Bagian 1 Rahasia di Balik Kediaman Megah

22 4 0
                                        

agi di kota Beijing menyapa dengan hamparan langit biru yang amat bersih. Sinar matahari terbit menyusup secara perlahan di antara pilar-pilar granit tinggi yang menopang kediaman megah klan Zhang. Terletak di kawasan paling eksklusif dan terisolasi dari hiruk-pikuk pusat kota, mansion berarsitektur neoklasik itu berdiri megah sebagai simbol kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh klan Zhang yang menguasai Zhang Corporation—sebuah konglomerasi raksasa dengan jaringan bisnis properti, perhotelan, hingga teknologi terdepan di Asia. Pekarangan seluas puluhan hektar yang membentang di sekitar mansion dikelilingi oleh benteng batu alam yang kokoh, dihiasi oleh taman-taman bergaya klasik Eropa serta kolam-kolam teratai bening yang dikelola secara sempurna oleh belasan pelayan pribadi.

Namun, di antara seluruh kemewahan yang dingin dan kaku itu, ada satu sudut yang selalu memancarkan kehangatan tiada tara. Tepat di pelataran barat mansion, sebuah pohon magnolia raksasa yang telah berusia ratusan tahun berdiri megah. Batang kayunya yang tebal dan daun-daun hijaunya yang rimbun menjadi peneduh alami bagi seorang pemuda yang sedang duduk santai di atas bangku taman berukir emas.

Zhang Hailou, putra bungsu klan Zhang yang berusia dua puluh satu tahun, menyunggingkan senyuman paling manis yang ia miliki. Sepasang lesung pipit tipis mengembang manis di kedua pipi tirusnya, memancarkan pesona kepribadian yang begitu ceria, polos, dan penuh kehangatan. Mengenakan sweter rajut berwarna putih gading dan celana kasual yang nyaman, Hailou memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mendengarkan sebuah lelucon lucu dari sosok yang sangat dekat dengannya.

"Aiyo, Kakek Zhang, jangan terus-menerus mengeluh soal angin pagi," tutur Hailou dengan nada suara yang halus, renyah, dan sarat akan keceriaan. Tangannya yang mungil melambung pelan di udara, membuat gerakan menepis yang sangat menggemaskan. "Angin musim gugur ini justru sangat menyegarkan! Lagipula, bunga-bunga di ranting atasmu ini bermekaran dengan sangat indah hari ini. Kau harus bangga!"

Hailou tertawa kecil, suara tawa yang bagaikan dentang lonceng perak itu mengalun merdu membelah keheningan taman. Ia lalu mengangguk-angguk seolah menanggapi tanggapan balik dari udara kosong di hadapannya, jemarinya bergerak menunjuk ke arah kolam teratai dengan tatapan mata hitamnya yang selalu berbinar jernih.

Di balik jendela kaca setinggi tiga meter yang membatasi ruang makan keluarga di lantai dasar mansion, tiga pasang mata sedang memperhatikan gerak-gerik Hailou dengan tatapan yang dipenuhi kasih sayang murni.

Zhang Wenshan, pimpinan tertinggi klan Zhang sekaligus Chairman Zhang Corporation yang dikenal sangat dingin, tegas, dan tak tersentuh di dunia bisnis internasional, kini duduk mengapit cangkir porselen berisi kopi hitamnya. Wajahnya yang biasa kaku dan penuh wibawa melunak drastis tatkala sepasang matanya menatap sosok putra bungsunya di luar sana.

Di sampingnya, Zhang Haiqi—wanita anggun berbalut gaun sutra krem yang senantiasa memancarkan kehangatan seorang ibu—menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menyunggingkan senyuman penuh haru. Sementara itu, di sisi meja lainnya, Zhang Haixia—putra sulung klan Zhang sekaligus CEO muda yang menjadi calon tunggal penerus takhta Zhang Corp—memperbaiki posisi jas abu-abu mewahnya sebelum ikut menatap lurus ke arah adik kesayangannya.

"Lihatlah adikmu itu, Haixia..." bisik Haiqi lembut seraya mengusap sudut matanya yang menggenang hangat. "Ibu selalu merasa heran sekaligus tersentuh setiap kali melihat Hailou di taman. Sejak usianya masih lima tahun, kebiasaan imajinatifnya itu tidak pernah memudar sedikit pun. Ia selalu bisa menemukan cara untuk tersenyum dan berbicara dengan 'teman-teman halusinasi' atau pohon tua itu."

Wenshan menyunggingkan senyuman tipis, sebuah gestur langka yang hanya bisa dipancing oleh anak bungsunya. "Anak itu memiliki imajinasi dan ketulusan jiwa yang teramat langka di zaman sekarang. Di saat dunia luar dipenuhi oleh ambisi, perebutan kekuasaan, dan tipu daya, Hailou tumbuh menjadi oase yang paling murni di dalam keluarga kita. Imajinasi kecilnya yang polos itulah yang membuat rumah ini terasa memiliki nyawa."

