesai, nanti aku panggil."
Pavel hanya mengangguk, lalu berbalik dan naik ke kamar mereka untuk membersihkan diri.
Setelah Pavel selesai membersihkan diri dan mereka menyantap makan malam, keduanya duduk bersama di ruang tamu. Bagi Pooh, duduk berdua seperti ini mungkin merupakan salah satu rutinitas yang ia sukai. Namun, sepertinya tidak demikian bagi Pavel.
Pooh bercerita tentang hari-harinya di kantor, tentang pekerjaan yang melelahkan hingga orang-orang yang ia temui sepanjang hari. Pavel sesekali menanggapi, tetapi sebagian besar perhatiannya tetap tertuju pada televisi di hadapannya.
Setelah ceritanya selesai, Pooh menoleh kepada sang kekasih.
"Bagaimana harinya?" tanyanya seperti biasa, sementara jemarinya masih setia mengusap lembut rambut Pavel.
"Biasa saja," jawab Pavel tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
Pooh terdiam sejenak. "Ada yang mau diceritain, sayang? Kenapa hari ini lebih murung?"
" Tidak ada, Pooh." Kali ini Pavel menoleh, menatap pria di sampingnya. "Udah, jangan berisik. Aku gapapa."
Pooh menghela napas pelan.
Selalu seperti ini.
Namun, jemarinya tetap berada di kepala Pavel, mengusap rambutnya dengan lembut seolah ucapan itu cukup untuk meyakinkannya.
Mungkin memang seperti inilah cara Pavel mencintainya, pikir Pooh. Mungkin tidak semua orang menunjukkan kasih sayang dengan cara yang sama.
Malam itu kembali ditutup dengan diamnya Pavel dan ketertutupan yang perlahan-lahan mulai menjadi jarak di antara mereka.
YOU ARE READING
One-shot PoohPavel
FanfictionDifferent stories. Different worlds. The same two hearts. Kumpulan one-shot yang menceritakan Pooh dan Pavel dalam berbagai kisah dan kemungkinan. Mereka bisa menjadi apa saja, menjalani apa saja, dan mencintai dengan cara yang berbeda di setiap cer...