Haixia terkekeh pelan, sepasang mata tajamnya yang biasa mengimidasi para perwira bisnis kini memancarkan pendar perlindungan yang teramat protektif. Ia berdiri dari kursi mahoninya, merapikan jam tangan bermerek yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Imajinasi masa kecilnya memang selalu menggemaskan, Ibu, Ayah," sahut Haixia dengan suara beratnya yang penuh kehangatan. "Sejak dulu, Hailou selalu bilang kalau pohon magnolia itu dihuni oleh seorang 'kakek tua berjangkut putih' yang suka mengeluh soal cuaca. Meskipun kedengarannya seperti cerita dongeng anak-anak, selama kebiasaan itu membuatnya bahagia dan tetap tersenyum ceria, saya akan memastikan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mengganggu atau mengusik kedamaian adikku."

Namun, apa yang dianggap oleh keluarga Zhang sebagai "imajinasi polos masa kecil" atau "fase fantasi anak-anak" sesungguhnya adalah sebuah kenyataan tak terjangkau yang melintasi batas dua dunia.

Di luar sana, di bawah naungan pohon magnolia, Hailou sesungguhnya sama sekali tidak sedang berkhayal atau berbicara pada udara kosong. Tepat di hadapannya, berdiri sesosok entitas spiritual—seorang pangeran/sesepuh kuno dari abad lampau berwujud pendar transparan dengan janggut putih panjang dan pakaian sutra tradisional yang melayang halus. Sosok roh tua itu adalah penunggu setia tanah tersebut yang telah menemani Hailou sejak pemuda itu pertama kali membuka matanya di dunia.

Bagi Hailou, kemampuan indra keenam (mediumship) yang dimilikinya sejak lahir bukanlah sebuah kutukan yang menakutkan, melainkan sebuah amanah murni. Sejak kecil, ia telah terbiasa melihat, mendengar, dan berinteraksi dengan wujud-wujud spiritual yang tak kasat mata bagi manusia biasa. Alih-alih merasa takut atau histeris, kepribadian Hailou yang teramat lembut dan empati justru membuatnya memperlakukan jiwa-jiwa tak kasat mata itu dengan penuh rasa hormat, kehangatan, dan kesopanan. Bagi Hailou, mereka hanyalah manusia yang telah kehilangan tubuh fana dan membutuhkan pendengar yang jujur atas kisah-kisah mereka yang tertinggal.

"Hailou sayang! Sarapanmu sudah siap, Nak!" suara lembut Haiqi mengalun dari arah pintu teras kaca yang terbuka pelan.

Hailou menoleh, menyunggingkan senyuman lebar yang memamerkan lesung pipit manisnya ke arah sang ibu dan kakak sulungnya yang berjalan mendekat. Dengan penuh kesopanan, Hailou mengangguk pelan ke arah roh kakek tua di hadapannya.

"Kakek Zhang, aku sarapan dulu ya. Nanti sore aku akan membawakanmu wewangian bunga gandum yang baru," bisik Hailou sangat halus pada sang roh.

Sosok roh kakek tua itu tersenyum teduh, mengelus kepala Hailou dengan jemari transparannya yang memberikan sensasi dingin berdesir lembut di kulit Hailou, sebelum akhirnya memudar perlahan menyatu dengan batang pohon.

Hailou berdiri dari bangku taman, merapikan sweter putihnya, lalu berlari-lari kecil menghampiri Haixia yang sudah merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu, Hailou menghambur ke dalam pelukan hangat kakak sulungnya, menyandarkan kepalanya di dada tegap Haixia dengan tawa renyah yang amat menggebu.

"Gege!" seru Hailou manja. "Pagi ini Gege terlihat sangat tampan! Apakah Gege akan menghadiri rapat penting di kantor pusat?"

Haixia mengusap rambut hitam adiknya dengan penuh kasih sayang, mengecup kening Hailou secara alami sebagaimana rutinitas harian mereka. "Terima kasih atas pujiannya, pangeran kecil Gege. Ya, Gege ada rapat direksi pagi ini. Tapi Gege berjanji akan pulang sebelum makan malam untuk membawakanmu kue pastel krispi kesukaanmu."

"Benarkah? Terima kasih, Haixia Gege!" seru Hailou gembira, matanya berbinar-binar penuh antusiasme.

Di balik binar matanya yang begitu ceria dan senyumannya yang menghangatkan suasana mansion, Hailou menyembunyikan rapat-rapat sebuah rahasia besar yang teramat rapat dari jangkauan keluarganya. Hari ini, setelah sarapan keluarga selesai dan Haixia serta Ayahnya berangkat ke kantor Zhang Corp, Hailou memiliki sebuah janji penting yang tak diketahui oleh siapa pun di rumah ini—sebuah "tugas rahasia" di luar batas kediaman megah klan Zhang, tempat di mana kemampuannya sebagai penuntun jiwa akan kembali diuji oleh kegelapan dunia nyata.

Sang Konsultan & Pelindung JiwaStories to obsess over. Discover now